26 Hari Pencarian, Rosyid Korban KMP Virgo Pulang dengan Peti Jenazah

Rosyid adalah tulang punggung keluarga yang sehari-hari bekerja sebagai kernet truk.

Diterbitkan 12 Oktober 2026, 08:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Penantian panjang penuh tanda tanya selama 26 hari akhirnya berujung pada muara duka. Isak tangis pecah di Dusun Leces, Desa Sruni, Kecamatan Jenggawah, Jember, saat sirine mobil jenazah meraung perlahan memasuki halaman rumah.

​Muhammad Abdul Rosyid (28) akhirnya pulang. Namun, bukan senyum hangat atau pelukan rindu yang ia bawa, melainkan raga yang sudah tak bernyawa.

​Rosyid merupakan salah satu korban tragedi tenggelamnya KMP Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, pada 13 September 2026 lalu. Saat musibah terjadi, pemuda berusia 28 tahun itu tengah mengadu nasib sebagai kenek truk pengangkut ikan.

​Sejak kapal karam, keberadaan Rosyid diselimuti ketidakpastian. Harapan keluarga yang terus membumbung perlahan pupus ketika Tim Search and Rescue (SAR) menemukan jasadnya pada Jumat (9/10/2026). Setelah proses identifikasi petugas selesai, kabar duka itu resmi disampaikan ke pihak keluarga.

 

Lambaian Terakhir Sebelum Kejadian

​Bagi keluarga, Rosyid bukan sekadar anak. Sebagai putra sulung dari empat bersaudara, ia adalah tiang penyangga ekonomi rumah tangga.

​"Rosyid sehari-hari bekerja sebagai pekerja antarkota. Penghasilannya digunakan untuk menopang kebutuhan istri dan adik-adiknya," ungkap Kepala Desa Sruni, Afifah Nur Hotimah, Minggu (12/10/2026)

​Duka kian menghujam dada tatkala keluarga mengingat momen sehari sebelum insiden nahas itu terjadi. Lewat layar ponsel, Rosyid sempat melakukan panggilan video menyapa, memberi kabar, dan tersenyum.

"Tak ada yang menyangka, lambaian tangan di layar HP itu menjadi salam perpisahan terakhir sebelum dikabarkan kapal yang dinaikinya tenggelam," tambahnya

​Usai disalatkan oleh sanak saudara dan tetangga, jenazah Rosyid langsung diberangkatkan menuju tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat. Isak haru mengiringi setiap langkah peziarah, melepas kepergian sang tulang punggung yang berjuang hingga hembusan napas terakhirnya.

Â