Sukses

Pengamat: Starlink Bisa Libas Operator Seluler di Indonesia Jika Dibiarkan Tanpa Regulasi

Starlink dinilai bisa menjadi ancaman serius bagi pelaku industri telekomunikasi di Indonesia, terutama operator seluler.

Liputan6.com, Jakarta - Meski baru beroperasi di Indonesia, layanan internet satelit Starlink cukup menyita perhatian masyarakat dan industri terkait.

Jaringan internet besutan Elon Musk ini bahkan dinilai bisa menjadi ancaman serius bagi pelaku industri telekomunikasi di Indonesia.

Pengamat Telekomunikasi dari Indotelko Forum, Doni Ismanto Darwin, mengatakan untuk saat ini Starlink memang masih belum menjadi pesaing serius bagi pemain besar industri telekomunikasi Indonesia.

"Namun perlu diingat, jika Starlink dibiarkan saja tanpa diberikan regulasi dari pemerintah, maka ia bisa menjadi pemain besar mengalahkan operator seluler dan fiber optic di Indonesia saat ini," ujarnya mengingatkan.

Doni pun menyoroti perkembangan Starlink yang sangat besar di luar negeri. Bahkan, Elon Musk telah melakukan uji coba layanan internet Starlink langsung ke ponsel pintar (smartphone) tanpa memerlukan parabola.

"Starlink berpotensi menjadi pemain besar di Indonesia, jika teknologi layanan satelit Direct-to-Cell yang memungkinkan smartphone bisa terhubung ke jaringan Starlink tanpa memerlukan parabola khusus resmi dihadirkan," ujarnya.

Doni juga melihat kemungkinan penyedia layanan internet kecil bisa menjadi mangsa Starlink.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Pemerintah Harus Desak Starlink untuk Bangun Infrastruktur Jaringan

Untuk mencegah hal itu terjadi, ia menyarankan agar Starlink bekerjasama dengan provider internet di daerah terpencil agar layanan Starlink bisa diakses oleh lebih banyak pengguna, sekaligus menjalin sinergi dengan perusahaan tersebut.

"Sebaiknya, Starlink bekerja sama dengan provider kecil agar layanan dari Starlink bisa lebih banyak tersentuh pengguna yang belum memiliki akses internet," ujar Doni.

Selain itu, Doni juga menyarankan agar pemerintah mendesak Starlink untuk memenuhi janjinya dalam membangun infrastruktur jaringan internet di Indonesia secara serius.

"Jika Starlink benar-benar serius membantu jaringan internet Indonesia, mereka perlu membangun Gateway di Indonesia.

Tak hanya itu, janji Starlink untuk membangun infrastruktur di Indonesia perlu direalisasikan secepatnya, agar masyarakat yakin bahwa Starlink serius di Indonesia," ujarnya.

 

3 dari 5 halaman

Pilihan Baru Bagi Masyarakat

Ia berpendapat bahwa layanan internet milik Elon Musk ini bisa menjadi pilihan bagi masyarakat.

"Hadirnya Starlink bisa menjadi pilihan baru bagi pengguna yang ingin memiliki layanan internet sesuai kebutuhan mereka, karena internet Starlink menggunakan satelit LEO (Low Earth Orbit) yang memiliki keunggulan dari layanan lain yang menggunakan satelit GEO (Geostasioner Earth Orbit), " ujar Doni.

Menurut Doni, layanan Starlink akan cocok untuk daerah dengan jangkauan internet yang terbatas, serta daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

"Penggunaan Starlink akan cocok jika alat ini digunakan di daerah yang masih belum tersentuh layanan internet seluler dan fiber optic", katanya.

Pun demikian, ia tak menampik bahwa munculnya Starlink akan memberikan dampak bagi pemain lama layanan internet satelit yang lebih dulu hadir di Indonesia.

"Tentu dampak munculnya Starlink akan dirasakan bagi operator satelit Pasifik Satelit Nusantara (PSN), karena keduanya memiliki pangsa pasar yang kurang lebih sama," imbuhnya.

 

4 dari 5 halaman

Starlink Bisa Jadi Complementary

Ia juga menyoroti peluncuran Starlink di Puskesmas Pembantu Sumerta Kelod, Kota Denpasar, Bali. Menurutnya, Starlink tidak akan mengambil pangsa pasar dari layanan internet satelit Satria-1, yang telah memberikan layanan bagi perangkat pemerintah yang berada di daerah 3T.

"Keberadaan Starlink belum bisa mengusik Satria-1 yang menjadi layanan internet bagi perangkat pemerintah di daerah yang tidak memiliki akses internet," ujarnya.

"Sebagai contoh, Kemenkes telah memiliki sekitar 10 ribu Puskesmas yang tersebar di seluruh Indonesia, dan 80 persen Puskesmas itu telah memiliki layanan internet satelit dari Satria-1," tambahnya.

Meski begitu, layanan Starlink juga diperlukan untuk memberikan layanan internet bagi instansi pemerintah yang masih belum tersetuh layanan internet Satria-1.

"Starlink bisa menjadi complementary untuk Puskesmas atau perangkat pemerintah lain yang masih belum tersentuh internet," pungkasnya.

5 dari 5 halaman

Infografis 10 Negara Pertama dan 10 Pengguna Terbaru Starlink. (Liputan6.com/Abdillah)

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.