Liputan6.com, Jerusalem: Masalah keamanan menjadi faktor yang menentukan keberhasilan rencana penarikan mundur Israel pada musim panas ini. Untuk itu, pemerintah Palestina juga berkewajiban menyediakan pengamanan penuh sehingga para pemukim dan pasukan keamanan Israel tak mendapat gangguan selama penarikan mundur itu. Demikian diungkapkan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice saat diwawancara Stasiun Televisi ABC di sela lawatannya ke Timur Tengah, Ahad (19/6).
Pernyataan ini dilontarkan Rice setelah bertemu pemimpin Palestina dan Israel, dua hari silam. Rice mengaku optimistis bahwa kedua belah pihak mampu bekerja sama dan berkoordinasi dalam dua bulan ini, sebelum proses penarikan mundur dimulai.
Sejauh ini, pemerintah Israel telah melakukan berbagai persiapan menjelang penarikan mundur Israel dari Jalur Gaza. Mereka mempersiapkan sebuah lokasi di Nitzanim, dekat Jalur Gaza, untuk menampung 450 unit karavan sebagai tempat tinggal sementara warga Yahudi [baca: Persiapan Israel Mundur dari Jalur Gaza].
Pada kesempatan itu, Rice juga mengemukakan bahwa tentara Irak akan diikutsertakan dalam operasi antiterorisme. Ia menilai pemilihan umum Iran sebagai upaya yang tak serius untuk membawa negara itu menuju demokrasi.
Sebelum berkunjung ke Jerusalem, Rice sempat bertemu Presiden Irak Jalal Talabani dan Perdana Menteri Ibrahim al-Jaafari serta wakilnya Ahmad Chalabi. Pada pertemuan itu, ia memuji kerja sama antaretnis dan agama yang telah memungkinkan terbentuknya pemerintahan baru di Irak [baca: Condoleezza Rice berkunjung ke Irak].
Sementara itu bentrokan senjata justru terjadi di Kerem Shalom, Jalur Gaza. Bentrokan terjadi saat pejuang Palestina menembaki tentara dan warga sipil Israel di dekat pos militer di kawasan tersebut.
Aksi itu dibalas hujan tembakan tentara Israel sehingga menewaskan seorang pejuang Palestina. Kematian itu dibalas dengan penembakan granat berpeluncur roket ke arah pos militer. Akibatnya, seorang tentara tewas dan satu lainnya terluka.
Kelompok Jihad Islam menyatakan bertanggung jawab atas insiden ini. Mereka menyebut serangan hasil kerja samanya dengan pejuang Gerakan Fatah itu adalah balasan atas tindakan Israel yang melanggar kesepakatan gencatan senjata.(TOZ/Ijx)
Pernyataan ini dilontarkan Rice setelah bertemu pemimpin Palestina dan Israel, dua hari silam. Rice mengaku optimistis bahwa kedua belah pihak mampu bekerja sama dan berkoordinasi dalam dua bulan ini, sebelum proses penarikan mundur dimulai.
Sejauh ini, pemerintah Israel telah melakukan berbagai persiapan menjelang penarikan mundur Israel dari Jalur Gaza. Mereka mempersiapkan sebuah lokasi di Nitzanim, dekat Jalur Gaza, untuk menampung 450 unit karavan sebagai tempat tinggal sementara warga Yahudi [baca: Persiapan Israel Mundur dari Jalur Gaza].
Pada kesempatan itu, Rice juga mengemukakan bahwa tentara Irak akan diikutsertakan dalam operasi antiterorisme. Ia menilai pemilihan umum Iran sebagai upaya yang tak serius untuk membawa negara itu menuju demokrasi.
Sebelum berkunjung ke Jerusalem, Rice sempat bertemu Presiden Irak Jalal Talabani dan Perdana Menteri Ibrahim al-Jaafari serta wakilnya Ahmad Chalabi. Pada pertemuan itu, ia memuji kerja sama antaretnis dan agama yang telah memungkinkan terbentuknya pemerintahan baru di Irak [baca: Condoleezza Rice berkunjung ke Irak].
Sementara itu bentrokan senjata justru terjadi di Kerem Shalom, Jalur Gaza. Bentrokan terjadi saat pejuang Palestina menembaki tentara dan warga sipil Israel di dekat pos militer di kawasan tersebut.
Aksi itu dibalas hujan tembakan tentara Israel sehingga menewaskan seorang pejuang Palestina. Kematian itu dibalas dengan penembakan granat berpeluncur roket ke arah pos militer. Akibatnya, seorang tentara tewas dan satu lainnya terluka.
Kelompok Jihad Islam menyatakan bertanggung jawab atas insiden ini. Mereka menyebut serangan hasil kerja samanya dengan pejuang Gerakan Fatah itu adalah balasan atas tindakan Israel yang melanggar kesepakatan gencatan senjata.(TOZ/Ijx)