Sukses

Waktu Salat Sunah Rawatib, Niat, Tata Cara, dan Keutamaannya

Liputan6.com, Jakarta Waktu salat sunah rawatib dilakukan sebelum atau sesudah salat fardu. Salat sunah rawatib yang dikerjakan sebelum salat fardu disebut dengan salat sunah Qobliyah. Sementara itu, salat sunah Rawatib yang dikerjakan setelah salat fardu disebut dengan salat sunah Ba'diyah.

Salat sunah rawatib cukup mudah dilaksanakan karena waktunya yang berdekatan dengan salat fardu. Hanya dengan melaksanakan salat sunah 2 atau 4 rakaat, kamu akan mendapatkan berbagai keutamaan yang sangat besar. 

Sebelum melaksanakan salat sunah rawatib, kamu tentunya juga harus mengenali niat serta tata caranya. Salat sunah rawatib ini sangat istimewa karena Nabi Muhammad SAW saja tidak pernah meninggalkannya.

Berikut dasar hukum pelaksanaan salat sunah rawatib dari hadis:

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: “Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa salat sunnat sepuluh rakaat yaitu; dua rakaat sebelum salat zuhur, dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah salat maghrib di rumah beliau, dua rakaat sesudah salat isya’ di rumah beliau, dan dua rakaat sebelum salat subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

Berikut Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (13/4/2021) tentang waktu salat sunah rawatib.

2 dari 5 halaman

Waktu Salat Sunah Rawatib dan Pembagiannya

Waktu salat sunah rawatib dilakukan sebelum atau sesudah salat fardu. Tentang waktu pelaksanaan salat sunah rawatib ini telah dijelaskan dalam sebuah hadits di bawah ini.

Ibnu Qudamah berkata: "Setiap sunah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu salat fardhu hingga salat fardhu dikerjakan, dan salat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya salat fardhu hingga berakhirnya waktu salat fardhu tersebut “ . (Al-Mughni 2/544)

Selain itu, waktu salat sunah rawatib ini juga terdiri dari beberapa pembagian. Pembagian ini dibagi berdasarkan salat yang lebih diutamakan. Berikut pembagian salat sunah rawatib:

Salat Sunah Rawatib Mu'akkad

Salat sunah rawatib mu'akkad sangat dianjurkan untuk dilaksanakan. Mengenai jumlah salat sunah rawatib mu'akkad ada 12 rakaat, yaitu:

- 2 rakaat sebelum subuh

- 2 atau 4 rakaat sebelum zuhur

- 2 atau 4 rakaat sesudah zuhur

- 2 rakaat sesudah maghrib

- 2 rakaat sesudah isya

Penjelasan tentang jumlah rakaat salat sunah rawatib ini disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa’i.

Dari Aisyah radiyallahu‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada salat sunah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum zuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah isya, dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)

 

Salat Sunah Rawatib Ghoiru Mu'akkad

Salat sunah rawatib ghoiru mu'akkad adalah jenis salat sunah rawatib yang tidak begitu ditekankan. Berikut adalah jumlah salat sunah ghoiru mu'akkad:

- 2 atau 4 rakaat sebelum ashar (jika dikerjakan 4 rakaat, dikerjakan dengan 2 kali salam)

- 2 rakaat sebelum maghrib

- 2 rakaat sebelum isya

3 dari 5 halaman

Niat Salat Sunah Rawatib

Bacaan niat salat sunah rawatib pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan bacaan salat fardu. Kamu tinggal menambahkan Qobliyatan Lillahi Ta’ala (jika dikerjakan sebelum salat fardhu) di akhir niat atau Ba’diyatan Lillahi Ta’ala (jika dikerjakan sesudah salat fardhu).

Jadi, jika mengerjakan salat sunah rawatib sebelum salat subuh, maka bacaannya menjadi:

Ushallii sunnatash shubhi rak’ataini qabliy-yatan lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku (niat) salat sunat qabliyyah subuh 2 rakaat, karena Allah Ta’ala.”

Kemudian, jika mengerjakan salat sunah rawatib setelah salat isya, maka bacaannya menjadi:

Ushallii sunnatal ‘isyaa’i rak’ataini ba’diy-yatan lillaahi ta’aalaa.

Artinya: “Aku (niat) salat sunat ba’diyyah isya 2 rakaat, karena Allah Ta’ala.”

4 dari 5 halaman

Tata Cara Salat Sunah Rawatib

Tata cara salat sunah rawatib juga tidak jauh berbeda dengan salat biasanya. Perbedaannya hanya terdapat pada bacaan doa yang dianjurkan. Berikut tata cara salat sunah rawatib:

1. Membaca Niat

2. Takbiratul Ihram

3. Membaca doa Iftitah

4. Membaca Surat al-Fatihah

5. Membaca Surat Pendek (Dianjurkan Surah Al-Kaafirun dan Al-Ikhlas)

6. Ruku dengan tumaninah (Allahu akbar)

7. Itidal dengan tumaninah,

8. Sujud dengan tumaninah

9. Duduk di antara dua sujud, dengan tumaninah

10. Sujud kedua dengan tumaninah (Allahu akbar)

11. Berdiri lagi untuk menunaikan rakaat kedua

12. Membaca surat Al-Fatihah

13. Membaca Surat Pendek yang dihapal

14. Ruku dengan tumaninah (Allahu akbar)

15. Itidal

16. Sujud pertama (rakaat kedua)

17. Duduk diantara dua sujud

18. Sujud kedua (rakaat kedua)

19. Tasyahud Akhir

20. Salam

5 dari 5 halaman

Keutamaan Salat Sunah Rawatib

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, mengerjakan salat sunah rawatib akan memberikan kamu berbagai keutamaan yang sangat besar. Berikut beberapa keutamaan salat sunah rawatib menurut hadis:

Dibangunkan Rumah di Surga

At-Tarmidzi dan An-Nasa’i meriwayatkan hadis yang mengatakan bahwa, dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada salat sunah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga..." (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)

Lebih Baik dari Dunia dan Seisinya

Aisyah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadis tentang salat sunah rawatib sebelum (qobliyah) shubuh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” Dalam riwayat yang lain, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya.” (HR. Muslim no. 725)

Diharamkan dari Api Neraka

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur. Dia berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga (salat) empat rakaat sebelum zuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka." (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)