Sukses

Menggadai Hidup di Jurang Kemiskinan

Kompresor udara sebagai alat bantu selam hingga saat ini masih menjadi primadona bagi sebagian nelayan setempat.

Liputan6.com, Sulawesi Barat - Hari itu lima nelayan Ruslan, Udin dan ketiga temannya mencoba mengadu peruntungan dari kekayaan laut diperairan Sulawesi Selatan. Bagi mereka laut sudah diakrabi sejak masih bocah.

Urusan mencari lokasi tangkap ikan jadi perkara mudah hanya bermodal keyakinan dan insting. Berbeda dengan nelayan tradisional pada umumnya, tak ada jaring di perahu ini. Tetapi yang ada hanyalah peralatan selam dan senapan panah khas pemburu hewan didasar laut.

Yang menarik, kompresor udara difungsikan sebagai alat bantu pernafasan para penyelam mencari ikan didasar laut. Selain mahir menyelam, para nelayan dituntut untuk jitu dalam membidik sasaran.

Penggunaan kompresor bagi sebagian nelayan merupakan alat yang tergolong simpel dalam menyelam. Namun disadari pula ada hal buruk yang mengintai para penyelam.

Kompresor udara sebagai alat bantu selam hingga saat ini masih menjadi primadona bagi sebagian nelayan setempat. Murahnya biaya operasional menjadi alasan kuat untuk terus melaut walau harus menantang maut.

Efek samping buruk penggunaan alat selam tak standar kesehatan ini pun dirasakan juga oleh bapak dua anak ini. Suwandi sudah tujuh tahun lumpuh. Namun tuntutan ekonomi membuat Suwandi terpaksa tetap melaut.

Kini menyelam, tinggal kenangan. Keterbatasan fisik membuat dirinya hanya dipercaya bertugas di atas perahu. Menjaga tekanan kompresor udara agar tetap stabil sebagai alat bantu utama pernafasan di dasar laut.

Secara medis penggunaan alat selam kompresor udara memang tidak dianjurkan untuk kesehatan. Ada banyak faktor yang bisa mengancam keselamatan jiwa.

Korban yang jatuh sudah mencapai 10 jiwa mengalami kelumpuhan akibat penggunaan alat selam tradisional ini. Tak hanya itu lima orang juga tercatat meregang nyawa sepanjang lima tahun terakhir. Selain penggunaan kompresor pula penggunaan alat tangkap tak ramah lingkungan lainnya yaitu obat bius potasium sianida dalam menjebak ikan

Potasium Sianida bahan kimia ini yang kerap dipakai untuk membuat mabuk ikan-ikan yang punya nilai jual tinggi. Secara hukum penggunaan potasium sianida memang tidak dibenarkan karena bisa mengancam kelangsungan hidup biota laut yang ada.

Kebiasaan dalam penggunaan alat selam tradisional yang berimbas pada kelumpuhan dan penggunaan potasium sianida untuk melumpuhkan ikan-ikan. Nelayan bukanlah pihak satu satunya yang mutlak dipersalahkan.