Sukses

6 Fakta Menarik Kutai Timur, Punya Hutan Lindung Terbaik dan Terluas di Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Kutai Timur adalah salah satu kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Sangatta. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 35.747,50 km persegi atau 17 persen dari luas Provinsi Kalimantan Timur dan berpenduduk sebanyak 253.847 jiwa (hasil Sensus Penduduk Indonesia 2020) dengan kepadatan 4,74 jiwa/km² persegi.

Pertumbuhan penduduk selama empat tahun terakhir rata-rata 4,08 persen setiap tahunnya. Kabupaten Kutai Timur atau Kutim merupakan salah satu wilayah hasil pemekaran dari Kabupaten Kutai yang dibentuk berdasarkan UU No. 47 Tahun 1999, tentang Pemekaran wilayah Provinsi dan Kabupaten. Diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada 28 Oktober 1999

Tentu bukan itu saja hal-hal menarik dari Kutai Timur. Berikut enam fakta menarik seputar Kabupaten Kutai Timur yang dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber.

1. Tambang Batu Bara

Ibu kota Kutai Timur, Sangatta mempunyai tambang batu bara. PT Kaltim Prima Coal (KPC yang mendapat izin kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) pada 1982, resmi beroperasi pada 1992 di Sangatta. Perusahaan ini menggali 'emas hitam' di lokasi yang tak jauh dari pusat kota Sangatta saat ini. KPC adalah perusahaan tambang batubara open pit (penambangan terbuka) terbesar di dunia.

Luas lahan konsesinya mencapai 90.938 hektare dengan kapasitas produksi mencapai 50 juta ton per tahun. Batu bara yang diproduksi KPC adalah kategori prima, salah satu kualitas batu bara terbaik dengan nilai kalori tertinggi. Oleh karenanya orientasi pasarnya adalah ekspor.

Di awal beroperasinya, KPC membuka lowongan kerja besar-besaran yang membuat para pencari kerja dari penjuru nusantara datang berbondong-bondong. Tak heran jika masyarakat Sangatta menjadi sangat majemuk. Bisa dibilang, hampir seluruh suku di nusantara ada di kota ini.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 6 halaman

2. Batik Wakaroros

Batik khas dari Kutai Timur, Wakaroros, berbeda dengan batik-batik lain, karena teknik pewarnaannya masih menggunakan cara tradisional. Mereka menggunakan getah kayu ulin yang proses pembuatannya memakan waktu hingga 3 hingga 4 hari.

Motif dari Batik Wakaroros sendiri berasal dari berbagai etnis Suku Dayak, seperti Kenyah dan Basap. Selain itu Anda juga bisa melihat proses pembuatannya secara langsung, dengan berkunjung Desa Manunggal Jaya, Kecamatan Ranpul. Batik Wakaroros menjadi salah satu ikon Kabupaten Kutai Timur.

Namun batik Wakaroros masih dikerjakan sangat tradisional dengan metode konvensional. Hal tersebut perlu mendapat perhatian dari semua pihak agar industri batik Kutai Timur bisa semakin maju.

3 dari 6 halaman

3. Wisata Zona Sangatta

Secara umum tempat wisata untuk dikunjungi di Kutim terbagi dalam tiga wilayah, yaitu Zona Sangatta, Zona Sangkulirang dan Zona Muara Wahau. Pembagian ini lebih dikarenakan kedekatan lokasinya bukan karena batas administratif.

Di Zona Sangatta ada Taman Nasional Kutai yang sudah terkenal. Mengunjungi Taman Nasional Kutai akan menjadi pengalaman yang berbeda, terutama bagi kamu yang menyukai alam dan memahami berbagai tipe jenis hewan dan tumbuhan. Ini karena, Taman Nasional Kutai memiliki tipe vegetasi dan fauna yang beragam, juga hampir punah seperti orangutan dan kukang.

Selain itu ada tempat wisata menarik lainnya seperti berbagai pantainya yang indah.

4 dari 6 halaman

4. Zona Sangkulirang

Objek dan daya tarik wisata di zona Sangkulirang ini umumnya ditandai dengan ciri alam, yaitu hutan, gua, air panas, sungai, pantai dan pulau-pulau kecil yang tersebar di Kecamatan Sangkulirang. Garis pantai yang panjang dan potensi perairan (laut maupun sungai) yang besar menambah daya tarik wilayah ini terlebih dengan adanya daya tarik yang unik yang berbeda dengan wilayah lainnya.

Beberapa tempat wisata di daerah ini antara lain, Desa Benua Baru, dan Desa Pengadan. Di Desa Pengadan sebagian besar penduduknya adalah petani sarang burung walet.

Juga terdapat gua-gua yang sangat menarik untuk dikunjungi, baik karena keindahannya (stalagtit dan stalagmit) serta terdapat lukisan-lukisan dinding berupa gambar negatif tangan manusia dan hewan dari Zaman Batu (Stone Age).

5 dari 6 halaman

5. Zona Muara Wahau

Keberadaan gunung batu Kongbeng merupakan salah satu daya tarik lain yang unik di Zona Muara Wahau. Di wilayah ini banyak terdapat desa di sepanjang sungai Wahau/Telen.Salah satunya adalah Desa Miau Baru. Desa ini masih tetap mempertahankan tradisi budaya Dayak dalam kehidupan keseharian mereka, seperti berladang dan mencari ikan untuk kelangsungan hidup.

Selain itu ada Hulwa yaitu Hutan Lindung Wehea yang terletak di iwilayah Desa Nehas Liah Bing. Suku Dayak Wehea sepakat menjaga dan melindungi serta melestarikan hutan mereka yang sangat luas (sekitar 38 ribu hektare) dan bahkan menjadi hutan lindung terluas di Kalimantan Timur maupun di seluruh Indonesia.

Hutan Lindung Wehea pernah mendapatkan penghargaan berupa Kalpataru dari pemerintah Republik Indonesia pada 2009. Hal ini dikarenakan saat itu, hutan lindung ini telah melakukan upaya berupa pelestarian yang luar biasa sehingga keberadannya termasuk dalam kategori yang terbaik saat itu.

6 dari 6 halaman

6. Kuliner khas Kutai Timur

Kabupaten ini tak hanya memiliki pesona alam yang indah, tapi juga kuliner khas yang lezat dan menggugah selera.  Salah satunya adalah Sate Payau  Berbeda dengan satai yang biasa kamu jumpai, Sate Payau tergolong unik karena terbuat dari daging rusa.

Satai ini memiliki rasa manis gurih dari bumbu kecap dan kacang yang digunakan. Terlebih lagi tekstur dagingnya sangat lembut membuat siapa saja tak sabar ingin segera mencicipinya. Ada juga Ayam Goreng Sangkulirang khas Kutai Timur.

Ayam ini dimasak dengan kecap dan santan sehingga menciptakan cita rasa gurih yang khas. Resep ini sudah diwariskan turun-temurun. Makanan khas lainnya ada Gangan Manok, Bubur pedas, Gence Ruan, Sayur Asam Kutai dan Amplang Ikan Tenggiri.