Liputan6.com, Karanganyar: Masyarakat di sekitar Pabrik Gula Tasik Madu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, baru-baru ini, menggelar upacara cembengan sebagai tanda dimulainya musim giling tebu. Tradisi digelar sebagai wujud syukur dan memohon keselamatan pada Tuhan saat musim giling tebu berlangsung.
Selain dengan berbagai macam sesaji, upacara cembengan juga diwarnai dengan kirab pengantin tebu yakni dua ikatan tebu yang diambil dari beberapa kebun tebu di Karanganyar. Pengantin tebu dihias sedemikian rupa dan diarak dari dari Desa Suruh menuju Pabrik Gula Tasik Madu yang berjarak sekitar tiga kilometer.
Pasangan tebu ini diarak sambil dikawal pemuda dan pemudi yang membawa sesaji serta umbul-umbul. Selama perjalanan para pengawal shalawatan. Setelah sampai di pabrik, pasangan tebu pengantin, sesaji tujuh kepala kerbau, dan berbagai jenis makanan diserahkan kepada pihak Pabrik Gula Tasik Madu.
Selanjutnya, tebu pengantin diletakkan di penggilingan. Tebu ini digiling pertama kali menandai dimulainya musim giling tahun 2005. Dengan ritual ini diharapkan Tuhan memberi keselamatan kepada warga sekitar pabrik. Diharapkan juga Tuhan memberi keselamatan pada karyawan dan alat gilingan tebu.
Kata cembengan berasal dari bahasa Tionghoa, ching beng yang artinya memohon keselamatan. Di negeri asalnya, ching beng biasanya diwujudkan dengan berziarah ke makam leluhur. Adapun di Tanah Air, tradisi cembengan berlangsung sejak lama dan dilakukan di sejumlah pabrik gula yang terdapat di Pulau Jawa.(JUM/Ferry Aditri)
Selain dengan berbagai macam sesaji, upacara cembengan juga diwarnai dengan kirab pengantin tebu yakni dua ikatan tebu yang diambil dari beberapa kebun tebu di Karanganyar. Pengantin tebu dihias sedemikian rupa dan diarak dari dari Desa Suruh menuju Pabrik Gula Tasik Madu yang berjarak sekitar tiga kilometer.
Pasangan tebu ini diarak sambil dikawal pemuda dan pemudi yang membawa sesaji serta umbul-umbul. Selama perjalanan para pengawal shalawatan. Setelah sampai di pabrik, pasangan tebu pengantin, sesaji tujuh kepala kerbau, dan berbagai jenis makanan diserahkan kepada pihak Pabrik Gula Tasik Madu.
Selanjutnya, tebu pengantin diletakkan di penggilingan. Tebu ini digiling pertama kali menandai dimulainya musim giling tahun 2005. Dengan ritual ini diharapkan Tuhan memberi keselamatan kepada warga sekitar pabrik. Diharapkan juga Tuhan memberi keselamatan pada karyawan dan alat gilingan tebu.
Kata cembengan berasal dari bahasa Tionghoa, ching beng yang artinya memohon keselamatan. Di negeri asalnya, ching beng biasanya diwujudkan dengan berziarah ke makam leluhur. Adapun di Tanah Air, tradisi cembengan berlangsung sejak lama dan dilakukan di sejumlah pabrik gula yang terdapat di Pulau Jawa.(JUM/Ferry Aditri)