Tak Semua Siswa Langsung Mengetahui Hasil UAN

Bagi yang beruntung, mereka sudah bisa mengetahui hasil ujian akhir nasional sejak pagi hari lewat surat yang dikirim pihak sekolah melalui pos. Di berbagai daerah, tingkat ketidaklulusan cukup tinggi.

oleh Liputan6Diterbitkan 01 Juli 2005, 09:14 WIB
Liputan6.com, Jakarta: Bagi siswa sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas negeri se-Nusantara, 30 Juni 2005, menjadi hari yang ditunggu-tunggu dan bersejarah. Hari itu adalah penentuan nasib mereka: lulus atau tidak. Persoalannya, sebagian dari mereka tak bisa langsung mengetahui hasilnya.

Yudho termasuk yang beruntung. Pelajar kelas tiga SMA Negeri di Jakarta ini cepat bisa mengetahui hasil ujiannya. Bahkan, dia sudah mengetahui kelulusannya sejak pagi hari lewat surat yang dikirim pihak sekolah melalui pos. &quotKemarin pagi tukang pos sudah datang," kata Yudho, baru-baru ini.

Namun tak demikian dengan Firdaus. Sampai siang hari kemarin, dia belum tahu hasil ujian nasional yang diikutinya. Dan, untuk menyapu rasa cemasnya, Firdaus langsung pergi ke sebuah warung internet di sekitar rumahnya.

Firdaus mengaku, mulanya sempat khawatir. Dia cemas kalau sampai tak lulus. Sebab, menurut dia, nilai standar UAN tahun ini cukup tinggi, tak boleh kurang dari 4,26 [baca: Mendiknas Tak Akan Mengubah Sistem Ujian Nasional]. &quotAkhirnya saya lulus," ungkap Firdaus dengan wajah berseri.

Lain lagi di Bandung, Jawa Barat. Dinas Pendidikan Nasional Bandung telah bekerja sama dengan PT Telkom untuk menyampaikan hasil UAN kepada para siswa. Hasil UAN diinformasikan lewat pesan singkat telepon selular (SMS). Sampai kemarin sore, sudah ada 200 ribu dari sekitar 500 ribu siswa yang meminta hasil UAN.

Sementara di Pemalang, Jawa Tengah, jumlah siswa SMA yang tak lulus mencapai 30 persen. Dari 5.000 siswa, sekitar 1.300 di antaranya tak lulus. Sedangkan 20 persen dari 13.800 siswa SMP di sana juga tak lulus.

Kepala Sub Dinas Diknas SMA dan SMP Pemalang Sapardi mengatakan, tingginya angka ketidaklulusan disebabkan para murid cenderung meremehkan ujian nasional. Mereka tidak serius dan malas untuk belajar [baca: Banyak Siswa di Pemalang Tidak Lulus].

Kondisi serupa terjadi di Tegal, Jateng. Di kota itu, 30 persen dari 8.400 siswa SMA dinyatakan tak lulus. Sementara di tingkat SMP ketidaklulusan mencapai 20 persen dari sekitar 27.000 siswa. Untuk mengantisipasi aksi perusakan sekolah oleh siswa yang tidak lulus, pihak sekolah mengirim surat tanda kelulusan melalui pos.

Demikian pula di Ternate, Maluku Utara. Sekitar 2.800 siswa, baik SMP maupun SMA di sana tidak lulus. Mereka harus mengikuti ujian susulan bila ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi. Sementara untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan polisi menjaga ketat sekolah-sekolah saat pengumuman hasil ujian.(ICH/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya