Sukses

4 Tips Buat Orang Tua Hadapi Anak Kecanduan Media Sosial

Liputan6.com, Jakarta Seiring perkembangan teknologi, penggunaan gadget kini terbilang sudah menjadi kebutuhan bagi setiap orang, termasuk bagi remaja. Lebih dari itu, para remaja masa kini juga sudah mengenal apa itu media sosial. Tanpa sadar kegiatan itu dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental.

Baik gadget maupun media sosial, keduanya memiliki sisi negatifnya. Karena itu, orang tua yang memiliki anak remaja perlu memperhatikan kondisi sang anak supaya tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi memperhatikan terkait kesehatan mental sang anak.

Orang tua mungkin sering khawatir ketika anaknya meggunakan teknologi yang berlebihan. Sebab, itu bisa berdampak pada kesehatan mental anak-anak mereka. Baik anak-anak hingga remaja, mereka kini banyak yang sudah terpengaruh oleh media sosial, game, atau forum obrolan online, lanskap digital.

Menghadapi konflik itu, seorang psikiater remaja dan anak sekaligus kepala medis BeMe Health di Rumah Sakit Umum Massachusetts dan Sekolah Kedokteran Harvard Neha Chaudhary biasanya bertanya kepada para orang tua atau seorang pengasuh.

Pertanyaan tersebut terkait seberapa banyak anak-anak menggunakan teknologi, bagaimana cara menggunakannya, serta bagaimana penggunaan itu memengaruhi anak-anak. Setelah mengetahui jawaban tersebut, Chaudhary kemudian berkolaborasi dengan para orang tua atau pengasuh untuk menemukan solusinya.

Untuk mengatasinya, tentu perlu peran orang tua. Karena itu, orang tua tidak bisa tinggal diam jika anaknya sudah terpengaruh oleh media sosial bahkan hingga sudah menyangkut ke kesehatan mental sang anak.

Dilansir dari laman CNN, Selasa (23/11/2021), berikut ini empat tips yang bisa dilakukan untuk mengatasi hal tersebut.

1. Evaluasi penggunaan media sosial

Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah dengan coba berdiskusi tentang kualitas konten yang sering dikonsumsi anak-anak secara online. Apakah konten tersebut positif atau negatif?

Selain itu, Anda sebagai orang tua juga bisa membahas mengenai pola penggunaan media sosial tersebut. Tanyakan apakah anak-anak menggunakan media sosial ketika sedang merasa senang, sedih, bosan atau marah? Ataukah sekadar mengalihkan diri dari perasaan tidak nyaman atau untuk menghindari pekerjaan rumah?

Dengan membahasnya, Anda kemudian akan mengetahui apa alasan dari sang anak mengapa sering menggunakan sosial media. Lebih dari itu, Anda juga dapat mengetahui apa masalah yang pernah anak rasakan selama menggunakan media sosial.

2. Tanyakan dampak penggunaan media sosial yang mereka rasakan

Pada bagian ini, sudah saatnya Anda meminta sang anak untuk jujur mengenai dampak media sosial yang dirasakan terhadap kesehatan mental mereka. Tanyakan kepada mereka bagaimana perasaannya setelah menelusuri media sosial.

Nanti pada akhirnya ketika mereka memutuskan untuk berhenti menggunakan media sosial, sang anak mungkin akan mengakui bahwa itu adalah hal terberat pada awalnya. Akan tetapi ketika sudah terbiasa tidak menggunakannya, mereka akhirnya akan merasa lebih baik.

 

 

2 dari 2 halaman

Tips Lain

3. Dukung sang anak dalam membatasi penggunaan media sosial

Jika sang anak tidak ingin lepas dari media sosial, cobalah untuk bertanya mengenai perubahan cara yang mereka gunakan untuk bersosial media. Sebab, barangkali sang anak mungkin telah memutuskan bahwa akan menghabiskan lebih sedikit waktunya di media sosial.

Hal itu bisa saja terjadi ketika anak Anda sudah menyadari bahwa media sosial itu tidak baik. Pada akhirnya mereka lebih memilih menyibukkan waktu dengan beragam kegiatan offline.

4. Buat daftar yang akan dilakukan

Setelah anak Anda menyadari hal-hal buruk telah terjadi padanya akibat penggunaan sosial media, kini saatnya membuat daftar kegiatan offline yang akan dilakukan untuk menyibukkan diri.

Selain itu, bila mungkin sang anak tetap memilih menghabiskan banyak waktu dengan gadget dan sosial media, Anda sebagai orang tua bisa membantu mengontrol kegiatan tersebut.

Sebagai informasi, beberapa remaja saat ini telah tercatat bahwa mereka sering menonaktifkan komentar, menjadikan akun pribadi, atau menjaga penggunaan media sosial dalam batas-batas tertentu. Hal itu dilakukan untuk mendapatkan kembali ketenangan pikiran.

Reporter: Aprilia Wahyu Melati