Terus Merugi, PT Inka Melakukan Restrukturisasi

PT Inka dalam tiga tahun terakhir ini selalu merugi. Setiap tahunnya PT Inka merugi hampir Rp 10 miliar. Mengantisipasi keterpurukan, PT Inka menerapkan pensiun dini serta restrukturisasi.

oleh Liputan6Diterbitkan 05 Mei 2005, 08:58 WIB
Liputan6.com, Madiun: Dalam beberapa tahun terakhir PT Industri Kereta Api (PT Inka) di Madiun, Jawa Timur, terus mengalami kerugian. Dalam kurun tiga tahun terakhir, PT Inka merugi hingga mencapai Rp 10 miliar per tahun. Kerugian ini disebabkan karena sepinya order dari PT Kereta Api Indonesia.

Mengantisipasi keterpurukan lebih parah, PT Inka menerapkan berbagai cara di antaranya menerapkan pensiun dini bagi karyawannya dan restrukturisasi. Adapun dalam proses restrukturisasi, PT Inka mengubah menjadi tiga: sisi produk dan jasa kereta api, sisi produk dan jasa non-kereta api, serta manufaktur.

Di antara tiga restrukturisasi itu, PT Inka paling menggenjot sisi produk dan jasa non-kereta api yakni dengan memproduksi mobil kancil. Sedangkan pada sisi manufaktur, perusahaan yang kini hanya mempunyai karyawan sekitar 839 orang ini menjalankan bisnis manufaktur produk kereta api dan jasa permesinan.

Meski situasi lesu, PT Inka tetap melakukan kontrak dengan perusahaan asing. PT Inka telah menandatangani kontrak dengan Bangladesh untuk membuat 50 unit kereta dengan nilai sebesar US$ 13,8 juta atau hampir mencapai Rp 138 miliar. Dalam kontrak itu PT Inka harus menyelesaikan pesanan dalam kurun waktu sembilan bulan.

Buramnya dunia kereta api Indonesia sangat tergambar dari potret Herdis, seorang masinis kereta api. Herdis memulai kariernya pada 1973, saat tempat bekerjanya masih bernama Perusahaan Negara Kereta Api dengan status pegawai negeri sipil. Setelah perusahaan ini menjadi PT KAI--tahun 1999--status Herdis berganti menjadi karyawan swasta.

Kini, Herdis tercatat sebagai karyawan PT KAI dengan golongan 2D. Ayah tiga anak ini memperoleh gaji pokok sebesar Rp 1.380.000 per bulan. Selain itu, Herdis juga mendapat tunjangan keluarga sebesar 10 persen dari gaji pokok. Tiap bulan ia juga mendapat tunjangan makan keluarga Rp 60 ribu per bulan.

Herdis mengaku sulit menghidupi istri dan anaknya dengan gaji dan tunjangan yang diterima tiap bulan. Namun, sebagai pegawai rendahan ia tak bisa menuntut banyak. Untuk menutupi beban hidup sehari-hari yang semakin besar ini ia membuka warung kecil di rumah dinasnya yang berukuran 3 x 12 meter.

Meski banyak mengalami kesulitan hidup, Herdis menjalankan tugas sebagai masinis KA Argo Gede jurusan Bandung-Gambir dengan baik. Rutinitasnya diawali dari Depo Stasiun Bandung. Setelah mengecek kondisi lokomotif dan dinilai laik jalan, Herdis mengemudikan lokomotif Argo Gede dengan gerbong lainnya. Masinis adalah ujung tombak pada jasa angkutan kereta api. Lantaran itu tanggung jawabnya amat berat. Termasuk menjamin keselamatan ratusan penumpang selama di perjalanan.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya