AS Blokir AI China DeepSeek dari Sistem Pemerintah

Pemerintah Amerika Serikat (AS) melarang penggunaan seluruh teknologi AI DeepSeek, di ranah instansi pemerintah.

Diterbitkan 20 Oktober 2026, 14:53 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat (AS) melarang penggunaan seluruh teknologi kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan China, DeepSeek, di ranah instansi sipil.

Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security/DHS) menginstruksikan seluruh lembaga federal untuk menghapus model tersebut beserta produk keturunannya.

Mengutip BBC, Selasa (20/10/2026), perintah ini membatasi pemanfaatan di kementerian sipil strategis seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, serta Kementerian Hukum.

Kendati pengumuman baru dirilis, kebijakan pembatasan tersebut sejatinya telah berlaku sejak akhir Juli 2026. Adapun unit di bawah Departemen Pertahanan dikecualikan dari aturan ini.

DeepSeek, yang meluncurkan model perdana pada 2025, mengguncang peta persaingan teknologi global berkat skema sumber terbuka (open-source).

Pendekatan ini memungkinkan publik mengakses platform secara cuma-cuma dengan biaya pengoperasian jauh lebih hemat dibanding kompetitor.

Aplikasi obrolan gratis milik perusahaan yang berbasis di Hangzhou tersebut bahkan sempat melesat di tangga unduhan Apple App Store. Sejumlah korporasi teknologi AS seperti Snowflake, Vercel, hingga OpenRouter turut mengintegrasikan DeepSeek ke dalam layanan mereka.

Pengembang rintisan juga berbondong-bondong mengadopsi platform ini karena memangkas anggaran pengembangan jika dibandingkan dengan model tertutup semacam Google Gemini, Anthropic Claude, atau OpenAI Codex.

DeepSeek vs OpenAI

Dari sisi efisiensi modal, DeepSeek sempat mengguncang bursa saham teknologi. Laporan menyebutkan biaya pelatihan model awal DeepSeek hanya menelan dana sekitar USD 6 juta (sekitar Rp 95 miliar).

Angka ini berbanding terbalik dengan anggaran OpenAI yang menghabiskan sekitar USD 100 juta demi melatih GPT-4.

Model generasi terbaru yang rilis pekan lalu bahkan mendapat pujian luas dari komunitas pengembang karena dinilai melampaui keandalan AI buatan AS dalam tugas pemrosesan kode komputer.

Meskipun pemberitahuan DHS tidak merinci ancaman teknis secara spesifik, langkah tegas ini sejalan dengan pengetatan kebijakan Gedung Putih terhadap sektor teknologi Tiongkok.

Dugaan Eksploitasi Berbahaya

Presiden Donald Trump secara konsisten menempatkan Beijing sebagai rival utama dalam perebutan dominasi AI, yang dinilainya amat krusial bagi masa depan keamanan nasional.

Sebelumnya, Penasihat Teknologi Gedung Putih, Michael Kratsios, melayangkan memo internal yang menyoroti dugaan eksploitasi berbahaya terhadap inovasi domestik oleh pesaing asal Tiongkok.

Sejumlah raksasa AI Negeri Paman Sam, termasuk OpenAI dan Anthropic--yang tengah bersiap melakukan penawaran saham perdana (IPO)--turut menuding beberapa pengembang Tiongkok, termasuk DeepSeek, telah meniru arsitektur model mereka.

Hingga berita ini diturunkan, pihak DHS, DeepSeek, maupun Kedutaan Besar Tiongkok di Washington DC belum memberikan tanggapan resmi terkait pemblokiran tersebut.