Sukses

Kasus Pneumonia Melonjak, Taiwan Desak Warganya Tunda Kunjungan ke China

Liputan6.com, Jakarta - Taiwan mendesak anak-anak, orang lanjut usia, dan pasien dengan gangguan sistem imun untuk tidak melakukan perjalanan ke daratan China di tengah merebaknya wabah pneumonia misterius di negara tersebut.

Kementerian Kesehatan Taiwan mengatakan pada masyarakat rentan untuk "tidak melakukan perjalanan ke China, kecuali jika diperlukan," dalam sebuah pernyataan pada 30 November 2023, dikutip dari Daily Mail, Sabtu (2/12/2023). Beberapa jam sebelumnya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan bahwa pihak berwenang telah "mengendalikan situasi secara efektif."

Pemandangan para pekerja berhazmat menyemprotkan disinfektan ke seluruh sekolah dan jalan, juga gambar kerumunan orang yang mengenakan masker di rumah sakit dinilai mirip dengan hari-hari awal COVID-19. Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklaim mereka memiliki data yang menunjukkan bahwa wabah di China disebabkan penyakit pernapasan umum, bukan patogen baru.

Kendati demikian, Taiwan tetap mendesak warganya tidak melakukan perjalanan tidak hanya ke daratan China, namun juga Hong Kong dan Makau, kecuali jika diperlukan. Dikatakan bahwa jika perjalanan ke China tidak dapat dihindari, masyarakat harus divaksinasi flu dan COVID-19 sebelum bepergian.

Pejabat China dan WHO bersikeras bahwa lonjakan tersebut disebabkan flu, virus pernapasan syncytial (RSV) dan Mycoplasma pneumoniae, infeksi bakteri yang menyebabkan pneumonia. China disebut sebagai salah satu negara yang menerapkan lockdown terlama dan terketat selama pandemi.

Ini diperkirakan telah merampas kekebalan penting masyarakat, terutama anak-anak, terhadap penyakit musiman. Wang mengatakan pada Rabu, 29 November 2023, bahwa peningkatan penyakit pernapasan di Tiongkok adalah masalah umum yang dihadapi semua negara.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Tidak Hanya di China

Wang menegaskan, "Interaksi China dengan komunitas internasional tidak akan terpengaruh faktor apapun, dan kami menyambut lebih banyak kunjungan dari teman-teman dari seluruh dunia."

Denmark dan Belanda juga melaporkan lonjakan kasus pneumonia pada anak. Pun dengan Swedia yang tidak melakukan lockdown sama sekali selama pandemi COVID-19, sehingga menimbulkan lebih banyak pertanyaan mengenai sumber wabah tersebut.

Gelombang kasus di China memicu kekhawatiran global karena kurangnya transparansi ketika COVID-19 pertama kali ditemukan di Wuhan pada akhir tahun 2019, tidak lama sebelum virus tersebut menyebar ke seluruh dunia. WHO telah meminta lebih banyak data dari China mengenai wabah pneumonia pada anak-anak.

Ahli epidemiologi WHO Dr Maria Van Kerkhove mengatakan, badan tersebut "menindaklanjuti Tiongkok" ketika rumah sakit di seluruh negeri mulai melihat lonjakan kasus. Masker dan penjarakan sosial kembali direkomendasikan di China, serupa dengan masa-masa awal pandemi COVID-19.

Lonjakan pneumonia di negara ini dijuluki "sindrom paru-paru putih" karena kerusakan paru-paru terlihat pada hasil pemindaian. Namun, China bersikeras bahwa peningkatan kembali penyakit pernapasan pasca-lockdown adalah penyebabnya, bukan karena virus yang sama sekali baru.

 

3 dari 4 halaman

Tidak Semenular COVID-19

Daya penularan COVID-19 dinilai masih jauh lebih tinggi dibanding Mycoplasma pneumonia. Hal ini dilihat dari perbedaan patogen, yang mana Mycoplasma termasuk bakteri, sedangkan COVID-19 merupakan virus SARS-CoV-2, lapor Tim Health per 30 November 2023.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI Imran Pambudi menilai kematian infeksi pneumonia akibat bakteri Mycoplasma pada anak terbilang sedikit. "Selama ini, bakteri Mycoplasma jadi penyebab pneumonia yang sering terjadi sebelum COVID," kata Imran saat jumpa pers pada 29 November 2023.

Menurutnya, infeksi Mycoplasma pneumonia termasuk salah satu penyebab penyakit pneumonia pada masyarakat. Penyakit ini muncul saat musim panas untuk negara-negara yang memiliki empat musim. "Mycoplasma ini memang penyakit biasa diderita di China, fatalitasnya tidak terlalu tinggi," terangnya.

Kasus Mycoplasma pneumonia di China lebih banyak menyerang anak-anak karena saluran pernapasan mereka pendek, sehingga bakteri dan virus lebih mudah masuk ke jaringan paru-paru. Di Indonesia, merujuk data Kemenkes, kasus pneumonia paling banyak tercatat di Jawa Barat.

4 dari 4 halaman

Menyerang Anak-Anak

Dijelaskan bahwa tren pneumonia tampak tinggi di awal tahun, kemudian berangsur menurun pada September--Oktober 2023. "Kondisinya paling rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Kalau insidensinya per 100 ribu penduduk, kasus Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan pneumonia terutama meningkat di DKI Jakarta," papar Imran.

"Itu (kejadian di DKI) saat polusi udara cukup tinggi, sekitar September--Oktober 2023," imbuhnya.

Rumah sakit di seluruh China sedang bergulat menangani lonjakan kasus penyakit pernapasan pada anak-anak, terutama Mycoplasma pneumoniae. Merujuk beberapa rumah sakit dan klinik di Beijing, Shanghai, dan Provinsi Henan, sistem kesehatan tidak terlalu kewalahan seperti yang terjadi selama awal COVID-19.

Capital Institute of Pediatrics, sebuah rumah sakit terkenal yang berkantor pusat di Beijing, jadi salah satu pilihan utama bagi orangtua di kota itu saat anak-anak sakit. Mereka telah melakukan beberapa perbaikan untuk meningkatkan kemampuan perawatan medisnya.

Selain itu, sistem jalur cepat khusus juga diterapkan untuk anak-anak yang sakit kritis, yang memungkinkan mereka menerima laporan diagnostik dengan segera, menurut laporan Beijing Youth Daily.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini