Siti Fadilah saat ditemui di Jakarta, Kamis (3/11) mengaku, khawatir menguatnya kemungkinan virus avian influenza subtipe H5N1 pada keluarga Ina berpotensi pandemik (meluas) karena menular dari manusia ke manusia. Jika indikasi itu benar, maka kasus Ina Solati adalah kasus kelima terjadi di Indonesia .
Kendati Menteri Kesehatan sudah melontarkan kecurigaannya, sayangnya, pihak RPSI terkesan santai. Standar perawatan ruangan isolasi pasien flu burung terlihat tidak diterapkan pada Indah, Ilham, dan Bintang.
Advertisement
Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan peringatan tentang pandemik influenza. Sejauh ini, flu burung alias avian influenza telah merenggut lebih dari 60 jiwa di dunia. Kekhawatiran timbul pandemik global jika virus flu burung itu bermutasi menjadi virus yang dapat ditularkan oleh manusia. Sebelumnya, avian influenza hanya menyerang unggas atau kadang-kadang spesies lain, termasuk babi dan manusia.
Sekadar informasi, pandemi flu terjadi berulang-ulang. Di dunia sudah tiga kali terjadi wabah tersebut. Pertama wabah flu Spanyol pada tahun 1918, kemudian flu Asia sekitar 1957, dan terakhir flu Hongkong pada tahun (1968).
Yang perlu diwaspadai, pandemi flu terjadi semudah flu biasa, yaitu melalui batuk-batuk dan bersin. WHO memandang dunia boleh jadi, kini berada di ambang pandemi baru. Pasalnya, flu burung menular cepat di sejumlah negara Asia, antara lain Hongkong, Kamboja, Indonesia, Thailand, dan Vietnam.
Jika tidak segera diberantas semua negara bisa terserang karena waktu penyebaran virus sangat singkat: hanya tiga bulan. Sementara pada kasus-kasus terdahulu lamanya penyebaran bisa enam sampai sembilan bulan.
Penyakit akhir-akhir ini mudah meluas karena kekebalan manusia menurun, keterbatasan tenaga medis, fasilitas dan perlengkapan untuk menangani wabah. Kondisi terburuk dipastikan akan dialami negara-negara berkembang mengingat untuk mendapat fasilitas kesehatan memadai butuh uang banyak.
Untuk mencegahnya perlu dipelajari faktor-faktor penyebab orang meninggal dengan cepat akibat pandemi itu. Pertama, jumlah orang yang terinfeksi. Contohnya, Indonesia di mana flu burung sudah menelan lebih dari lima korban jiwa dalam tempo satu tahun . Faktor kedua kemampuan penyebaran virus, ketiga mudah atau tidaknya masyarakat tertular. Terakhir, efektif atau tidaknya langkah-langkah preventif pandemi. Dampak terhadap gangguan ekonomi dan sosial juga perlu diperhatikan.
WHO sudah menyatakan perang terhadap flu burung. Setiap negara diingatkan melaksanakan langkah strategis mengatasi ancaman pandemi flu. WHO juga intensif mengadakan pertemuan dengan menteri-menteri kesehatan dan berbagai organisasi kesehatan. Dunia dianggap WHO sudah memasuki tahap peringatan ketiga dari enam tahap peringatan. Di mana sebuah virus telah menimbulkan infeksi, tetapi kemungkinan menyebar dari manusia ke manusia tinggal menunggu waktu. Jika sudah masuk tahap itu, WHO akan mengeluarkan peringatan lebih tegas.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)