Sukses

Buang Limbah Nuklir ke Laut, Jepang Tetap Jadi Destinasi Liburan Populer bagi Turis Korea Selatan

Jepang tetap menjadi salah satu destinasi liburan utama bagi warga Korea Selatan meskipun Tokyo membuang air limbah olahan dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang rusak. Isu yang telah meningkatkan sentimen anti-Jepang ini dalam dua minggu terakhir berdampak besar pada perikanan negeri sakura tersebut.

Liputan6.com, Jakarta - Jepang tetap menjadi salah satu destinasi liburan utama bagi warga Korea Selatan meskipun Tokyo membuang air limbah olahan dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima yang rusak. Isu yang telah meningkatkan sentimen anti-Jepang ini dalam dua minggu terakhir berdampak besar pada perikanan negeri sakura tersebut.

Mengutip dari laman The Korean Times, Jumat (8/9/2023), seorang pekerja kantoran yang tinggal di Seoul bermarga Park mengatakan dia juga akan mengunjungi Jepang dalam beberapa minggu. Meski begitu dia mengaku tetap ragu untuk menyantap makanan laut lokal karena alasan keamanan.

Sebagai konsumen, air limbah tampaknya bukan merupakan masalah politik tetapi lebih merupakan masalah keamanan baginya. "Tidak seperti kampanye "boikot Jepang" yang pernah gencar dilakukan di Korea pada 2019," tambahnya.

Warga Seoul bermarga Kim pun memilih Jepang sebagai tujuan liburannya. Dia akan berangkat ke Jepang dalam dua minggu untuk menjelajahi masakan dan budaya Jepang.

Sebagai seseorang yang menghindari membeli produk Jepang sejak 2019, ia merasa "sedikit bersalah" memilih bepergian ke Jepang di tengah kontroversi yang sedang berlangsung. "Namun, negara ini masih memiliki banyak hal untuk ditawarkan dalam hal pertukaran budaya dan tidak pantas untuk diboikot karena masalah internasional," sebutnya.

Kim dan Park termasuk di antara banyak warga Korea yang mengunjungi Jepang. Satu dari setiap tiga pengunjung asing yang datang ke Jepang, atau lebih dari 3,75 juta dari 13 juta, adalah warga negara Korea pada bulan Januari hingga Juli tahun ini, menurut statistik Organisasi Pariwisata Nasional Jepang (JNTO). 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Kontras dengan Gerakan Boikot Jepang

Hal ini sangat kontras dengan 2019, ketika Korea meluncurkan kampanye "boikot Jepang" sebagai tanggapan terhadap pembalasan ekonomi Tokyo. Pada saat itu, sentimen anti-Jepang menghalangi banyak konsumen Korea untuk bepergian ke Jepang dan membeli produk-produk Jepang, yang mengakibatkan penurunan tajam impor produk-produk buatan Jepang dan eksodus merek-merek Jepang di Korea.

Menurut Hana Tour, agen perjalanan terbesar Korea, Kamis, 7 September 2023, pemesanan paket tur ke Jepang melonjak 34,6 persen untuk liburan Chuseok mendatang dari 28 September hingga 3 Oktober, dibandingkan minggu sebelumnya.

Agen perjalanan besar lainnya, Modetour Network, mengatakan tidak mengalami kerusakan akibat masalah air limbah dalam penjualannya. Kedua agen perjalanan tersebut menegaskan bahwa tidak ada keluhan atau permintaan pembatalan yang diajukan setelah masalah air limbah muncul dan memandang Jepang kemungkinan akan tetap berada di urutan teratas dalam daftar tujuan liburan pilihan selain negara-negara Asia Tenggara untuk beberapa waktu.

Penerbangan Korea-Jepang dari bandara internasional utama, termasuk Incheon, Pulau Jeju, dan Busan, menunjukkan tingkat pemesanan 80 hingga 90 persen. Menanggapi melonjaknya permintaan, maskapai penerbangan domestik seperti Air Seoul dan T-way memutuskan untuk meningkatkan jumlah penerbangan antara kedua negara untuk musim liburan Chuseok.

3 dari 4 halaman

Alasan Memilih Liburan ke Jepang

Kantor JNTO di Seoul juga mengonfirmasi bahwa preferensi masyarakat Korea untuk bepergian ke Jepang kemungkinan akan terus berlanjut, terlepas dari adanya sentimen negatif masyarakat terhadap pembuangan air limbah. "Kedekatan geografis Jepang, daya saing harga akibat melemahnya yen, dan infrastruktur pariwisata Jepang menjadikan negara ini tujuan yang menarik bagi wisatawan Korea," kata seorang pejabat JNTO.

Jepang mulai mempertimbangkan rencana penyelamatan industri perikanan domestiknya setelah China bereaksi keras terhadap pembuangan air limbah radioaktif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima. Pasalnya, China melarang impor produk perikanan Jepang.

Mengutip dari Japan Today, Senin, 28 Agustus 2023, Pemerintah Jepang berupaya memitigasi dampak negatif tindakan China terhadap industri perikanan. Mereka juga terus mendesak China untuk mencabut kebijakan yang dianggap "tidak berdasarkan ilmu pengetahuan."

Ekspor makanan laut Jepang ke China mencapai sekitar 160 miliar yen pada 2022, sekitar 40 persen dari total ekspor dari segi nilai, menurut data pemerintah. Negeri Tirai Bambu memperketat kebijakannya dengan melarang operator produksi makanan membeli atau menggunakan makanan laut yang berasal dari Jepang untuk mengolahnya maupun dijual.

4 dari 4 halaman

Larangan Ekspor Makanan Laut Jepang

"Potensi dampak yang dirasakan mereka yang telah melakukan ekspor (ke Tiongkok) akan sangat parah. Kita perlu secara serius mempertimbangkan apa yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan mereka," ungkap Menteri Keuangan Shunichi Suzuki pada konferensi pers pada Jumat, 26 Agustus 2023

Kementerian terkait yang membidangi perikanan dan perdagangan diharapkan untuk menyusun rinciannya, termasuk bentuk bantuan yang paling sesuai. Larangan langsung China terhadap makanan laut Jepang terjadi di tengah ekspektasi bakal mencairnya hubungan bilateral yang telah mendingin dalam beberapa tahun terakhir. Selama ini, kedua negara Asia Timur itu berselisih tentang kedaulatan pulau-pulau tak berpenghuni yang dikuasai Jepang dan diklaim oleh Tiongkok, serta isu-isu kontroversial lainnya. 

Pada Kamis, 24 Agustus 2023, Jepang mulai melepaskan limbah radioaktif yang telah diolah dari pembangkit listrik tenaga nuklir Fukushima Daiichi ke Samudera Pasifik. Isi cairan tersebut kebanyakan berupa radionuklida, kecuali tritium yang dikeluarkan dari air sebelum dibuang. Ini jadi sebuah langkah penting menuju penonaktifan fasilitas yang hancur akibat gempa bumi dan tsunami pada 2011.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini