Kontak Senjata Terjadi Lagi di Aceh

Baku tembak antara TNI dan GAM terjadi di Desa Meureuh, Indrapuri, Aceh Besar, NAD. Terhitung sejak perjanjian Helsinki ditandatangani 15 Agustus, sekurangnya telah terjadi empat kali pelanggaran.

oleh Liputan6Diterbitkan 29 Agustus 2005, 06:27 WIB
Liputan6.com, Aceh Besar: Kontak senjata kembali menodai nota kesepahaman damai (MoU) yang diteken RI dan Gerakan Aceh Merdeka. Kedua belah pihak terlibat baku tembak di kawasan Desa Meureuh, Indrapuri, Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam, Ahad (28/8) sekitar pukul 08.30 WIB. Belum diketahui siapa yang memulai menembak terlebih dulu. Dengan adanya insiden ini, terhitung sejak perjanjian Helsinki ditandatangani 15 Agustus silam, sekurangnya telah terjadi empat kali pelanggaran.

Beberapa jam setelah kejadian, wakil dari Aceh Monitoring Mission tiba di lokasi dan langsung memeriksa tempat itu bersama personel polisi dan TNI. Mereka menemukan sejumlah peluru yang berserakan dan ada yang masih tertancap di sebuah pohon kelapa. Aparat juga menemukan selongsong peluru senapan AK-47 sebanyak 24 butir, 16 butir peluru M-16, satu butir dari pistol SV-2 dan pelontar granat GLM dua butir. Hingga kini belum ada klarifikasi dari pihak GAM maupun TNI akibat pelanggaran ini. Untuk mencegah terulangnya kontak senjata, aparat melakukan pengamanan di sekitar lokasi kejadian.

Sementara itu, Mustafa Muhammad yang menjadi korban penembakan dalam satu insiden baku tembak antara TNI dan GAM di Makmur, Biruen, telah berkumpul lagi dengan keluarga. Mustafa yang tertembak pada Kamis malam lalu diizinkan meninggalkan Markas Kepolisian Resor Bireun kendati kondisinya masih belum pulih benar. Sejauh ini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab dalam insiden ini. Pihak TNI mengatakan Mustafa adalah warga biasa. Namun GAM menyatakan Mustafa adalah anggotanya [baca: TNI-GAM Kontak Senjata, Seorang Cedera].

Sebelumnya, polisi sempat memeriksa dan mencatat identitas korban sebelum diserahkan kepada keluarga yang diwakili Katijah, ibunya. Polisi kemudian menyerahkan mereka kepada camat setempat yang berjanji akan mengantar sampai ke rumah Mustafa. Namun sang camat ingkar janji dan menurunkan mereka di tengah jalan. Alhasil, mereka terpaksa menumpang becak hingga ke rumah. Dalam perjalanan pulang, korban tampak berusaha menyembunyikan wajahnya.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya