Liputan6.com, Gowa: Bahan bakar minyak masih langka di sejumlah daerah. Di Gowa, Sulawesi Selatan, warga di Kecamatan Palangga, Somba Opu, Biringkanaya, Tallo, dan Tamalate mengaku kesulitan memperoleh minyak tanah. BBM jenis itu menghilang dalam dua pekan ini hingga Selasa (23/8).
Mereka bahkan terpaksa mengantre berjam-jam untuk mendapatkan minyak tanah. Pemandangan seperti ini terjadi hampir di seluruh pangkalan dan agen. Minyak tanah langka karena pasokan Pertamina ke sejumlah agen dibatasi satu tangki untuk setiap bulan. Padahal biasanya dalam satu bulan mendapat jatah empat tangki. Sebenarnya minyak tanah sudah langka sejak Mei silam, namun sempat normal Juni.
Di Tegal, Jawa Tengah, minyak tanah sulit didapatkan sejak tiga bulan terakhir dan masih belum teratasi hingga kini. Warga harus mengantre berjam-jam di agen penjual untuk membawa pulang bahan bakar ini. Kondisi itu membuat harga eceran tertinggi minyak tanah sebesar Rp 900 per liter menjadi Rp 1.300. Masyarakat juga menyesalkan agen dan pangkalan yang membatasi jumlah pembelian maksimal delapan liter per orang. Sedangkan bagi pengecer maksimal 50 liter.
Sementara itu di Batam, Kepulauan Riau, pasokan premium dan solar terhenti. Akibatnya, para pemilik kendaraan menyerbu stasiun pengisian bahan bakar umum untuk membeli pertamax. Deretan kendaraan selama berjam-jam menghiasi SPBU setempat. Padahal selama ini, pertamax kurang diminati warga karena harganya lebih mahal dari premium dan solar. Kepala Divisi Distribusi Pertamina Batam, Dwi Panji, membantah stok premium dan solar sengaja dibatasi untuk mengalihkan penggunaan ke pertamax. Menurut Dwi, kelangkaan terjadi karena pengangkutan premium dan solar tertunda.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)
Mereka bahkan terpaksa mengantre berjam-jam untuk mendapatkan minyak tanah. Pemandangan seperti ini terjadi hampir di seluruh pangkalan dan agen. Minyak tanah langka karena pasokan Pertamina ke sejumlah agen dibatasi satu tangki untuk setiap bulan. Padahal biasanya dalam satu bulan mendapat jatah empat tangki. Sebenarnya minyak tanah sudah langka sejak Mei silam, namun sempat normal Juni.
Di Tegal, Jawa Tengah, minyak tanah sulit didapatkan sejak tiga bulan terakhir dan masih belum teratasi hingga kini. Warga harus mengantre berjam-jam di agen penjual untuk membawa pulang bahan bakar ini. Kondisi itu membuat harga eceran tertinggi minyak tanah sebesar Rp 900 per liter menjadi Rp 1.300. Masyarakat juga menyesalkan agen dan pangkalan yang membatasi jumlah pembelian maksimal delapan liter per orang. Sedangkan bagi pengecer maksimal 50 liter.
Sementara itu di Batam, Kepulauan Riau, pasokan premium dan solar terhenti. Akibatnya, para pemilik kendaraan menyerbu stasiun pengisian bahan bakar umum untuk membeli pertamax. Deretan kendaraan selama berjam-jam menghiasi SPBU setempat. Padahal selama ini, pertamax kurang diminati warga karena harganya lebih mahal dari premium dan solar. Kepala Divisi Distribusi Pertamina Batam, Dwi Panji, membantah stok premium dan solar sengaja dibatasi untuk mengalihkan penggunaan ke pertamax. Menurut Dwi, kelangkaan terjadi karena pengangkutan premium dan solar tertunda.(MAK/Tim Liputan 6 SCTV)