Tarif Belum Naik, Angkutan Terus Mogok

Para sopir memilih tak beroperasi karena merasa tidak sanggup membeli bensin apalagi membayar uang setoran yang tinggi. Mereka meminta agar segera diberlakukannya tarif baru yang sebanding dengan kenaikan harga BBM.

oleh Liputan6Diterbitkan 01 Oktober 2005, 19:44 WIB
Liputan6.com, Tangerang: Hari pertama setelah pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak disambut aksi mogok para sopir angkutan umum di berbagai daerah. Mereka menuntut segera diberlakukannya tarif baru yang sebanding dengan kenaikan harga BBM. Para sopir lebih memilih tak beroperasi karena merasa tak bisa menutup biaya BBM apalagi untuk setoran [baca: Pemerintah Menaikkan Harga BBM].

Di Tangerang, Banten para sopir angkutan kota (angkot) B-07 jurusan Kalideres-Serpong memarkirkan mobil mereka di bahu jalan. Sejumlah pengemudi dari trayek lain juga ikut dalam aksi itu. Akibat ini lalu lintas terganggu. Aksi baru berhenti setelah Organisasi Angkutan Darat (Organda) setempat secara sepihak menaikkan tarif 100 persen hingga 300 persen untuk jarak terjauh.

Pemogokan serupa terjadi di Cilincing, Jakarta Utara. Para sopir angkot jurusan Rorotan-Cilincing juga memilih mogok karena belum ada kejelasan soal tarif baru. Para sopir yang memilih tak mau menaikkan penumpang ini cukup merepotkan warga. Sebagai alternatif warga terpaksa menggunakan ojek yang tarifnya jauh lebih mahal.

Pun demikian di Bogor, Jawa Barat. Tak beroperasinya sejumlah angkutan membuat para penumpang telantar. Sebagai solusi, pihak Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Senjaya mengerahkan 10 truk untuk mengangkut penumpang. Sementara beberapa penumpang yang tak sempat diangkut truk terpaksa harus memanfaatkan jasa puluhan tukang ojek.

Ratusan sopir angkot di Mataram, Nusatenggara Barat juga mogok beroperasi. Bahkan, para sopir ini tidak segan-segan menghentikan angkot yang tetap beroperasi. Mereka kemudian menurunkan secara paksa para penumpangnya. Aksi baru berakhir setelah ada kesepakatan pemberlakuan tarif sementara, yakni Rp 1.900 untuk umum dan Rp 1.400 buat pelajar.

Kejadian serupa berlangsung di Kendari, Sulawesi Tenggara. Mereka memarkir kendaraan di sepanjang Jalan Raya Abu Nawas, Kendari. Sejumlah sopir angkot yang baru tahu adanya pemogokan langsung menurunkan penumpang di tengah jalan. Mereka pun bergabung dengan rekan-rekannya .

Lain lagi di Yogyakarta. Ratusan bus antarkota antarpropinsi tidak mau mengangkut penumpang. Mereka berkumpul di Terminal Giwangan, Yogyakarta. Jumlah armada yang mogok makin besar karena adanya kabar pencegatan bus dan aksi menurunkan paksa penumpang di Klaten dan Solo, Jawa Tengah. Pemogokan ini mengakibatkan ratusan calon penumpang tujuan Solo, Klaten dan sejumlah wilayah di Jawa Timur menjadi telantar.

Sejumlah pengemudi di Kota Kembang memarkir kendaraannya di Terminal Dago, Bandung, Jawa Barat. Salah seorang sopir angkot mengatakan, kenaikan harga premium menyebabkan dia kehilangan banyak penghasilan. Ia juga mengaku tak berani meminta kelebihan ongkos dari para penumpang karena belum ada keputusan tentang tarif baru.

Sementara di Cirebon, Jabar ratusan awak angkot berbagai jurusan mogok jalan. Aksi dipicu oleh belum adanya pemberitahuan tarif baru dari Organda Cirebon, sehingga penumpang masih membayar dengan ongkos lama. Tak pelak ratusan calon penumpang tak terangkut. Sedangkan sejumlah pelajar terpaksa menumpang mobil bak terbuka.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya