Liputan6.com, Bandung: Delapan anak di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, positif terkena virus polio liar. Demikian hasil pemeriksaan spesimen tinja 150 anak dari beberapa kecamatan di Kabupaten Sukabumi di laboratorium PT Bio Farma di Bandung, Jawa Barat, yang terungkap Rabu (11/5).
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jabar dokter Yudhi Prayudha, kemungkinan kedelapan anak itu masih dapat disembuhkan karena tidak mengalami lumpuh layu akut. Untuk mencegah virus polio menular, kini kedelapan anak tersebut dianjurkan tidak meninggalkan tempat tinggalnya selama satu pekan ini. Dinkes Jabar juga akan melakukan imunisasi polio massal pada akhir Mei ini.
Sebelumnya, empat anak di Kabupaten Sukabumi telah dinyatakan positif terserang virus polio liar. Tiga di antaranya yakni Fikri Ramdani, Fauziah, dan Aldi Rustandi berasal dari Kecamatan Cidahu. Seorang lagi yaitu Darusalam berasal dari Kecamatan Bojonggenteng.
Selain serangan virus polio liar, di beberapa daerah di Sukabumi juga terdapat kasus lumpuh layu akut. Menurut Dinkes Jabar, sampai pertengahan Mei ini dilaporkan ada 44 kasus lumpuh layu akut pada anak usia di bawah 15 tahun. Penderita tersebar di 18 wilayah dari 25 kabupaten dan kota di Jabar.
Mulai Rabu ini, Dinkes Sukabumi mendirikan Pos Koordinasi Fisioterapi untuk melayani warga yang diduga terserang penyakit polio. Posko didirikan di Balai Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu. Sebanyak 10 anak yang mengalami kelumpuhan ditangani empat petugas dari Rumah Sakit Umum Daerah Sekarwangi, Cibadak, Sukabumi yang terdiri dari dua dokter dan dua paramedis. Di antara pasien terdapat Fauziah, dua setengah tahun yang telah dinyatakan positif terkena polio.
Menurut Eni Rahmawati, dokter spesialis anak yang memberikan fisioterapi, perawatan ini hanya mendukung untuk mengembalikan fungsi awal sendi dan otot balita (bawah usia lima tahun). Diharapkan, kerusakan sendi dan otot tidak bertambah berat. Dengan begitu, tidak perlu menggunakan kursi roda atau tongkat sebagai alat bantu. Pelayanan fisioterapi ini akan diberikan sekali dalam sepekan.
Sementara itu, Pusat Kesehatan Masyarakat Cidahu membawa empat anak Kampung Lebak Siuh, Desa Sukamaju ke RSUD Sekarwangi. Anak-anak yang mengalami kelumpuhan mirip penderita polio itu akan diperiksa kesehatannya dan menjalani perawatan untuk perbaikan gizi [baca: Diduga Polio, Empat Bocah dari Sukabumi Dirawat].
Kasus penderita lumpuh layu juga ditemukan di Provinsi Banten. Tujuh balita di Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, menderita lumpuh layu mendadak yang gejalanya serupa dengan polio. Dua di antara tujuh bayi yang menderita lumpuh total adalah Mashur dan Mita.
Anak pasangan Mahmud Nur dan Yanti, warga Desa Banjar Irigasi, mengalami lumpuh layu sejak dua pekan silam. Mashur, 14 bulan, lumpuh setelah panas dan demam. Sedangkan Mita, kakak Mashur yang berusia dua tahun empat bulan menyusul lumpuh dengan gejala yang sama.
