Petaka Pesta Dangdut di Demak

Seorang pemuda berusia 22 tahun tewas setelah mengalami luka tusuk di dada saat keributan pecah di tengah pertunjukan musik Laluna, Minggu (18/10/2026) malam.

Diterbitkan 20 Oktober 2026, 00:29 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pesta musik dangdut yang seharusnya menjadi ajang hiburan berubah menjadi tragedi berdarah di Desa Karangsono, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Seorang pemuda berusia 22 tahun tewas setelah mengalami luka tusuk di dada saat keributan pecah di tengah pertunjukan musik Laluna, Minggu (18/10/2026) malam.

Korban bernama Krisna, warga Desa Jragung, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada Senin (19/10/2026) dini hari.

Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 23.00 WIB, saat pertunjukan memasuki lagu terakhir. Di tengah keributan yang melibatkan sejumlah penonton, Krisna terpisah dari dua temannya, Refano dan Rio.

Sebelum kejadian, ketiganya berangkat bersama dari rumah sekitar pukul 20.30 WIB menggunakan satu sepeda motor. Mereka tiba di lokasi sekitar pukul 21.00 WIB. Mereka menikmati pertunjukan dengan berjoget di luar area acara, karena bukan tamu undangan resmi.

Suasana awalnya berlangsung seperti pertunjukan dangdut pada umumnya. Namun, menjelang akhir acara, keributan mendadak pecah di antara sejumlah penonton.

Di tengah situasi yang kacau, Refano dan Rio kehilangan kontak dengan Krisna. Keduanya berusaha mencari keberadaan teman mereka di sekitar lokasi pertunjukan.

Namun, Krisna tidak ditemukan di antara kerumunan penonton. Pencarian kemudian mengarah ke sebuah klinik di Desa Karangsono, setelah Refano bertemu dengan temannya, Rokhim.

Dari Rokhim, Refano mendapat informasi bahwa Krisna berada di klinik tersebut. Setibanya di klinik, Refano mendapati Krisna sedang mendapat penanganan medis dalam kondisi darurat.

Korban mengalami sesak napas, sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut. Aparat kepolisian kemudian membantu mencarikan kendaraan untuk mengevakuasi Krisna ke RS Sultan Fatah di Kecamatan Karangawen Demak. Refano dan Rio turut mengikuti kendaraan yang membawa korban menuju rumah sakit.

 

Kondisi Korban

PS Kasi Humas Polres Demak, Iptu Rudi Tri Sayogo, mengatakan korban tiba di RS Sultan Fatah sekitar pukul 00.05 WIB pada Senin (19/10/2026) dini hari. Setelah diperiksa oleh petugas medis, kata Rudi, Krisna dinyatakan meninggal dunia sekitar 30 menit kemudian.

"Saat itu situasi darurat. Karena itu, korban dicarikan mobil oleh petugas kepolisian untuk diantar atau dirujuk ke Rumah Sakit Sultan Fatah, Karangawen, Demak," terang Rudi.

Dari hasil pemeriksaan awal, korban mengalami luka tusuk di bagian dada dengan kedalaman sekitar 3,5 sentimeter. Polisi juga menduga terdapat patah tulang rusuk pada tubuh korban.

Untuk memastikan penyebab kematian dan mengungkap detail luka yang dialami korban, tim Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jawa Tengah melakukan autopsi terhadap jenazah Krisna di RS Sultan Fatah pada Senin pagi, mulai pukul 08.30 WIB.

Sementara itu, polisi masih menyelidiki penyebab keributan yang berujung maut tersebut. Petugas dari Satreskrim Polres Demak bersama Polsek Mranggen, juga mendalami dugaan keterlibatan pihak-pihak dalam insiden penusukan itu.

Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan sejumlah barang milik korban, termasuk pakaian. Namun, barang yang diduga digunakan pelaku untuk menusuk Krisna belum ditemukan.

"Untuk sementara, petugas baik dari Polres Demak maupun Polsek Mranggen masih melakukan penyelidikan dan pendalaman terkait dengan kejadian tersebut," tutur Rudi.

Polisi kini terus mengumpulkan keterangan saksi dan menelusuri barang bukti lainnya. Hal itu untuk mengungkap pelaku serta motif di balik penusukan yang merenggut nyawa pemuda tersebut