Sukses

Bahaya Diet untuk Anak Dihubungkan Status Gizi dan Body Goals Menurut Ahli

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan untuk diet anak karena anak masih mengalami masa pertumbuhan.

Liputan6.com, Jakarta - Diet atau pengaturan pola makan tidak hanya berlaku untuk orang dewasa, tapi juga anak-anak jika memerlukannya. Biasanya orangtua akan khawatir dan mulai berkonsultasi dengan dokter maupun ahli gizi, saat anak mengalami kondisi kelebihan berat badan maupun kekurangan berat yang bisa memengaruhi tumbuh kembangnya.

Menurut Ketua Prodi Gizi, Fakultas Teknologi Pangan dan Kesehatan, Universitas Sahid, Khoirul Anwar, karakteristik diet untuk anak dan orang dewasa jelas berbeda, tapi pada anak akan ada masalah gizi yang harus diperhatikan. Selain itu faktornya pun ada banyak jika membahas status gizi anak.

"Ada faktor pengaruh keluarga dan pengaruh lingkungan terutama sekolah. Kalau keluarga terkait kebiasaan orangtua dalam menyediakan makanan untuk anak yang ada kalanya karena ketidakmampuan atau juga kelebihan dalam pemenuhan energi," jelas Khoirul saat wawancara melalui telepon dengan Tim Lifestyle Liputan6.com, Jumat, 7 Juni 2024.

Ia menyambung bahwa jika merujuk laporan terbaru, ada satu kebiasaan anak sumber makannya tidak hanya dari rumah saja, misalnya sekolah, iklan televisi dan teman sebayanya. Hal ini membuat akses terhadap minuman manis dan makanan yang rendah gizinya.

Selain itu Khoirul mengatakan kondisi anak yang obesitas maupun kurang gizi dipengaruhi sejak dari awal kehamilan, tepatnya pada seribu hari pertama atau usia 0--2 tahun. "Makanya sekarang upaya meluas sampai 8.000 hari atau usia remaja. Poin yang harus diperhatikan, kondisi akan berdampak sampai dewasa," jelas Khoirul yang juga merupakan Ketua Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI).

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Buat Perencanaan Diet yang Tetap Sesuai Usia Anak

Sebelum sampai pada upaya diet, kampanye gizi seimbang oleh Kementerian Kesehatan RI, kata Khorul, sudah meliputi berbagai kategori, mulai dari usia kehamilan, usia menyusui, anak balita, hingga dewasa dan lansia. Hal yang kemudian menjadi masalah adalah saat rekomendasi tersebut tidak dilakukan sehingga terjadi status gizi kurang maupun obesitas. 

Dalam pengukuran status gizi pun terdapat indikatornya bagi anak-anak maupun orang dewasa. Indikator tidak hanya tinggi serta berat, tapi harus disesuaikan dengan umur. Penghitungan ini sudah tersedia dalam aplikasi yang akan memudahkan orangtua untuk mengetahui status gizi anaknya.

Selain itu sudah ada permenkes pengukuran status gizi anak yaitu Permenkes No.2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Mengacu pada hal tersebut Khoirul menyarankan sebelum melakukan diet, cek dulu level kelebihan berat badan apakah obesitas 1, 2, atau 3.

"Lalu buat perencanaan, untuk penurunan berat badan tidak boleh melakukan diet ekstrem," kata Khoirul mengingatkan.  

Sebaiknya juga diet tidak dilakukan secara tiba-tiba, dengan mengurangi asupan secara drastis. Untuk usia anak-anak lebih  dianjurkan pengurangan makanan tinggi energi seperti yang tinggi lemak dan gula. "Kalau bisa pengurangan porsi jangan terlalu jauh karena masih perlu untuk pertumbuhan," tegasnya.

Ia merekomendasikan agar diet tetap dilakukan secara aman dengan tujuan untuk kesehatan dan kebugaran, serta rasa percaya diri. "Kalau anak-anak karena dalam masa pertumbuhan, maka asupan proteinnya harus cukup, dari remaja menuju dewasa juga terpengaruh. Jangan sampai niatnya diet malah pertumbuhan terganggu," terang Khoirul.

 

 

3 dari 4 halaman

Harus Diimbangi Aktivitas Fisik Anak

Khoirul juga mengingatkan penurunan berat badan tidak bisa dicapai dari makanan saja. Diperlukan juga peningkatan aktivitas fisik yang perlu dipicu oleh orangtua, tapi usahakan agar memilih olahraga yang menyenangkan untuk anak-anak.

"Bisa mengajak aktif di sekolah dan di rumah, jangan main hp doang, itu perlu dibatasi dan akan sangat membantu. jenisnya yang fun activity seperti main," imbuhnya lagi.

Terkait keamanan saat menerapkan diet untuk anak, porsi makanan tidak boleh berubah terlalu ekstrem misalnya tiba-tiba ada penurunan porsi makanan dan hanya makan satu kali sehari. Diet yang aman juga harus disesuaikan dengan karakteristik anak, karena jangan sampai anak menjalaninya secara terpaksa. 

"Untuk anak-anak biasanya diet tidak sampai membuat mereka mengalami gangguan makan, tapi remaja lebih memungkinkan mengalami gangguan makan," terangnya.

Di samping itu, untuk mencapai body goals misalnya berat ideal yang ingin ditekankan oleh orangtua, maka jangan dilakukan jika bukan untuk keperluan pendidikan. Misalnya untuk memenuhi syarat masuk sekolah, ada batasan tertentu tinggi dan berat badan minimal atau maksimal.

"Kalau nggak mengarah ke sana, tidak perlu ke level langsing, yang penting dalam kondisi normal. Karena anak sedang dalam masa pertumbuhan dan bisa terganggu hormonalnya, menstruasinya, juga akan berdampak pada pendewasaan fisik," tutupnya.

 

4 dari 4 halaman

Mengurangi Camilan, Agar Anak Lebih Banyak Makan

Banyak orangtua yang khawatir saat pertumbuhan anaknya mengalami stagnan dalam berat badan maupun tinggi badan. Seperti yang dialami Fika Rizky, ibu satu anak yang kini berusia 1,5 tahun dengan problem kurang berat badan dan tidak kunjung bertambah tinggi.

Hal itu terjadi karena putranya sempat didiagnosis TB atau tuberculosis. Setelah pemeriksaan laboratorium, dokter mengungkap TB yang dialami ikut membuat pertumbuhan anaknya terganggu.

"Karena sistem imun yang ada di dalam tubuhnya berusaha melawan penyakit," ungkapnya saat diwawancarai Liputan6.com, Sabtu, 8 Juni 2024. 

Ia sempat dianjurkan untuk menjalani perawatan dengan minum obat TB selama enam bulan. Namun karena khawatir akan berbahaya bagi putranya yang masih sangat kecil, Fika tidak memberikan obat tersebut. 

Setelah berkonsultasi tentang berat badan dan tinggi yang tak kunjung menunjukkan perubahan, ia disarankan berhenti memberikan camilan. Hal ini agar sang anak bisa lebih banyak makan dan mengonsumsi susu.

Benar saja, setelah berhenti memberikan camilan, anaknya kini lebih lahap makan nasi dan lauk protein buatannya. Berat badan putranya pun berangsur normal dan tinggi badan terus naik dalam waktu dua bulan. Sementara diagnosis penyakit TB berangsur pulih dengan sendirinya, ia tak bisa menjelaskannya secara spesifik, namun dirinya mengaku tidak pernah memberikan obat yang dianjurkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini