Liputan6.com, Jakarta: Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat anjlok menembus level psikologis, yakni Rp 10 ribu per US$, Senin (22/8). Kemerosotan nilai tukar rupiah sebesar ini adalah yang pertama kali dalam tiga tahun terakhir.
Rupiah jeblok membuat Presiden Susilo Bambang mengadakan pertemuan mendadak dengan jajaran Bank Indonesia. Dalam pertemuan itu, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah berjanji akan mengintervensi pasar untuk menjaga agar rupiah tidak terlalu terperosok.
Tanda-tanda rupiah jeblok sudah terlihat sejak Kamis pekan silam yang ditutup 15 poin mendekati level 10 ribu per dolar AS. Nilai tukar rupiah anjlok karena pasar kurang percaya pada kemampuan keuangan pemerintah dan harga minyak dunia yang terus naik. Sedangkan Bank Indonesia tidak mampu menolong kekonsistenan dalam menjaga rupiah. Di satu pihak, BI menaikkan suku bunga. Namun, di sisi lain memborong obligasi pemerintah di pasar sekunder lebih Rp 800 miliar.
Sementara di Bursa Efek Jakarta, harga-harga saham berjatuhan karena pemodal melepas portofolio mereka. Harga saham melemah karena ada rencana kenaikan harga bahan bakar minyak dan dikhawatirkan akan memacu laju inflasi dan mendorong kenaikan suku bunga. Penurunan kurs rupiah juga mempengaruhi harga saham [baca: Harga BBM Akan Naik].(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)
Rupiah jeblok membuat Presiden Susilo Bambang mengadakan pertemuan mendadak dengan jajaran Bank Indonesia. Dalam pertemuan itu, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah berjanji akan mengintervensi pasar untuk menjaga agar rupiah tidak terlalu terperosok.
Tanda-tanda rupiah jeblok sudah terlihat sejak Kamis pekan silam yang ditutup 15 poin mendekati level 10 ribu per dolar AS. Nilai tukar rupiah anjlok karena pasar kurang percaya pada kemampuan keuangan pemerintah dan harga minyak dunia yang terus naik. Sedangkan Bank Indonesia tidak mampu menolong kekonsistenan dalam menjaga rupiah. Di satu pihak, BI menaikkan suku bunga. Namun, di sisi lain memborong obligasi pemerintah di pasar sekunder lebih Rp 800 miliar.
Sementara di Bursa Efek Jakarta, harga-harga saham berjatuhan karena pemodal melepas portofolio mereka. Harga saham melemah karena ada rencana kenaikan harga bahan bakar minyak dan dikhawatirkan akan memacu laju inflasi dan mendorong kenaikan suku bunga. Penurunan kurs rupiah juga mempengaruhi harga saham [baca: Harga BBM Akan Naik].(DNP/Tim Liputan 6 SCTV)