Sukses

Yamaha Suntik Mati Enam Model, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan otomotif di India harus memperbarui mesin yang disematkan pada kendaraan sesuai norma-norma emisi BS6. Telah diberikan masa tenggang waktu, pabrikan yang tak mematuhi peraturan ini wajib menyuntik mati kendaraannya.

Tak kunjung melakukan perubahan, enam produk Yamaha akhirnya tak lagi diproduksi. Angka penjualan menjadi faktor utama, perusahaan otomotif asal Jepang itu enggan melakukan perubahan dari sektor jantung pacu.

Seperti dilansir Motorbeam, Senin (6/4/2020), keenam model tersebut ialah Yamaha Saluto RX, Saluto 125, SZ-RR V2.0, FZ25, Fazer 25 dan R3.

Merupakan sepeda motor sport yang dibenamkan mesin 110cc, harga yang ditawarkan untuk Yamaha Saluto RX berkisar Rs. 52.350 atau setara Rp 11,3 juta.

Sama dengan sang adik, Saluto 125 juga harus disuntik mati. Meski dibenamkan mesin 150cc, Yamaha SZ-RR V2.0 tak mampu menghadapi kompetisi yang terjadi di pasar otomotif India.

Mengusung gaya naked, Yamaha FZ25 dibenamkan mesin 250cc dan memiliki harga dari Rs. 1,34 lakh atau setara Rp 29 juta. Sedangkan Fazer 25 dibandrol di angka Rs. 1,45 lakh atau Rp 31.5 juta.

Meski cukup populer, harga Yamaha R3 yang tinggi tak mampu menarik penggemar mesin twin-silinder. Sebagai informasi, harga yang ditawarkan untuk motor ini mencapai Rs. 3,50 lakh atau Rp 76 jutaan.

2 dari 2 halaman

Setop Produksi, Yamaha Belum Berniat Bikin Masker atau Ventilator

Memutus mata rantai penyebaran pandemi virus Corona atau Covid-19 di Indonesia dan mengikuti imbauan pemerintah, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) menghentikan sementara produksinya di Tanah Air. Penghentian ini, bakal dilakukan selama dua pekan, mulai 3 sampai 19 April 2020.

Namun, berkaca pada pabrikan luar negeri yang mengubah produksinya untuk membuat alat kesehatan, seperti masker dan ventilator untuk melawan Covid-19, apakah Yamaha akan melakukan hal yang sama selama tidak melakukan produksi?

Dijelaskan Antonius Widiantoro, Public Relation PT YIMM, pihaknya belum ada rencana untuk memproduksi alat pelindung diri (APD) atau kesehatan seperti masker dan ventilator. Saat ini, pabrikan berlambang garpu tala ini hanya fokus dengan kesehatan para karyawannya dan memutus mata rantai penyebaran virus yang diidentifikasi pertama kali di Wuhan, Cina tersebut.

"Belum ada info sih, tapi yang paling penting saat ini tidak ada aktivitas dulu. Kalau masih ada aktivitas juga kan lebih bahaya," jelas Anton saat dihubungi Liputan6.com melalui sambungan teleponnya, Jumat (3/4/2020).

Sementara itu, selama penghentian produksi, pihak Yamaha juga akan melakukan penyemprotan disinfektan. Meskipun, hal tersebut bukan hal yang baru untuk dilakukan, karena jenama asal Jepang ini sudah melakukan prosedur tersebut sejak Corona mulai terjadi di Indonesia.

"Kalau itu pasti, karena aktivitas internal dari awal Corona juga dilakukan, seperti penyemprotan disinfektan secara terjadwal, pengukuran suhu tubuh, penggunaan masker, dan pengecekan karyawan yang baru dari luar negeri atau traveling sudah kami lakukan," pungkasnya.