30 Hektare Api di Way Kambas Belum Padam

Operasi modifikasi cuaca khusus untuk wilayah Lampung terpaksa dihentikan karena kondisi atmosfer tidak mendukung penyemaian awan.

Diterbitkan 19 Oktober 2026, 17:52 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Kabupaten Lampung Timur, belum sepenuhnya teratasi. Memasuki hari ke-24 penanganan, sekitar 30 hektare area masih terindikasi terbakar atau mengeluarkan asap meski pemadaman melalui jalur darat dan udara terus dilakukan.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Provinsi Lampung, Aswarodi mengatakan, penanganan karhutla yang berlangsung sejak 25 September 2026 itu melibatkan berbagai upaya, mulai dari pengerahan satuan tugas darat, operasi helikopter water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca (OMC). Namun, operasi modifikasi cuaca khusus untuk wilayah Lampung terpaksa dihentikan karena kondisi atmosfer tidak mendukung penyemaian awan.

"Operasi modifikasi cuaca dihentikan per tanggal 18 Oktober, karena tidak ditemukan awan potensial untuk disemai," ujar Aswarodi, Senin (19/10/2026).

Upaya pemadaman dari udara terus dilakukan untuk menjangkau titik api sulit diakses petugas di darat. Berdasarkan laporan BPBD Lampung, hingga 18 Oktober 2026, operasi helikopter water bombing telah dilakukan sedikitnya 923 kali sejak penanganan dimulai pada 25 September. Total estimasi area yang terkena siraman air mencapai sekitar 124 hektare.

Khusus pada 18 Oktober, helikopter melakukan 35 kali penyiraman dalam satu sorti penerbangan dengan estimasi area yang terkena siraman sekitar 3 hektare.

Aswarodi menjelaskan, pemadaman melalui udara difokuskan pada wilayah yang sulit dijangkau tim satuan tugas darat. Sementara itu, petugas di darat berkonsentrasi menangani titik B dan D.

"Pemadaman darat difokuskan di titik B dan D, sedangkan water bombing difokuskan di area yang tidak dapat dijangkau oleh tim satgas darat," kata dia.

 

Pemadaman Langsung

Selain operasi udara, petugas gabungan terus melakukan pemadaman langsung di sejumlah titik kebakaran. Pada 18 Oktober, empat tim satgas darat dikerahkan untuk melakukan berbagai upaya penanganan.

Kegiatan tersebut meliputi pemantauan menggunakan drone, pemadaman di rawa Gelam, pembukaan jalur sepanjang sekitar 6 kilometer menuju titik D, serta penanganan api di titik B.

Untuk menjangkau area yang terbakar, petugas di titik B menggunakan tiga pompa portabel yang dirangkai secara seri dan dilengkapi perangkat jet shooter.

"Hasil hari ini sekitar 2 hektare dipadamkan di titik B dan sekitar 0,3 hektare di rawa Gelam," kata dia.

Dengan tambahan penanganan tersebut, total luasan yang berhasil ditangani melalui operasi darat sejak 25 September hingga 18 Oktober mencapai sekitar 192 hektare. Adapun peralatan yang digunakan dalam operasi di lapangan antara lain dua unit drone dan 26 jet shooter.

Upaya mengendalikan karhutla sebelumnya juga dilakukan melalui operasi modifikasi cuaca. Khusus untuk kawasan TNWK, OMC berlangsung selama tiga hari, yakni 11-13 Oktober 2026.

Operasi tersebut melibatkan BPBD Lampung bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

BNPB mengerahkan pesawat Cessna 208BEX dan helikopter FH 8HL yang berpangkalan di Bandara Internasional Radin Inten II, Lampung Selatan.

"Total penerbangan tiga sorti, dengan waktu terbang 6 jam 16 menit dan bahan semai yang disebarkan sebanyak 3.000 kilogram NaCl," kata Aswarodi.

Pada 11 Oktober, penyemaian difokuskan di kawasan TNWK. Sehari kemudian, cakupan operasi diperluas ke TNWK dan Lampung Timur. Sementara pada 13 Oktober, penyemaian dilakukan dengan sasaran Lampung Timur, Lampung Tengah, dan Tulang Bawang.

Setelah operasi khusus TNWK berakhir, OMC berlanjut pada 14-18 Oktober dengan sasaran Lampung dan Palembang. Namun, tidak ditemukan awan potensial yang memenuhi syarat penyemaian di wilayah Lampung sehingga operasi untuk wilayah tersebut dihentikan.

"Fokus OMC dilaksanakan penyemaian untuk daerah Sumatra Selatan atau Palembang. Untuk Palembang bahan semainya dry ice, sedangkan untuk Lampung menggunakan NaCl," kata dia.

BMKG turut mendukung operasi melalui analisis cuaca, pemantauan radar dan satelit, serta pengamatan titik panas. Meski operasi darat dan udara telah dilakukan selama lebih dari tiga pekan, pemantauan menggunakan drone masih menemukan sekitar 30 hektare area yang terindikasi terbakar atau mengeluarkan asap.

Berdasarkan laporan Aswarodi, area tersebut tersebar di beberapa titik. Sekitar 3 hektare berada di titik B, 13 hektare di titik C, serta masing-masing sekitar 8 hektare dan 6 hektare di titik D.

Kondisi vegetasi yang rapat menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Petugas juga menghadapi persoalan akses sumber air karena Sungai Way Pegadungan berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik api.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD Lampung bersama BNPB menyiapkan tambahan dukungan peralatan bagi satgas darat. Penambahan personel hingga 350 orang juga diharapkan dapat memperkuat upaya pemadaman di kawasan konservasi tersebut.

"Kita berharap bantuan peralatan dan penambahan personel berjumlah 350 ini mampu mengoptimalkan pemadaman melalui operasi satgas darat," tutup Aswarodi.

Â