Berdasarkan pantauan dari udara, sebagian besar jalan masih tertutup lumpur cukup tebal hingga siang tadi. Kawasan permukiman di lima desa tak ubahnya seperti daerah aliran sungai. Sekitar 400 rumah warga rusak, 40 di antaranya hancur termasuk gedung sekolah ibtidaiyah. Jalan utama yang menghubungkan Kutacane dengan Medan, Sumatra Utara juga belum bisa dilalui kendaraan roda empat [].
Kondisi pengungsi sangat memprihatinkan. Mereka tak sempat menyelamatkan barang berharga karena banjir melanda saat mereka sedang bersiap untuk tidur. Dengan bekal seadanya, penduduk berjalan di bawah rintik hujan menuju kota yang lebih aman untuk menyelamatkan diri. Satu di antara lokasi tujuan mereka adalah tenda darurat Pemerintah Kabupaten Kutacane yang menyediakan bantuan bahan makanan serta obat-obatan.
Advertisement
Menurut kesaksian warga, banjir bandang terjadi pada Selasa sekitar pukul 22.00 WIB. Ratusan rumah penduduk hancur diterjang banjir bandang. Lima desa di Kecamatan Simpang Semadam, yakni Desa Simpang Semadan, Semadan Awal, Desa Lawe Beringin, Semadan Asal, Titi Pasir, hancur.
Ketika dihubungi SCTV lewat telepon, Bupati Aceh Tenggara Armen Desky menyatakan, jumlah korban tewas adalah empat orang. Sedangkan yang dirawat di RSU Saudin ada 30 orang. Dia juga mengklaim sudah mengevakuasi warga di lima desa. "Semua sudah kita evakuasi dan kita letakkan di tempat penampungan," kata Armen.
Bupati Aceh Tenggara menambahkan, para pengungsi ditampung di Lapangan Terbang Alas, Leuser, Gelanggang Olahraga Kutacane, dan sekitar Markas Kepolisian Sektor Bukit Tusam. "Mereka ada sekitar 600 KK (kepala keluarga)," tambah Armen.
Armen Desky juga kembali membantah jika bencana banjir ini akibat pembalakan liar di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Alasannya seperti pada musibah banjir di Kutacane April silam. "Saya sangat yakin sekali bahwa kejadian ini adalah bencana yang memang kita alami sejak dahulu," ujar Armen [baca: Akses Empat Desa di Kutacane Mulai Terbuka].
Menurut Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NAD Anjas Asmara, identitas korban tewas belum diketahui. Sementara 36 korban cedera dirawat di Rumah Sakit Umum Kutacane. Empat warga yang tewas sudah ditemukan, sedangkan seorang lainnya masih dicari.
Pada April silam, banjir bandang juga sempat menerjang tiga desa di Kecamatan Badar, sekitar 30 kilometer dari Kutacane. Sebanyak 15 orang meninggal dunia dan belasan lainnya dirawat di rumah sakit. Ini belum termasuk puluhan warga yang dinyatakan hilang. Untuk beberapa hari, arus lalu lintas darat antara Banda Aceh-Medan terputus.
Pihak Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh sempat mengkhawatirkan terjadi banjir bandang susulan. Argumennya, di daerah tersebut marak pembalakan liar yang dilakukan 12 penggergajian kayu yang dikuasai sejumlah cukong. Data terakhir yang diperoleh Walhi mengambarkan, dari areal hutan seluas 2,5 juta hektare, saat ini telah rusak sekitar 30 persen. Kenyataan inilah yang mengarahkan dugaan terjadinya banjir saat ini akibat perambahan hutan ilegal [baca: Kutacane Masih Rawan Longsor].
Data ini diperkuat dengan temuan Tim Sigi yang mensinyalir bahwa pembalakan liar juga melibatkan pejabat di Aceh Tenggara. Namun Bupati Aceh Tenggara Armen Desky lagi-lagi membantah dengan mangatakan, bahwa kejadian ini semata-mata karena struktur tanah di Kutacane yang labil.(YAN/Tim liputan 6 SCTV)