Liputan6.com, Ambon: Sebanyak 25 kepala keluarga atau sekitar 150 pengungsi korban kerusuhan Ambon yang berada di kawasan Tulehu, Kecamatan Salahutu, Pulau Ambon, Maluku, menderita penyakit gatal-gatal. Penyakit yang rata-rata menyerang anak-anak dan ibu-ibu, diduga disebabkan lingkungan yang tidak sehat.
Perkiraan tersebut sangat beralasan. Pasalnya, seperti yang dilaporkan koresponden SCTV di Ambon, baru-baru ini, mereka tinggal di lingkungan permukiman yang kurang layak. Hampir sebagian besar rumahnya masih beratap rumbia [baca: Pengungsi Ambon Masih Tinggal di Barak].
Tak hanya itu, keadaan para pengungsi pun terlihat cukup memprihatinkan karena tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Kondisi seperti ini sebenarnya sudah dilaporkan ke pemerintah setempat, namun hingga kini belum mendapat tanggapan.(IAN/Sahlan Heluth)
Perkiraan tersebut sangat beralasan. Pasalnya, seperti yang dilaporkan koresponden SCTV di Ambon, baru-baru ini, mereka tinggal di lingkungan permukiman yang kurang layak. Hampir sebagian besar rumahnya masih beratap rumbia [baca: Pengungsi Ambon Masih Tinggal di Barak].
Tak hanya itu, keadaan para pengungsi pun terlihat cukup memprihatinkan karena tidak mendapat bantuan dari pemerintah. Kondisi seperti ini sebenarnya sudah dilaporkan ke pemerintah setempat, namun hingga kini belum mendapat tanggapan.(IAN/Sahlan Heluth)