Pemerintah Meminta Pertamina Untuk Terus Memasok BBM

Presiden Yudhoyono meminta Pertamina tidak mengurangi dan terus memasok kebutuhan BBM kepada masyarakat. Simulasi fiskal Indonesia mampu bertahan hingga harga minyak dunia mencapai US$ 80 dolar per barel.

oleh Liputan6Diterbitkan 06 Juli 2005, 09:51 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta Pertamina tidak mengurangi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) di masyarakat dan tetap memasok kebutuhan tersebut. Permintaan Kepala Negara ini disampaikan Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Purnomo Yusgiantoro seusai sidang kabinet yang berlangsung di Kantor Kepresidenan di Jakarta, Selasa (5/7).

Menurut Purnomo, permintaan Presiden tersebut didasari simulasi fiskal Indonesia yang diperkirakan mampu bertahan hingga harga minyak dunia mencapai US$ 80 dolar per barel. Sementara, pasokan utama BBM yang dimaksud Presiden Yudhyono itu adalah jenis Premium. Masih menurut Purnomo, sidang tersebut menyimpulkan kelangkaan BBM saat ini terjadi karena beberapa hal. Di antaranya kendala teknis, rusaknya sejumlah kilang, dan meningkatnya kebutuhan BBM di masyarakat.

Di tempat terpisah, Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Sugiharto juga risau dengan kelangkaan BBM. Ia mengatakan, untuk mencegah semakin meluasnya kelangkaan BBM, pemerintah akan mengajukan permohonan penambahan kuota kepada DPR.

Sementara itu, kondisi kelangkaan BBM masih terjadi di sejumlah daerah. Di antaranya di Yogyakarta, Lampung, Banten, dan Bengkulu. Berdasarkan pantauan SCTV di empat provinsi tersebut, para konsumen yang hendak membeli BBM di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) harus antre [baca: BBM Masih Sulit Dibeli].

Kemacetan lalu lintas terjadi di kawasan Way Halim hingga Panjang, Bandar Lampung, karena antrean pembeli BBM yang panjangnya mencapai lima kilometer. Sebab, SPBU di Way Halim yang masih memiliki persediaan BBM diserbu pembeli sedangkan ditempat lain rata-rata sudah kehabisan. Antrean dan kemacetan akan berkurang pada saat BBM habis. Sementara itu, ratusan sopir angkot di wilayah itu yang tidak mendapat BBM memilih menginap di SPBU agar mendapat bensin. Sebab, biasanya pasokan BBM akan datang sekitar pukul 03.00 WIB dan langsung diserbu pembeli.

Di Kabupaten Serang, Banten, antrean kendaraan bermotor di tiga SPBU yang masih memiliki persediaan premium terjadi dari pagi hingga malam hari. Sebagian pengendara sepeda motor memilih membeli premium dengan kantong plastik untuk menghindari antrean kendaraan. Di SPBU Benggala, Ciracas dan Ciceri, Serang, hanya satu mesin pom bensin yang melayani pembeli karena tidak adanya pasokan. Bahkan beberapa SPBU di Kabupaten Serang sudah tutup dalam empat hari terakhir.

Ratusan warga pemilik kendaraan di Bengkulu harus rela antre berjam-jam untuk mendapatkan BBM jenis premium. Sebab, sejak dua hari silam BBM hilang dipasaran. Sementara kalau pun BBM ada ditingkat pengecer, BBM dijual dengan harga relatif mahal berkisar Rp 4.000 hingga Rp 8.000 per liternya. Kondisi serupa juga terjadi di empat SPBU lainnya di Kota Bengkulu.

Di Yogyakarta, ketegangan sempat terjadi antara Kepala Pertamina Unit Pemasaran Yogyakarta Imam Hidayat dengan anggota DPRD setempat. Sebab, menurut Iman pembatasan pasokan BBM di Yogyakarta dilakukan karena penjualan BBM di wilayah tersebut sudah kelebihan kuota sejak Mei silam.

Imam menambahkan dari kuota premium sebesar 41,70 persen saat ini, Pertamina sudah menjual 46,41 persen atau kelebihan sekitar 6 persen. Alasan ini ternyata tidak bisa diterima oleh para anggota Komisi B DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta. Para anggota Dewan itu menuduh Pertamina wilayah itu telah menjual minyaknya kepada pihak-pihak yang tidak mempunyai delivery order. Namun, suasana menjadi reda, setelah Imam berjanji memberikan pasokan BBM lebih ke pasaran setempat. Diharapkan keadaan akan normal dalam tiga hari mendatang.(ZIZ/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya