Malawi Mengalami Krisis Pangan

Lebih dari 4 juta atau 34 persen dari populasi penduduk Malawi kini menghadapi ancaman kelaparan. Ini diakibatkan buruknya hasil panen jagung tahun ini yang hanya sebesar 1,3 ton.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 September 2005, 08:43 WIB
Liputan6.com, Blantyre: Pemerintah Malawi dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), baru-baru ini, memperkirakan sekitar 4,5 juta penduduk Malawi akan kekurangan bahan pangan hingga musim panen Maret tahun depan. Ancaman terburuk akan dihadapi penduduk yang tinggal di daerah selatan. Ini diakibatkan oleh kekeringan, merebaknya Human Immunodeficiency Virus (HIV) serta kontrol pemerintah yang lemah. Sehingga berpeluang memicu timbulnya bencana kemanusiaan.

Selain itu, hasil panen jagung tahun ini hanya sebesar 1,3 juta ton, berkurang 26 persen dari hasil panen tahun 2004. Lembaga Pengembangan Pertanian Malawi, Admark, sedianya akan mensubsidi jagung bagi warga Malawi. Namun, sebagian besar toko mereka justru kekurangan pasokan. Sementara Pemerintah Malawi sendiri telah menjual cadangan gandumnya beberapa tahun silam.

Bencana kekeringan serta buruknya hasil panen membuat pemerintah tidak dapat menambah jumlah cadangan bahan pangan. Sehubungan dengan itu, pemerintah terpaksa menerapkan penjatahan jagung 25 kilogram per orang dari persediaan yang ada. Jumlah itu hanya dapat memenuhi kebutuhan keluarga dengan lima anggota selama beberapa pekan.

Pada bulan Juli, PBB mengatakan lebih dari 10 juta orang di enam negara di Afrika membutuhkan bantuan kemanusiaan. Ini karena buruknya produksi pertanian akibat cuaca serta benih yang mahal. Laporan dari Lembaga Pangan Sedunia (FAO) dan Badan Program Pangan PBB (WFP) menunjukkan penduduk Lesotho, Malawi, Mozambik, Swaziland dan Zambia akan mengalami kekurangan bahan pangan hingga masa panen Mei 2006 mendatang.(BOG/Ijx)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya