Sukses

DreadOut hingga Troublemaker, Ini 5 Game Lokal Populer yang Rilis di Steam

Liputan6.com, Jakarta Pemblokiran Steam, Epic Games, dan PayPal yang tidak melakukan registrasi Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menuai kontra dari masyarakat.

Apalagi, Steam dan Epic Games Store menjadi dua platform distribusi game raksasa di dunia, termasuk bagi para developer game lokal. Tak sedikit pembuat game Indonesia yang menjual karya-karyanya di sana.

Salah satu yang banyak dipakai oleh para developer lokal untuk menjual game buatan mereka adalah Steam yang dimiliki oleh Valve. Beberapa game ini bahkan populer setelah dimainkan oleh para YouTuber Gaming.

Buat kamu yang belum tahu, berikut ini lima game lokal populer buatan anak bangsa yang dijual di platform Steam. Selain daftar ini, tentunya ada banyak game-game lain yang dirilis melalui platform tersebut.

1. DreadOut

DreadOut dirilis di Steam pertama kali pada 2014 oleh developer dan publisher Digital Happiness, sebuah perusahaan gim asal Bandung, Jawa Barat. Di seri utamanya, seri ini sudah merilis dua judul yaitu DreadOut dan DreadOut 2 pada 2020.

Di gim ini, pemain berperan sebagai Linda, seorang pelajar SMA yang terperangkap di sebuah kota tua berhantu, di mana dia harus melawan hantu dan monster menggunakan kamera smartphone-nya.

Di sekuelnya, Linda mendapatkan kemampuan baru untuk bertarung melawan hantu dan monster lewat pertarungan jarak dekat. Ia pun harus menguak misteri yang menyelimuti di sekitarnya.

Baik game DreadOut maupun DreadOut 2 sama-sama mendapatkan ulasan positif di Steam.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Coffee Talk dan Escape from Naraka

2. Coffee Talk

Coffee Talk dibuat dan dirilis oleh Toge Productions. Gim kasual berbasis narasi ini pertama kali diluncurkan di Steam pada 2020 yang lalu.

Meski mengandalkan dialog dalam permainannya, namun game ini mendapatkan ulasan yang cukup positif, termasuk dari beberapa media luar negeri seperti The Verge dan Game Informer.

Di sini, pemain akan menjadi barista yang merupakan seorang pemilik dan satu-satunya karyawan dari kedai kopi Coffee Talk, di mana dia harus bertemu dengan pelanggannya dari berbagai ras fiksi.

Pemain pun akan menemui berbagai permasalahan yang dialami oleh para pelanggannya, dan mendiskusikan kekhawatiran mereka dengan barista dan satu sama lain.

3. Escape from Naraka

Escape from Naraka dikembangkan oleh XeloGames, developer gim Indonesia yang berbasis di Bali. Game first-person action ini diterbitkan oleh Headup dan dirilis di Steam pada Juli 2021.

Gim ini sendiri mengangkat banyak unsur-unsur kebudayaan Bali, serta mengambil inspirasi dari legenda Bali dan mitologi lokal. Pemain pun dituntut melalui berbagai tantangan yang dihadirkan di gim ini.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

3 dari 4 halaman

Pamali dan Troublemaker

4. Pamali: Indonesian Folklore Horror

Mendapatkan ulasan "Very Positive" di Steam, Pamali: Indonesian Folklore Horror dirilis pada Desember 2018, dan digarap oleh StoryTale Studios.

Seri ini sudah mengeluarkan beberapa konten yang membawa pemainnya untuk "menghadapi" berbagai hantu-hantu khas Indonesia seperti kuntilanak, pocong, dan tuyul.

Gim ini mengangkat cerita tentang berbagai hal tabu dalam masyarakat Indonesia. Dalam satu cerita, pemain juga dapat menemukan beberapa ending yang dipengaruhi apa yang kamu lakukan selama permainan.

5. Troublemaker

Troublemaker sendiri terbilang gim yang belum sepenuhnya rilis, namun sudah mendapatkan banyak sorotan di kalangan gamers lokal. Pasalnya, gim action-adventure-beat'em-up ini mengangkat latar pelajar SMA.

Gim yang awalnya berjudul Parakacuk ini dikembangkan oleh Gamecom Team dan direncanakan rilis pada tahun 2023. Namun, versi demonya sudah beredar di Steam.

Meski memiliki latar seputar dunia sekolah, namun gim ini berani menghadirkan pertarungan antar remaja, hingga tak segan mengeluarkan kata-kata kasar, mengingatkan kita akan game Bully besutan Rockstar.

Maka dari itu, gim ini sudah pasti ditujukan untuk para gamers yang sudah beranjak dewasa.

(Dio/Isk)

4 dari 4 halaman

Pelaku Game Lokal Soal Kominfo Blokir Steam

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sebelumnya memblokir delapan layanan digital atau Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE), sejak Sabtu 30 Juli 2022.

Dari delapan layanan digital tersebut, pemblokiran situs gaming terpopuler seperti Steam, Epic Games, hingga Origins (EA) menuai reaksi keras dari warganet.

Tak butuh waktu lama, keyword #BlokirKominfo, Steam, hingga Epic Games pun menjadi trending di Twitter hingga saat ini.

Kisruh Kominfo blokir Steam dan Epic Games di media sosial Twitter pun menuai berbagai reaksi dari para pelaku industri gaming di Indonesia.

Salah satunya adalah CEO dan Founder Toge Prodution, Kris Antoni. Saat dihubungi tim Tekno Lipuan6.com, dirinya mengaku saat ini sedang membantu Kominfo dan Valve bertemu.

"Saya cuma bisa bilang saat ini Toge Productions telah melakukan mediasi dan mempertemukan Valve dan Kominfo lewat email," kata Kris.

Sayangnya, Kris tidak mengungkap lebih lanjut tentang bagaimana perkembangan dari pertemuan kedua pihak tersebut. "Proses selanjutnya ditunggu saja, semoga dalam waktu dekat bisa menemukan titik terang," ucap Kris.

Sementara, Asosiasi Game Indonesia (AGI) pun mengimbau para pelaku industri game swasta di Indonesia sebagai PSE Lingkup Privat untuk segera mendaftarkan diri.

"Kami mengimbau mereka untuk mendaftar melalui Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi secara Elektronik Berbasis Risiko/Online Single Submission Risk-Based Approach (OSS RBA) pada laman oss.go.id," tulis AGI dalam situs web resminya, dikutip Sabtu (30/7/2022).

AGI menambahkan pemutusan akses tidak bersifat permanen, dan akan dapat digunakan kembali oleh masyarakat Indonesia seperti sedia kala setelah para PSE yang terpengaruh telah terdaftar.

"Saat ini Kominfo aktif berkomunikasi dengan para PSE yang terpengaruh dan akan ditindaklanjuti setelah PSE melakukan pendaftaran," AGI menuturkan.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS