Sukses

Usaha Kemenparekraf Ciptakan Iklim Pariwisata Berkelanjutan Jelang KTT G20

Liputan6.com, Jakarta - Para delegasi G20 sepakat menciptakan iklim pariwisata berkelanjutan dengan menghadirkan pembiayaan internasional dalam upaya transformasi menuju iklim tersebut. Kesepakatan ini dibuat dalam Tourism Working Group (TWG) 1 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 11 Mei 2022.

Dalam bingkai keberlanjutan, keberhasilan pariwisata tak hanya diukur dalam jumlah pengunjung saja. Keberhasilan juga harus difokuskan pada dampak positif yang bisa diberikan sektor tersebut terhadap peningkatan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan kelestarian alam.

Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno dalam Weekly Press Briefing, Selasa, 17 Mei 2022, harus ada aksi konkret ketika berbicara mengenai pariwisata berkelanjutan. Salah satu yang ditawarkan Indonesia adalah solusi berbasis alam.

"Contohnya, sedotan purun dari sejenis rumput teki-tekian yang memiliki batang lurus, berongga, dan tidak berdaun efektif untuk digunakan sebagai pengganti sedotan plastik," terang Sandiaga Uno.

Dalam menciptakan iklim pariwisata berkelanjutan, tentunya produk-produk yang dihasilkan harus sesuai dengan prinsip-prinsip ini. Di antaranya bagaimana produk pariwisata dan ekonomi kreatif bisa meminimalkan limbah agar lingkungan tidak tercemar.

Ia menyebut wisata kuliner sebagai contoh. Di samping memenuhi kebutuhan primer wisatawan saat di tempat wisata, kuliner juga bisa menjadi penyumbang masalah sampah yang kerap kali tidak sedikit. Bentuknya beragam, mulai dari sisa makanan yang tidak dihabiskan hingga kemasan plastik yang dihasilkan dan bahkan dibuang sembarangan.

Ada lagi soal pengurangan emisi karbon. Target pengurangan emisi karbon sekitar 25 persen pada 2030 di sektor pariwisata, berdasarkan penelitian UNWTO pada Desember 2019, memerlukan dukungan pembiayaan, termasuk kemungkinan pembentukan dana internasional untuk menetralisir iklim dalam sektor pariwisata.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Sampah Plastik

Tercatat bahwa sampah plastik yang menjadi isu global ini membutuhkan waktu sekitar 500 hingga 1.000 tahun untuk benar-benar terurai oleh tanah. Dari data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan dari 64 juta ton sampah plastik per tahun, sebesar 3,2 juta ton berkontribusi ke laut. Tentunya hal ini sangat mengkhawatirkan biota-biota laut dan menciptakan dampak lebih besar terhadap kesehatan serta lingkungan.

Indonesia melalui Kemenparekraf telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi sampah plastik ini. Di antaranya dengan menghadirkan pengelolaan sampah plastik di Desa Gorontalo, Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo.

Dalam penerapan pengolahan sampah, Kemenparekraf/Baparekraf bekerjasama dengan PT. ASTRA. Metode yang digunakan adalah pirolisis. Jad, sampah plastik yang dikumpulkan nelayan akan diolah dengan teknologi tinggi untuk menghasilkan bahan bakar solar, yang nantinya bisa digunakan oleh nelayan untuk aktivitas melaut mereka.

Kemenparekraf/Baparekraf juga telah menghadirkan Waste Management Specialist untuk melihat potensi pengolahan sampah yang akan bermanfaat secara ekonomi bagi masyarakat setempat. Dengan begitu, Labuan Bajo dapat menjadi destinasi pariwisata yang benar-benar bebas dari sampah.

3 dari 4 halaman

Mengubah Cara Pandang

"Saat ini bisa dibilang kita sudah bangkit dari pandemi, lalu untuk program Sustainable Tourism Development (STDev) ini bagaimana aplikasinya untuk para pelaku pariwisata yang mulai bangkit? Misal bagaimana upgrade skill-nya? Seperti apa pengembangannya di lapangan?" tanya Sandiaga.

"Karena kalau di beberapa daerah pasti butuh penyesuaian," sambungnya.

Adanya pandemi Covid 19 yang terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir telah mengubah cara pandang pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia. Hal ini membuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi industri yang cukup rentan, yang memiliki banyak isu yang harus dihadapi apabila akan mencapai keberlanjutan/sustainability.

Dalam upaya mengembangkan sustainable tourism, Kemenparekraf/Baparekraf memiliki empat pilar fokus yang dikembangkan melalui Peraturan Menteri Parekraf No. 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Di antaranya pengelolaan berkelanjutan (bisnis pariwisata), ekonomi berkelanjutan (sosio-ekonomi) jangka panjang, keberlanjutan budaya (sustainable culture) yang harus selalu dikembangkan dan dijaga, serta aspek lingkungan (environment sustainability).

4 dari 4 halaman

Desa Wisata

Sebagai implementasi konkret yang dilakukan oleh Kemenparekraf/Baparekrafdalam rangka mengembangkan pariwisata berkelanjutan di Indonesia pasca-pandemi Covid-19, dapat terlihat dalam beberapa program yang saat ini dilakukan, antara lain:

1. Sertifikasi CHSE kepada Usaha Pariwisata, Destinasi Pariwisata, dan Produk Pariwisata lainnya untuk memberikan jaminan kepada wisatawan terhadap pelaksanaan Kebersihan, Kesehatan, Keselamatan, dan Kelestarian Lingkungan.

2. Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan dalam rangka mendorong quality tourism.

3. Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) memberikan apresiasi kepada masyarakat penggerak sektor pariwisata dalam upaya percepatan pembangunan desa, mendorong transformasi sosial, budaya, dan ekonomi desa.

4. Implementasi Program Pendampingan Pengelolaan Sampah yang diharapkan memberi dampak pada meningkatnya kualitas lingkungan destinasi wisata.

Masyarakat sebagai pelaku utama kegiatan kepariwisataan perlu diberdayakan dalam mendukung praktik pariwisata keberlanjutan. Itu pula yang menjadi fokus utama Kemenparekraf melalui program pengembangan desa wisata. Desa wisata juga dianggap sebagai pandemic winner yang dianggap mampu membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang dapat menyentuh ekonomi masyarakat.

Kedepan, pengembangan pariwisata pasca-pandemi akan lebih mengarah kepada konsep personalize (wisatawan akan lebih memilih jenis pariwisata pribadi atau hanya dalam lingkup keluarga), customize (berwisata dengan pilihan minat khusus seperti wisata berbasis alam), localize (memilih destinasi yang jaraknya tidak terlalu jauh), dan smaller in size (pariwisata dengan jumlah pengunjung di setiap destinasi wisata yang tidak terlalu masif).