Sukses

Keistimewaan Kucing di Mata Islam, Hewan Kesayangan Rasulullah

Liputan6.com, Jakarta Kucing merupakan hewan kesayangan banyak orang. Kucing bisa menjadi peliharaan yang setia dan menggemaskan. Dalam Islam, kucing termasuk hewan yang istimewa. Nabi Muhammad SAW bahkan memiliki kucing yang sangat disayanginya, bernama Muezza.

Kucing juga termasuk hewan yang suci dan jauh dari najis. Ini membuat hewan satu ini begitu dihormati dalam Islam. Sebagai hewan kesayangan Rasulullah, kucing bahkan masuk dalam hadis-hadis. Kucing bahkan hadir dalam berbagai perjalanan peradaban Islam. Hingga kini kucing menjadi hewan yang paling dikasihi umat Islam. 

Keistimewaan kucing dalam Islam dapat dilihat dari hadis Nabi dan peninggalan-peninggalan Islam. Dalam tradisi Islam, kucing dikagumi karena kebersihannya. Berikut keistimewaan kucing dalam Islam, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Jumat(23/4/2021).

2 dari 5 halaman

Kucing adalah hewan yang bersih

Dalam tradisi Islam, kucing dikagumi karena kebersihannya. Mereka dianggap bersih secara ritual, dan dengan demikian diizinkan masuk ke rumah dan bahkan masjid, termasuk Masjid al-Haram.

Bersihnya kucing juga tertuang dalam hadis. Hadis ini menjelaskan tentang kesucian kucing sebagai hewan peliharaan. Berikut hadis-hadis tentang kucing:

Kucing merupakan hewan yang bersih dan terbebas dari najis. Ini tertuang pada hadis yang berbunyi:

“Kucing itu tidaklah najis. Sesungguhnya kucing merupakan hewan yang sering kita jumpai dan berada di sekeliling kita.” (HR. Tirmidzi).

Air bekas minum kucing juga tetap suci dan bisa tetap digunakan untuk berwudu. Ini sesuai pada hadis:

“Ketika Nabi Muhammad akan berwudhu dihampiri oleh seekor kucing dan kucing tersebut minum di bejana tempat beliau wudhu. Nabi berhenti hingga kucing tersebut selesai minum lalu berwudhu”. (HR Muslim).

Kecuali jika kucing tersebut terlihat ada darah, air kencingnya, kotoran (BAB) dan sebagainya, maka jadi najis. Imam Nawawi pun menjelaskan:

“Jika kucing ini pergi kemudian datang dan meminum air, maka kita yakin bahwa air tersebut adalah suci dan kita meragukan najisnya mulut kucing, maka sisa air yang dijilat oleh kucing tersebut tidak najis. (Kecuali) bila kucing yang mulutnya masih ada darahnya tadi tidak pergi dan menjilat air maka dihukumi najis secara pasti.” (Al-Majmu’ 1/171).

Kucing juga termasuk hewan yang suci, ini tertuang dalam hadis:

“Kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu”. (HR Muslim).

Kucing adalah binatang yang badan, keringat, bekas sisa makanan, serta air lirnya adalah suci. Air liurnya bahkan bersifat membersihkan. Hidupnya lebih bersih dari manusia. (HR Malik).

3 dari 5 halaman

Hadis tentang wanita yang menyiksa kucing

Sebagai makhluk hidup, kucing juga harus diperlakukan dengan baik. Ada sebuah hadis yang menceritakan tentang seorang wanita yang masuk neraka karena menyiksa kucing. Hadis ini berbunyi:

Dari ibnu Umar RA Nabi Muhammad SAW bersabda “Seorang wanita dimasukkan ke dalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang binatang kecil yang ada di lantai’. (HR Bukhari).

Ibnu Al-Manayyar berkata, “hadis ini menerangkan tentang haramnya membunuh apa yang tidak diperintahkan untuk dibunuh dengan cara membuatnya kehausan, meskipun kucing dan tidak mendapatkan pahala karena memberi minum, akan tetapi menyelamatkannya telah cukup sebagai suatu kebaikan.

4 dari 5 halaman

Kucing dalam peradaban Islam

Dikutip dari Jurnal Fakultas Ushuluddin Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar, tentang Keistimewaan Kucing; Kajian Tematik Hadis oleh Andi Alda Khairul Ummah, kucing hadir dalam peradaban Islam sejak abad 13 silam.

Dalam jurnal tersebut diceritakan pada abad ke 13, dalam dunia seni islam, rupa kucing dijadikan mata uang sebagai bentuk manifestasi penghargaan masyarakat Islam. Sedangkan, dunia sastra, para penyair membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa.

Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo dijelaskan pada dinasti mamluk, Baybars al Zahir, seorang sultan yang juga pahlawan garis depan dalam perang salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan di dalamnya.

Hingga saat ini, mulai dari Damaskus, Istanbul hingga Kairo, masih bisa dijumpai kucing—kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.

5 dari 5 halaman

Kisah Nabi Muhammad SAW dengan kucingnya

Nabi Muhammad SAW memiliki seekor kucing Anggora bernama Muezza. Nabi begitu mengasihi kucingnya dengan penuh kasih sayang. Menurut sebuah kisah, suatu hari Nabi hendak berangat salat dan mempersiapkan diri serta berpakaian.

Namun, Nabi Muhammad menemukan Muezza tidur beralaskan jubahnya. Alih-alih membangunkan tidur Muezza, Nabi Muhammad SAW memilih memotong sebagian jubahnya, meninggalkan Muezza tetap tidur. Sepulangnya dari salat, Nabi mendapati Muezza sudah terbangun dan bersujud padanya, Nabi pun membalas dengan mengelus tubuhnya sebanyak tiga kali.

Kisah lain juga mengungkapkan ketika memberikan ceramah dalam rumah, Nabi Muhammad selalu memangku Muezza dalam pangkuannya. Nabi juga menggunakan air wudhu yang telah digunakan Muezza untuk minum.