Liputan6.com, Jakarta: Kabar tak sedap kembali datang dari dunia investasi Indonesia. Perusahaan elektronik dunia, PT Sanyo Electronics Indonesia, baru-baru ini dikabarkan akan menutup pabriknya di Indonesia. Rencana itu merupakan bagian dari pemangkasan 10 ribu orang atau sepersepuluh dari total karyawan Sanyo di seluruh dunia. Setelah itu, Sanyo akan memfokuskan pada produksi baterai tenaga surya, elektronik digital dan bisnis bidang energi.
Rumor tentang rencana Sanyo itu dibantah Direktorat Jenderal Industri Alat Angkut dan Telematika Departemen Perindustrian. Berdasarkan data yang dihimpun www.liputan6.com, Sanyo akan tetap beroperasi dan tidak ada rencana menutup pabriknya di Indonesia. Sebaliknya Sanyo berencana meningkatkan produksinya, seperti kamera digital. Bantahan ini disampaikan Departemen Perindustrian setelah mengklarifikasi ke pihak PT Sanyo Electronics Indonesia.
Jika rencana Sanyo itu benar terjadi, sudah dipastikan jumlah pengangguran di dalam negeri akan kian bertambah. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Biro Pusat Statistik, jumlah pengangguran sejak Agustus 2004 hingga Februari 2005 saja bertambah sekitar 600 ribu orang. Sementara jumlah angkatan kerja hingga Februari 2005 mencapai 105,8 juta orang. Angka ini bertambah 1,8 juta dibanding Agustus 2004 yang mencapai 104 juta orang.
Menurut pejabat BPS, angka pengangguran terus meningkat meski pertumbuhan ekonomi per triwulan pertama mencapai 6,35 persen. Ini lebih dikarenakan kurangnya penciptaan lapangan kerja. Mulai Juli 2005, BPS akan mengumumkan situasi keternagakerjaan di Indonesia.
Pada bagian lain, Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdullah menyatakan, peredaran uang palsu yang marak saat ini belum perlu dikhawatirkan. Sebab, BI terus memperbaiki kualitas kertas maupun jaring pengaman uang RI. BI juga meningkatkan kerja sama dengan Polri dan lembaga-lembaga lain, sehingga praktik-praktik pembuatan uang palsu dapat diantisipasi sedini mungkin.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)
Rumor tentang rencana Sanyo itu dibantah Direktorat Jenderal Industri Alat Angkut dan Telematika Departemen Perindustrian. Berdasarkan data yang dihimpun www.liputan6.com, Sanyo akan tetap beroperasi dan tidak ada rencana menutup pabriknya di Indonesia. Sebaliknya Sanyo berencana meningkatkan produksinya, seperti kamera digital. Bantahan ini disampaikan Departemen Perindustrian setelah mengklarifikasi ke pihak PT Sanyo Electronics Indonesia.
Jika rencana Sanyo itu benar terjadi, sudah dipastikan jumlah pengangguran di dalam negeri akan kian bertambah. Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Biro Pusat Statistik, jumlah pengangguran sejak Agustus 2004 hingga Februari 2005 saja bertambah sekitar 600 ribu orang. Sementara jumlah angkatan kerja hingga Februari 2005 mencapai 105,8 juta orang. Angka ini bertambah 1,8 juta dibanding Agustus 2004 yang mencapai 104 juta orang.
Menurut pejabat BPS, angka pengangguran terus meningkat meski pertumbuhan ekonomi per triwulan pertama mencapai 6,35 persen. Ini lebih dikarenakan kurangnya penciptaan lapangan kerja. Mulai Juli 2005, BPS akan mengumumkan situasi keternagakerjaan di Indonesia.
Pada bagian lain, Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abdullah menyatakan, peredaran uang palsu yang marak saat ini belum perlu dikhawatirkan. Sebab, BI terus memperbaiki kualitas kertas maupun jaring pengaman uang RI. BI juga meningkatkan kerja sama dengan Polri dan lembaga-lembaga lain, sehingga praktik-praktik pembuatan uang palsu dapat diantisipasi sedini mungkin.(DEN/Tim Liputan 6 SCTV)