Sukses

Bagaimana Hadapi Ketakutan Perihal Kematian Bikin Jalani Hidup Lebih Berkualitas

Psikolog asal AS, Jodi Wellman, baru-baru ini menerbitkan buku “You Only Die Once” yang merupakan panduan untuk membantu orang-orang membangkitkan kembali semangat dan keingintahuan mereka akan kehidupan.

Liputan6.com, Jakarta Banyak orang beranggapan bahwa kematian adalah hal yang sangat menyakitkan dan suram. Namun seorang ahli psikologi berpendapat bahwa orang-orang perlu menghadapi ketakutan mereka akan kematian secara langsung untuk menjalani kehidupan yang lebih memuaskan.

“Tips utama saya adalah untuk memahami apa yang saya sebut sebagai matematika kematian,” kata seorang psikolog dan pendiri platform kesejahteraan Four Thousand Mondays, Jodi Wellman, sebagaimana yang dikutip dari CNBC, Sabtu (25/5/2024).

“Kebanyakan orang suka menghitung uang mereka dan saya suka mengatakan bagaimana jika kita juga menghitung hari Senin kita?”

Wellman, yang memiliki gelar Master di bidang psikologi positif terapan dari University of Pennsylvania, baru-baru ini menerbitkan buku “You Only Die Once” yang merupakan panduan untuk membantu orang-orang membangkitkan kembali semangat dan keingintahuan mereka akan kehidupan.

Ia menjelaskan bahwa rata-rata orang mengalami 4.000 hari Senin dalam hidupnya, dan menyarankan orang-orang untuk mengecek berapa hari Senin yang tersisa setiap minggunya dengan menggunakan kalkulator di situs webnya.

Hal ini berfungsi sebagai pengingat akan terbatasnya waktu, sehingga mendorong orang untuk segera melakukan sesuatu dalam hidupnya.

Hal ini didasarkan pada konsep yang disebut “kelangkaan waktu,” yang berarti kita lebih menghargai aset yang bersifat sementara daripada aset yang tidak terbatas, menurut Wellman.

“Jadi kita harus benar-benar selaras dengan sifat sementara dari kehidupan kita ... karena jika tidak, kita akan merana,” dia memperingatkan.

Kebanyakan orang puas dengan pekerjaan yang tidak memuaskan dan menunda hasrat seperti mengikuti les tenis atau belajar bahasa Italia, tetapi “nanti adalah waktu yang sulit dipahami yang mungkin tidak akan pernah datang,” kata Wellman. Ketika Anda teringat berapa hari yang tersisa, kemungkinan besar sekarang Anda berada di tempat les tenis tersebut.

“Jika Anda akan meninggal malam ini, apa yang Anda harapkan untuk dilakukan? Mungkin ada kesempatan untuk memulainya hari ini,” tambahnya. 

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

'Kematian Bisa Menjadi Motivator'

Gagasan bahwa “kematian bisa menjadi motivator” telah menginspirasi Wellman selama bertahun-tahun.

“Ada sebuah absurditas bahwa kita semua bekerja keras untuk mencapai sesuatu, dan kita bekerja keras untuk mencintai hidup kita, namun kita semua tahu bahwa kita terbatas. Jajaran dari berusaha sangat keras untuk menyukai hidup kita ketika suatu hari nanti kita mungkin tidak akan berada di sini. Saya selalu menemukan hal tersebut sangat menarik.”

Wellman mengatakan bahwa momen penting yang mendorongnya untuk menekuni topik ini adalah ketika ibunya meninggal dunia pada usia 58 tahun.

“Persepsi saya adalah dia meninggal dengan penuh penyesalan atas segala macam jalan yang tidak diambilnya, seperti ide bisnis yang dia miliki namun tidak ditindaklanjuti, buku-buku yang sudah mulai ditulisnya, cerita-cerita yang ditulisnya namun tidak dikirimkan, dan semua mimpi yang terbengkalai, dan itu sangat menyedihkan.”

Bagi Wellman, ini adalah “peringatan yang mendalam” bahwa setiap orang dapat meninggal lebih awal, namun ada kemungkinan untuk meninggal tanpa penyesalan.

“Saya pikir kita bisa menyelaraskan diri dengan fakta bahwa kita hanya sementara dan tidak menjadikannya sebagai sesuatu yang tidak wajar dan menggunakannya sebagai penyemangat untuk melanjutkan hidup.”

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.