Ayam Asal AS Dilarang Masuk Indonesia

Badan Karantina Hewan Bandara Soekarno Hatta melarang impor unggas dan produk olahan unggas dari 15 negara. Pemerintah belum membatasi distribusi ayam dari daerah yang diperkirakan terjangkit wabah flu burung.

oleh Liputan6Diterbitkan 20 Juli 2005, 14:54 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Badan Karantina Hewan Bandar Udara Soekarno Hatta memusnahkan sekitar 140 produk unggas asal Cina yang masuk Jakarta lewat Medan, Sumatra Utara, Rabu (20/7). Langkah ini ditempuh Badan Karantina menyusul dugaan bangkitnya penyakit flu burung di Indonesia. Badan Karantina juga menetapkan larangan impor produk unggas dari 15 negara seperti Korea Selatan, Jepang, Vietnam, Amerika Serikat, dan Cina.

Kepala Badan Karantina Bandara Soekarno Hatta Lukas A. Tonga mengatakan, produk yang dimusnahkan terdiri dari 40 potong bebek dan 100 produk olahan unggas seperti bakso dan dendeng asal Cina. Pemusnahan ini rencananya dilakukan berkala sesudah terkumpul 250 kilogram produk atau maksimal lima bulan. Semua produk yang dimusnahkan adalah barang milik penumpang pesawat yang tidak berdokumen dan terkumpul sejak Februari silam.

Larangan impor unggas dari 15 negara sebenarnya bagian dari upaya mencegah penyebaran flu burung sejak mewabah di Indonesia pada 2003. Pengawasan diperketat setelah tiga warga Tangerang, Banten, diduga tewas akibat flu burung [baca: Iwan Siswara Positif Terkena Flu Burung].

Pemusnahan atau pembakaran unggas yang diduga terserang flu burung juga dilakukan Dinas Peternakan dan Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Kebijakan ini ditempuh untuk mengantisipasi penyebaran flu burung yang telah menyebar ke sepuluh kabupaten di Sulsel. Berdasarkan data Pos Koordinasi Penanggulangan Penyakit Flu Burung Sulsel, daerah terparah di antaranya Kabupaten Sinjai, Maros, Bone, Luwu Timur, dan Kabupaten Tana Toraja. Bahkan penyebaran virus telah sampai ke Kabupaten Wajo, Soppeng, dan Pinrang.

Menurut Koordinator Posko Penyebaran Flu Burung Kaffil Azis, virus avian influenza menyebar melalui pupuk kandang. Pasalnya, para petani mendatangkan pupuk dari daerah yang terserang virus. Sejak Maret, sedikitnya telah 400 ribu ekor ayam mati akibat virus H5N1. Untuk itulah Dinas Peternakan Sulsel melarang peredaran pupuk kandang dari daerah yang terserang ke daerah yang masih bebas virus. Para peternak juga diminta membakar ayam yang mati.

Kesigapan sejumlah instansi di daerah dalam mengantisipasi penyebaran flu burung ternyata tak diikuti pemerintah. Hingga saat ini, pemerintah belum membatasi distribusi ayam dari daerah yang diperkirakan terjangkit wabah flu burung seperti Tangerang, Sukabumi, serta beberapa daerah di Sulsel. Padahal, penyebaran virus ini bisa berlangsung sangat cepat.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu hingga kini mengaku masih berkoordinasi dengan Departemen Pertanian dan Departemen Kesehatan. Kedua instansi ini juga telah melakukan pengecekan ke sejumlah daerah. "Hingga kini saya belum mengetahui hasilnya," kata Mari.

Sementara Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai, elemen terpenting untuk mencegah penyebaran flu burung adalah petani dan pengusaha unggas. Mereka diminta lebih mengerti dalam menghadapi virus yang kini membuat sejumlah industri ayam menjerit. Pengurus Harian YLKI Huzna Zahir juga meminta peternak unggas tidak memasarkan produk yang terinfeksi flu burung. "Kalau ada yang sengaja menjual ayam sakit, bisa dituntut," Huzna menambahkan.

Wabah flu burung ternyata tak berpengaruh banyak di Pasar Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur. Banyak di antara para pedagang tak mengetahui ayam di sejumlah daerah yang dilanda flu burung. Bahkan, seorang penjual ayam bernama Hadi Purnomo mengaku omzetnya meningkat. Dinas terkait juga belum melakukan pencegahan seperti penyemprotan kandang dengan desinfektan.

Sejumlah konsumen di Pasar Wonokromo juga tak khawatir dengan peredaran flu burung. Salah seorang pembeli ayam yang dijumpai SCTV beralasan, dia hanya membeli ayam yang bagus. "Kalau yang jelek kan warnanya kebiru-biruan," katanya.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya