Liputan6.com, Jakarta: Lembaga swadaya masyarakat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menduga illegal logging atau pembalakan liar di Taman Nasional Gunung Lauser, Nanggroe Aceh Darussalam, sebagai penyebab banjir bandang di Kabupaten Aceh Tenggara. Walhi dan pemerhati lingkungan lainnya masih terus menyelidiki untuk mengetahui pihak-pihak yang terkait dalam pembalakan ini. "Ini baru [banjir] awal karena illegal logging untuk kebutuhan pembangunan Aceh sangat luar biasa," jelas Sofyan, Direktur Eksekutif Walhi Yogyakarta di Jakarta, Kamis (28/4).
Sofyan mengatakan, Walhi menduga penebangan liar banyak terjadi di sekitar Desa Lawe Mengkudu, Laklak dan Lawe Gerger di Aceh Tenggara yang merupakan kawasan ekosistem Gunung Leuser. Dugaan ini berdasarkan bukti-bukti berupa sampah balok kayu dan sisa-sisa tebangan yang hanyut dibawa banjir bandang sejauh 15 kilometer dari Lawe Mengkudu. "Kami melihat ada 14 titik yang akan diambil untuk mencari bukti pembalakan liar ini," tambah Sofyan.
Lokasi suaka alam atau objek wisata unggulan di Provinsi NAD ada 10 lokasi. Taman Nasional Gunung Leuser merupakan kawasan terluas mencapai 7.926,75 kilometer persegi. Hamparan Leuser terletak di tiga kabupaten, yaitu Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Aceh Tenggara.
Tudingan Walhi ini langsung mendapat tanggapan dari Bupati Aceh Tenggara Armen Desky. Menurut dia, musibah tersebut murni bencana alam. Itu karena struktur tanah di Aceh Tenggara labil. Ia mencontohkan, pada tahun 1980-an bencana serupa pernah terjadi. Namun saat itu korbannya tidak sebanyak kejadian dua hari silam. Karena itu, Armen meminta semua pihak melihat kondisi yang sebenarnya di Aceh Tenggara.
Seperti diketahui dua hari silam banjir bandang hebat melanda sejumlah desa di kawasan Aceh Tenggara. Sembilan orang dilaporkan tewas akibat terseret banjir kiriman tersebut. Sembilan korban tewas ini sudah dievakuasi tim dari Palang Merah Indonesia dibantu personel TNI dan Polri. Banjir juga melukai 12 orang dan merusak 60 rumah [baca: Sembilan Warga Aceh Tenggara Tewas Terseret Banjir].
Saat ini kondisi tiga desa yang terkena banjir bandang sangat memprihatinkan. Di mana-mana teronggok kayu dan batang-batang pohon. Sebagian besar batang pohon tersebut masih dalam bentuk gelondongan, baik yang bekas potong maupun yang tercerabut dari akarnya. Diperkirakan, jumlah korban tewas pun masih akan bertambah mengingat banyak warga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya.(DEN/Tommy Fadjar dan Muhamad Guntur)
Sofyan mengatakan, Walhi menduga penebangan liar banyak terjadi di sekitar Desa Lawe Mengkudu, Laklak dan Lawe Gerger di Aceh Tenggara yang merupakan kawasan ekosistem Gunung Leuser. Dugaan ini berdasarkan bukti-bukti berupa sampah balok kayu dan sisa-sisa tebangan yang hanyut dibawa banjir bandang sejauh 15 kilometer dari Lawe Mengkudu. "Kami melihat ada 14 titik yang akan diambil untuk mencari bukti pembalakan liar ini," tambah Sofyan.
Lokasi suaka alam atau objek wisata unggulan di Provinsi NAD ada 10 lokasi. Taman Nasional Gunung Leuser merupakan kawasan terluas mencapai 7.926,75 kilometer persegi. Hamparan Leuser terletak di tiga kabupaten, yaitu Aceh Selatan, Aceh Singkil, dan Aceh Tenggara.
Tudingan Walhi ini langsung mendapat tanggapan dari Bupati Aceh Tenggara Armen Desky. Menurut dia, musibah tersebut murni bencana alam. Itu karena struktur tanah di Aceh Tenggara labil. Ia mencontohkan, pada tahun 1980-an bencana serupa pernah terjadi. Namun saat itu korbannya tidak sebanyak kejadian dua hari silam. Karena itu, Armen meminta semua pihak melihat kondisi yang sebenarnya di Aceh Tenggara.
Seperti diketahui dua hari silam banjir bandang hebat melanda sejumlah desa di kawasan Aceh Tenggara. Sembilan orang dilaporkan tewas akibat terseret banjir kiriman tersebut. Sembilan korban tewas ini sudah dievakuasi tim dari Palang Merah Indonesia dibantu personel TNI dan Polri. Banjir juga melukai 12 orang dan merusak 60 rumah [baca: Sembilan Warga Aceh Tenggara Tewas Terseret Banjir].
Saat ini kondisi tiga desa yang terkena banjir bandang sangat memprihatinkan. Di mana-mana teronggok kayu dan batang-batang pohon. Sebagian besar batang pohon tersebut masih dalam bentuk gelondongan, baik yang bekas potong maupun yang tercerabut dari akarnya. Diperkirakan, jumlah korban tewas pun masih akan bertambah mengingat banyak warga yang melaporkan kehilangan anggota keluarganya.(DEN/Tommy Fadjar dan Muhamad Guntur)