Sukses

UNICEF Tekankan Pentingnya Pengawasan Aktivitas Online Anak-Anak

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia disebut menjadi salah satu negara progresif dalam hal penggunaan platform digital untuk anak-anak. Hal itu diketahui dari data UNICEF yang menyebut 98,3 persen anak dan remaja di Indonesia sudah memiliki akses terhadap smartphone.

Data itu juga menyebut 90,7 persen anak dan remaja yang mendapatkan akses itu, memakainya untuk media sosial, bermain gim online, dan menonton film. Dengan jumlah itu, Indonesia disebut menjadi salah satu negara dengan pengguna internet anak-anak tertinggi.

Melihat kondisi ini, Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Indonesia Astrid Gonzaga Dionisio mengatakan orang tua berperan penting untuk memantau pemakaian internet anaknya. Terlebih, kondisi saat ini membuat anak-anak lebih banyak di rumah.

"Data menunjukkan sebelum pandemi ini, anak-anak bisa menghabiskan lima jam untuk mengakses internet di hari biasa dan tujuh jam di hari libur. Meski belum ada data lanjutan, jumlah ini kemungkinan naik dalam kondisi seperti sekarang," tutur Astrid dalam sebuah sesi online bersama media.

Durasi tersebut, menurut Astrid, sebenarnya cukup tinggi bagi pengguna anak-anak maupun remaja. Oleh sebab itu, dia menganjurkan orang tua dapat membangun ekosistem internet yang aman bagi anak.

"Salah satunya yang dapat dilakukan adalah membangun kesepakatan bersama mengenai durasi pemakaian internet dan konten apa saja yang dapat diakses anak," ujar Astrid menjelaskan.

Terlebih, dengan tingginya durasi pemakaian internet seperti itu, anak-anak rentan terpapar risiko penyalahgunaan, mulai dari mendapat konten tidak sesuai umur, mereka sebagai objek kegiatan orang dewasa, atau mereka menjadi pelaku sekaligus korban.

"Untuk itu, orang tua harus membangun trust dengan anak saat mengakses internet. Orang tua harus mampu memfasilitasi, terutama remaja, yang mana mereka di masanya mencari jati diri," tutur Astrid lebih lanjut.

Astrid pun menekankan tidak ada kata terlambat bagi orang tua untuk belajar internet. Setidaknya, mereka dapat mendampingi anak-anaknya ketika mengakses internet. Dia pun mengatakan, dengan imbauan beraktivitas di rumah, orangtua dapat memanfaatkannya untuk membangun komunikasi lebih baik bersama anak.

2 dari 3 halaman

Hadirkan Family Pairing, TikTok Tetap Ajak Orangtua Aktif Pantau Aktivitas Anak

Terlepas dari hal itu, TikTok baru saja mengumumkan kehadiran fitur baru untuk aplikasinya, yakni Family Pairing. Lewat fitur ini, orangtua bisa terlibat langsung untuk mengetahui aktivitas anaknya saat menggunakan TikTok.

"Keamanan dan kenyamanan remaja di TikTok menjadi perhatian kami, sebab ada kebutuhan nyata untuk meningkatkan hal tersebut," tutur Head of Public Policy of TikTok Indonesia, Malaysia, and Philippines, Donny Eryastha.

Donny mengatakan, hal ini tidak lepas dari semakin banyak orang yang menyalahgunakan platform digital, termasuk yang menyasar anak-anak. Data KPAI 2019 menyebut kasus kejahatan online yang menjerat anak mencapai 600an kasus.

"Jadi, TikTok sebenarnya dari sisi produk ingin mengajak orangtua lebih terlibat saat anaknya bermain aplikasi kami," tutur Donny menjelaskan.

Terlebih, berdasarkan laporan UNICEF tahun 2018 menyebut 98,3 persen remaja berusia 16-24 tahun di Indonesia sudah memiliki smartphone. Lalu, 90,7 persen di antaranya mengaku sudah mengakses internet.

"Indonesia memang dikenal progresif dalam hal pemanfaatan platform digital, tapi tetap perlu diketahui dampaknya bagi anak-anak, termasuk risiko yang berkaitan dengan pemanfaatan internet," tutur Spesialis Perlindungan Anak UNICEF Indonesia Astrid Gonzaga Dionisio.

Oleh sebab itu, Astrid mengatakan peran orangtua dalam lingkungan internet anak sangat besar. Orangtua perlu menjadi mitra bagi anak untuk membangun ekosistem internet yang aman dan sehat.

3 dari 3 halaman

Peran Serta Semua Pihak

Dalam kesempatan itu, Donny juga mengatakan peran untuk membangun ekosistem internet yang aman dan nyaman bagi anak perlu digalakkan semua pemangku kepentingan, termasuk para orangtua.

Oleh sebab itu, dia mengatakan fitur Family Pairing di TikTok hanya menjadi salah satu komponen untuk membangun ekosistem internet aman bagi anak. Peran aktif orangtua sangat diperlukan.

"Menurut saya, di samping ada fitur ini, orangtua tetap harus aktif mencari tahu platform digital seperti apa yang digunakan anak-anaknya, lebih baik orangtua aktif juga," tuturnya.

Untuk mendukung fitur ini, TikTok juga melakukan sejumlah aktivitas bersama UNICEF dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Namun mengingat kondisi saat ini tidak memungkinkan untuk dilakukan langsung, TikTok akan melakukannya secara online.

(Dam/Why)