Sukses

Maskapai Izinkan Sesama Penumpang Perempuan Lihat Posisi Duduk di Pesawat, Bisa Jadi Upaya Cegah Pelecehan Seksual

Di tahap uji coba, maskapai IndiGo Airlines menawarkan fitur melihat posisi duduk sesama penumpang perempuan untuk mereka yang melakukan online check-in.

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu maskapai penerbangan terbesar di India, IndiGo Airlines, baru saja meluncurkan fitur yang memungkinkan sesama penumpang perempuan mengetahui posisi duduk di pesawat. Ini didesain supaya mereka bisa memilih kursi paling nyaman dalam penerbangan.

Melansir CNN, Senin, 10 Juni 2024, sebagai uji coba, maskapai penerbangan bertarif rendah ini menawarkan fitur tersebut bagi penumpang perempuan yang melakukan online check-in. IndiGo Airlines mengoperasikan lebih dari dua ribu penerbangan domestik dan internasional per hari di India.

Dalam pernyataannya, maskapai itu mengatakan, fitur yang akan tersedia bagi penumpang perempuan yang bepergian sendiri atau sebagai bagian dari pemesanan keluarga itu sejalan dengan etos #GirlPower mereka. "IndiGo dengan bangga mengumumkan pengenalan fitur baru yang bertujuan membuat pengalaman perjalanan lebih nyaman bagi penumpang perempuan kami," kata maskapai tersebut.

Pihaknya menyambung, :Kami berkomitmen untuk memberi pengalaman perjalanan yang tidak tertandingi bagi seluruh penumpang kami, dan fitur baru ini hanyalah salah satu dari banyak langkah yang kami ambil untuk mencapai tujuan tersebut."

Maskapai penerbangan tersebut memang tidak menjelaskan secara spesifik alasan memberi perempuan pilihan melihat di mana perempuan lain duduk di pesawat. Namun, ini diduga terkait kasus pelecehan seksual terhadap perempuan dan anak-anak selama penerbangan komersial yang telah dilaporkan secara rutin di seluruh dunia.

Dalam sebuah laporan FBI yang dirilis pada April 2024, mereka mengklaim menguak 96 kasus pelecehan seksual dalam penerbangan selama 2023 di Amerika Serikat (AS). "Pelecehan seksual di dalam pesawat, yang biasanya berupa sentuhan yang tidak diinginkan, merupakan tindak pidana yang dapat membuat pelanggarnya dipenjara," kata laporan tersebut.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Laporan FBI Seputar Kasus Pelecehan Seksual di Pesawat

Laporan FBI itu menyambung, "Biasanya, laki-laki adalah pelaku (kasus pelecehan seksual di pesawat), dan perempuan serta anak di bawah umur tanpa pendamping adalah korbannya." Faktanya, melansir Seattle Times, pengaduan kekerasan seksual di pesawat meningkat, termasuk di AS.

Para pejabat menyarankan publik melaporkan tindak pelecehan seksual, sementara orang-orang di sekitarnya didorong melaporkan perilaku tidak biasa. "Memang mengerikan membicarakan pengalaman Anda, terutama dengan pihak berwenang, namun suara Anda sangat penting untuk meminta pertanggungjawaban pelaku dan membuat perjalanan lebih aman bagi semua orang," kata Komisaris Pelabuhan Seattle Toshiko Hasegawa.

Ia menekankan bahwa aparat penegak hukum akan mengadili siapa saja yang merasa bisa lolos dari perilaku predator. "Pelecehan seksual adalah kejahatan yang sayangnya ditemukan di mana-mana," kata Hasegawa. "Respons kami pasti akan cepat dan (menjatuhkan hukuman) berat (bagi pelaku)."

Richard Collodi, agen khusus yang bertanggung jawab di kantor FBI di Seattle, mengatakan bahwa sebagian besar kejahatan penyerangan seksual terjadi ketika orang sedang tidur. Mengingat kasus-kasus penyerangan dan pelecehan seksual cenderung tidak dilaporkan, peningkatan ini kemungkinan besar disebabkan meningkatnya pelaporan tentang apa yang telah terjadi, kata Tessa M. Gorman, penjabat Jaksa AS untuk Distrik Barat Washington.

3 dari 4 halaman

Modus Kekerasan Seksual di Pesawat

Pelaku pelecehan seksual memanfaatkan jarak yang sangat dekat di pesawat dan "memangsa anak muda," kata Gorman. Para pejabat telah mencatat tren dalam kasus-kasus kekerasan seksual di mana para pelaku memposisikan diri mereka terlalu dekat dengan seseorang, dan menargetkan orang-orang yang sedang tidur.

Para orangtua yang mengirim anak kecil mereka sendirian ke dalam pesawat disebut "harus memesan tempat duduk di lorong agar mereka dapat lebih mudah dilihat awak kabin." Mereka juga harus berbicara dengan anak mereka sehingga mereka tahu apa yang harus dilakukan, kata Gorman.

Pihaknya pun mengungkap beberapa tips untuk mencegah pelecehan seksual di pesawat. Pertama, laporkan pelanggaran seksual seperti sentuhan yang tidak diinginkan, paparan tidak senonoh, dan pengambilan foto di bagian dalam rok.

Lalu, jangan diam di tempat duduk Anda jika merasa tidak nyaman atau berada dalam situasi berbahaya. "Segera lapor ke awak kabin bila ada sesuatu yang membuat Anda tidak nyaman," ia menyarankan.

4 dari 4 halaman

Bagaimana Tips Mencegah Pelecehan Seksual di Pesawat?

Penumpang pesawat juga disarankan mengamati sekeliling mereka. "Harus terus waspada," katanya. Kemudian, batasi penggunaan alat bantu tidur, sehingga jika tertidur, Anda memiliki tingkat kewaspadaan untuk merespons perilaku buruk.

"Lalu, biarkan sandaran tangan tetap di bawah," sebut Gorman. "Jangan menganggap sentuhan non-seksual tidak sengaja jika terjadi berulang kali. Minta duduk bersama keluarga, terutama jika Anda memiliki anak kecil yang duduk sendiri atau jauh dari orangtuanya."

Anak muda, khususnya remaja berusia antara 16 dan 19 tahun, menghadapi risiko tertinggi terhadap pelecehan seksua. Namun, mereka juga paling kecil kemungkinannya untuk angkat bicara karena takut akan meningkatkan perilaku tersebut atau menginternalisasikan tanggung jawab atas apa yang terjadi, kata Mary Ellen Stone, CEO King County Sexual Assault Resource Center.

"Kami ingin menekankan bahwa satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kejadian ini adalah pelakunya," kata Stone. "Anda tidak seharusnya jadi sasaran atau menanggung tindakan buruk ini."

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.