Relawan Korban Kebakaran Gunung Bromo Masih Kritis di Rumah Sakit

Suraji (44), relawan pemadam kebakaran Gunung Bromo masih terbaring lemas akibat luka bakar serius, infeksi berat, dan komplikasi paru-paru.

Liputan6.com, Probolinggo - Tragedi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memakan korban. Hingga Senin (19/10/2026), tercatat lima orang pejuang pemadam api gugur, sementara seorang relawan kini berada dalam kondisi kritis dan harus mengandalkan alat bantu pernapasan.

​Suraji (44), relawan pemadam karhutla TNBTS, saat ini terkulai lemah di Ruang Observasi Intensif (ROI) RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Ia mengandalkan mesin ventilator akibat luka bakar serius, infeksi berat, serta komplikasi paru-paru yang dideritanya usai bertempur melawan kobaran api di Bromo.

​"Pasien masih memerlukan bantuan mesin untuk bernapas. Tim medis saat ini fokus mengatasi infeksi berat akibat luka bakar, kadar protein darah yang drop, serta infeksi pada paru-paru," ujar Staf Humas RSUD Dr. Soetomo, Adin Niken Primasari, Rabu (21/10/2026).

​Niken menambahkan, tim medis terus mengguyur asupan protein tinggi via infus serta antibiotik dosis tinggi untuk menekan infeksi yang menggerogoti tubuh Suraji sejak ia dioperasi pada Jumat (16/10/2026).

​Dukungan dan doa mengalir untuk kesembuhan Suraji. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Oemar Syarief, yang menjenguk langsung ke RSUD Dr. Soetomo, berharap sang relawan dapat melewati masa kritisnya.

​"Beliau saat ini memang berada di ruang perawatan intensif. Kita doakan bersama mudah-mudahan Pak Suraji segera sembuh, pulih, dan dapat beraktivitas kembali," tutur Oemar.

​Di balik perjuangan Suraji, duka mendalam menyelimuti tim pemadam. Beberapa jam sebelum perkembangan kondisi Suraji dirilis, satu nyawa pejuang karhutla kembali melayang.

​Munawi (44), petugas Balai Besar TNBTS, mengembuskan napas terakhirnya di RSUD Dr. Soetomo pada Senin (19/10/2026) pukul 14.55 WIB, setelah empat hari berjuang pasca-operasi luka bakar.

​Munawi dirujuk ke Surabaya dengan luka bakar parah mencapai 51 persen dari luas permukaan tubuhnya. Kondisinya terus memburuk akibat fenomena gagal organ multipel (gagal fungsi pada banyak organ vital).

​"Sejak pagi hari kematiannya, kondisi pasien terus menurun. Tekanan darah melorot tajam (syok) dan detak jantungnya melemah secara drastis," terang Niken.

​Meskipun tim medis telah meningkatkan dosis obat penopang jantung dan melakukan tindakan resusitasi pijat jantung, nyawa Munawi tidak tertolong.

"Pasien dinyatakan meninggal dunia pukul 14.55 WIB di hadapan keluarga," imbuhnya.

​Gugurnya Munawi menambah panjang daftar kelam pejuang karhutla TNBTS menjadi 5 orang. Sebelum Munawi, empat garda terdepan telah lebih dahulu gugur saat berhadapan langsung dengan amukan jago merah di Bromo.

Mereka antara lain Sukaris (55) petugas Balai Besar TNBTS, Hendra Rony Wagiyamata (33) petugas Balai Besar TNBTS, Wisnu Yuda Pratama (25 Relawan (Karyawan Hotel), dan Safriel Ardiansyah (19) relawan (karyawan hotel)

​Tragedi ini menjadi catatan kelam dan alarm keras terkait besarnya risiko serta taruhan nyawa para petugas dan relawan di garis depan penanganan kebakaran hutan di Indonesia.