Dinkes Lebak menyatakan ketujuh anak itu positif terjangkit penyakit lumpuh layu mendadak atau acute flaccid paralysis. Penderita penyakit ini memang memiliki gejala yang sama dengan penderita penyakit polio. Karena itulah, Dinkes Lebak telah mengambil spesimen tinja ketujuh anak untuk diperiksa di sebuah laboratorium di Jakarta. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui anak-anak tersebut terkena virus polio liar atau tidak.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Jabar dokter Yudhi Prayudha, kemungkinan kedelapan anak itu masih dapat disembuhkan karena tidak mengalami lumpuh layu akut. Untuk mencegah virus polio menular, kini kedelapan anak tersebut dianjurkan tidak meninggalkan tempat tinggalnya selama satu pekan ini. Dinkes Jabar juga akan melakukan imunisasi polio massal pada akhir Mei ini.
Sebelumnya, empat anak di Kabupaten Sukabumi telah dinyatakan positif terserang virus polio liar. Tiga di antaranya yakni Fikri Ramdani, Fauziah, dan Aldi Rustandi berasal dari Kecamatan Cidahu. Seorang lagi yaitu Darusalam berasal dari Kecamatan Bojonggenteng.
Selain serangan virus polio liar, di beberapa daerah di Sukabumi juga terdapat kasus lumpuh layu akut. Menurut Dinkes Jabar, sampai pertengahan Mei ini dilaporkan ada 44 kasus lumpuh layu akut pada anak usia di bawah 15 tahun. Penderita tersebar di 18 wilayah dari 25 kabupaten dan kota di Jabar.
Mulai Rabu ini, Dinkes Sukabumi mendirikan Pos Koordinasi Fisioterapi untuk melayani warga yang diduga terserang penyakit polio. Posko didirikan di Balai Desa Giri Jaya, Kecamatan Cidahu. Sebanyak 10 anak yang mengalami kelumpuhan ditangani empat petugas dari Rumah Sakit Umum Daerah Sekarwangi, Cibadak, Sukabumi yang terdiri dari dua dokter dan dua paramedis. Di antara pasien terdapat Fauziah, dua setengah tahun yang telah dinyatakan positif terkena polio.
Menurut Eni Rahmawati, dokter spesialis anak yang memberikan fisioterapi, perawatan ini hanya mendukung untuk mengembalikan fungsi awal sendi dan otot balita (bawah usia lima tahun). Diharapkan, kerusakan sendi dan otot tidak bertambah berat. Dengan begitu, tidak perlu menggunakan kursi roda atau tongkat sebagai alat bantu. Pelayanan fisioterapi ini akan diberikan sekali dalam sepekan.
Sementara itu, Pusat Kesehatan Masyarakat Cidahu membawa empat anak Kampung Lebak Siuh, Desa Sukamaju ke RSUD Sekarwangi. Anak-anak yang mengalami kelumpuhan mirip penderita polio itu akan diperiksa kesehatannya dan menjalani perawatan untuk perbaikan gizi [baca: Diduga Polio, Empat Bocah dari Sukabumi Dirawat].
Kasus penderita lumpuh layu juga ditemukan di Provinsi Banten. Tujuh balita di Desa Banjar Irigasi, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Lebak, Banten, menderita lumpuh layu mendadak yang gejalanya serupa dengan polio. Dua di antara tujuh bayi yang menderita lumpuh total adalah Mashur dan Mita.
Anak pasangan Mahmud Nur dan Yanti, warga Desa Banjar Irigasi, mengalami lumpuh layu sejak dua pekan silam. Mashur, 14 bulan, lumpuh setelah panas dan demam. Sedangkan Mita, kakak Mashur yang berusia dua tahun empat bulan menyusul lumpuh dengan gejala yang sama.
Dinkes Lebak menyatakan ketujuh anak itu positif terjangkit penyakit lumpuh layu mendadak atau acute flaccid paralysis. Penderita penyakit ini memang memiliki gejala yang sama dengan penderita penyakit polio. Karena itulah, Dinkes Lebak telah mengambil spesimen tinja ketujuh anak untuk diperiksa di sebuah laboratorium di Jakarta. Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui anak-anak tersebut terkena virus polio liar atau tidak.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)