Kronologi Terungkapnya Ayah Dimutilasi Anak Kandung di Brebes

Di hadapan polisi, HS mengaku telah membunuh ayahnya sekitar empat bulan sebelumnya.

Diterbitkan 19 Oktober 2026, 23:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Selama empat bulan, keluarga dan tetangga mengira Waslam (50), sedang merantau untuk berjualan siomai di Kota Tegal Jawa Tengah. Namun tidak ada yang menyangka bahwa di balik kabar kepergian Waslam itu, tersimpan dugaan pembunuhan dan mutilasi yang kini menyeret anak kandungnya sendiri, HS (24).

Kasus yang menggemparkan warga Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu mulai terkuak. HS mendatangi Mapolsek Kersana pada Kamis (15/10/2026) malam.

Di hadapan polisi, HS mengaku telah membunuh ayahnya sekitar empat bulan sebelumnya. Pengakuan tersebut menjadi pintu masuk bagi kepolisian untuk menyelidiki hilangnya Waslam.

Polisi kini berupaya mengungkap rangkaian kejadian dan menelusuri dugaan mutilasi. Selain itu, mencari bukti yang dapat menguatkan keterangan HS.

Pada Sabtu (17/10/2026), tim Inafis Satreskrim Polres Brebes melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di dua rumah di Desa Kemukten. Kedua lokasi itu diduga memiliki keterkaitan dengan peristiwa yang diakui HS.

Lokasi pertama merupakan rumah yang selama ini ditempati HS bersama ayah, ibu, dan kedua adiknya. Rumah tersebut diduga menjadi tempat pembunuhan sekaligus mutilasi terhadap Waslam.

Sementara itu, lokasi kedua berada di sebuah kompleks perumahan yang diduga berkaitan dengan penanganan jasad korban setelah dimutilasi.

Polisi memeriksa kedua lokasi untuk mencari barang bukti. Selain itu, mencocokkan temuan di lapangan dengan keterangan yang telah disampaikan HS.

Kapolsek Kersana AKP Teguh Adi Winarko menjelaskan, penyelidikan bermula ketika seorang pemuda datang ke kantor polisi dan mengaku telah membunuh ayah kandungnya.

Pengakuan HS tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui pemeriksaan dan olah TKP. Penyidik juga meminta keterangan sejumlah pihak di Polres Brebes untuk menggali informasi mengenai peristiwa tersebut.

"Masih dalam penyelidikan. Tadi olah TKP untuk hasilnya yang lebih tau Inafis," kata Teguh melalui pesan singkat, Senin (19/10/2026).

Keluarga Mengira Korban Merantau

Salah satu yang membuat kasus ini tidak terungkap selama berbulan-bulan adalah keterangan mengenai keberadaan Waslam setelah menghilang dari rumah.

HS disebut mengatakan kepada keluarga dan tetangganya bahwa sang ayah sedang merantau untuk berjualan siomai menggunakan sepeda motor di Kota Tegal. Keterangan itu membuat orang-orang di sekitarnya tidak langsung mencurigai adanya tindak pidana.

Ina, kerabat sekaligus tetangga HS, mengaku bahwa pihak keluarga tidak merasa curiga. Sebab dari pengakuan HS yang menyebut bahwa Waslam sedang merantau.

Menurut Ina, HS juga menyampaikan bahwa dirinya akan menanggung kebutuhan finansial keluarga selama ayahnya tidak berada di rumah.

HS diketahui bekerja di sebuah pabrik sepatu, setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Ia tinggal bersama ibu dan kedua adiknya yang masih bersekolah.

Di mata kerabat dan tetangganya, HS dikenal sebagai sosok pendiam dan penurut. Namun, penilaian tersebut merupakan gambaran kesehariannya di lingkungan tempat tinggal. Selain itu, tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan motif di balik dugaan tindak pidana tersebut.

 

Jasad Dimutilasi 10 Bagian

Dari pengakuan dan keterangan HS kepada polisi, Waslam diduga dibunuh dengan cara digorok. Setelah itu, jasad korban disebut dipotong menjadi beberapa bagian.

Dalam perkembangan penyelidikan, jasad korban diduga dipotong menjadi 10 bagian. Potongan jasad tersebut disebut direbus selama dua hari. Sedangkan tulang-belulangnya dibakar selama dua hari berikutnya.

Sisa jasad korban kemudian diduga dibuang ke dua sungai berbeda. Rangkaian tindakan tersebut kini menjadi bagian dari penyelidikan Polres Brebes, untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi setelah Waslam diduga dibunuh.

Meski demikian, seluruh rincian mengenai cara pembunuhan, penanganan jasad, dan lokasi pembuangan masih harus dicocokkan dengan hasil pemeriksaan TKP, keterangan saksi, serta barang bukti.

Hingga perkembangan terakhir, belum ada keterangan resmi yang memastikan seluruh bagian jasad Waslam telah ditemukan.

Di tengah terungkapnya pengakuan HS, motif yang melatarbelakangi dugaan pembunuhan terhadap ayah kandungnya itu masih menjadi tanda tanya.

Penyidik masih mendalami keterangan HS dan meminta informasi dari pihak-pihak yang dinilai mengetahui kehidupan keluarga tersebut.

Ibu HS juga dimintai keterangan untuk membantu mengungkap rangkaian peristiwa sebelum dan sesudah Waslam menghilang.

Polisi perlu mencocokkan setiap keterangan dengan bukti yang ditemukan, agar kronologi kejadian dapat disusun secara utuh dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

Kapolsek Kersana AKP Teguh Adi Winarko menegaskan, kasus tersebut masih dalam penyelidikan. Olah TKP yang dilakukan tim Inafis menjadi bagian dari upaya mengumpulkan bukti untuk menguji pengakuan HS.

Dengan demikian, pengakuan HS belum menjadi satu-satunya dasar untuk menyimpulkan seluruh rangkaian kejadian.

Polisi masih harus mengungkap secara terperinci bagaimana dugaan pembunuhan itu terjadi, apa motifnya, serta bagaimana nasib seluruh bagian jasad Waslam.