Sukses

Banyak yang Salah Kaprah, Ini Cara Agar Startup Bisa Efisiensi Biaya Jangka Panjang

Liputan6.com, Jakarta - Gunawan Susanto, Country Leader AWS Indonesia, menilai banyak startup yang salah kaprah dalam penghitungan efisiensi biaya.

Tak sedikit yang hanya mengejar diskon besar atau pemberian kredit pada pembelanjaan awal untuk tujuan efisiensi biaya. Untuk itu, mereka harus benar-benar strategis dalam memilih teknologi cloud-nya.

"Itu bisa jadi pertimbangan, tetapi untuk tujuan jangka pendek. Namun, untuk kebutuhan efisiensi jangka panjang, startup harus memperhitungkan apakah kapasitas yang mereka bayar sesuai dengan kebutuhan pada saat itu," ujar Gunawan melalui keterangannya, Selasa (10/11/2020).

Gunawan menambahkan, infrastruktur teknologi yang dibangun hendaknya berlandaskan pada misi untuk menciptakan efisiensi biaya dalam jangka panjang.

Skalabilitas pada startup digital memang menjadi isu krusial yang sangat berkorelasi dengan efisiensi serta optimalisasi biaya. Bayangkan jika mereka hanya menggunakan infrastruktur fisik.

Ketika misalnya terjadi lonjakan transaksi, sementara jumlah server yang tersedia kapasitasnya tidak mencukupi, maka keberlangsungan bisnis dapat terganggu karena tidak mampu memberikan layanan optimal kepada pelanggan.

"Risikonya, pelanggan bisa berpindah ke kompetitor," ucap gunawan.

Pun jika ternyata kinerja bisnisnya berada di bawah proyeksi, maka akan ada pemborosan kapasitas. Server yang sudah telanjur dibeli sudah barang tentu tidak dapat dikembalikan ke penjualnya.

Atau, jika sudah menggunakan layanan cloud dan kapasitas-kapasitas yang sudah dibayar ternyata belum dibutuhkan, maka banyak fitur yang menjadi sia-sia keberadaannya.

Tujuan untuk melakukan penghematan dan optimalisasi penggunaan biaya pada startup pun menjadi tidak tercapai.

 

2 dari 3 halaman

Ikuti Tips Berikut

AWS memberikan tips agar startup mampu memangkas biaya yang tidak perlu ketika menggunakan cloud:

• Pastikan para pemilik bisnis atau founder telah membangun sistem yang mampu menghadirkan transparansi seluruh pembiayaan terkait beban kerja

• Buat laporan dan anggaran biaya, serta buat sistem yang mampu memberikan peringatan atau alert pada saat ada kelebihan pengeluaran dari yang diekspektasikan.

• Gunakan tools yang mampu membantu startup untuk melakukan monitor dan mengelola biaya yang dikeluarkan untuk cloud.

• Pastikan bahwa startup menggunakan layanan cloud yang tepat untuk kebutuhan yang tepat, atau rightsizing.

Gunawan mengingatkan, teknologi adalah faktor kritikal terutama bagi startup yang bertumpu pada teknologi dalam menghadirkan layanannya.

Namun, fokus dari startup baru adalah mengembangkan bisnisnya, akuisisi pelanggan baru, mengembangkan tim, serta mengembangkan produk dan atau layanan yang disediakan untuk pelanggannya.

 

3 dari 3 halaman

Agar Teknologi Tak Jadi Penghambat

Gunawan menegaskan teknologi harus menjadi faktor pendukung dan bukan menjadi penghambat. Lalu, bagaimana supaya teknologi tidak menjadi penghambat?

• Teknologi harus murah. Startup pemula bisa mencoba dulu layanan berskala kecil dan yang hanya sesuai kebutuhan. Bisa memanfaatkan program-program gratis seperti program Free Tier AWS yang diperuntukkan bagi startup yang baru memulai kegiatan bisnisnya.

• Pilih layanan Pay-per-Use. Startup baru bisa mulai memanfaatkan layanan yang sangat terjangkau dengan pembayaran per GB/jam. Contohnya seperti storage S3 dari AWS.

• Bagi yang mau langsung mengeksplorasi teknologi AI seperti recommendation engines, bisa memulai dengan pemanfaatan untuk per sekian ribu pelanggan terlebih dulu. Tidak perlu harus langsung membayar sejumlah lisensi yang mahal jika memang belum dibutuhkan.

• Pilih penyedia layanan yang menawarkan akses yang sama untuk memanfaatkan teknologi yang disediakan bagi semua pelanggan tanpa melihat skala bisnisnya.

Seperti AWS yang membuka kesempatan yang sama bagi seluruh pelanggannya untuk mengakses teknologi-teknologi yang tersedia, dari komputasi, storage, hingga container, serverless, termasuk dalam penggunaan AI dan ML.

(Isk/Ysl)