Tata Cara Berdoa di Masjid Nabawi Agar Tidak Salah Adab, Simak Penjelasannya

Tata cara berdoa di Masjid Nabawi agar tidak salah adab penting dipahami oleh setiap jemaah yang berkesempatan beribadah di Madinah.

Diterbitkan 07 Oktober 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tata cara berdoa di Masjid Nabawi agar tidak salah adab penting dipahami oleh setiap jemaah yang berkesempatan beribadah di Madinah. Berada di masjid ini menjadi kesempatan berharga bagi jemaah untuk memperbanyak ibadah, berdzikir, membaca Al-Qur’an, bershalawat, serta memanjatkan doa kepada Allah SWT.

Masjid Nabawi memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam karena dibangun oleh Rasulullah SAW. Keutamaan Masjid Nabawi antara lain ditegaskan dalam sabda Rasulullah SAW: “Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan tersebut menunjukkan besarnya nilai ibadah di Masjid Nabawi. Karena itu, jemaah dianjurkan memanfaatkan waktu selama berada di dalamnya dengan memperbanyak amal saleh dan menjaga sikap agar tetap tenang serta khusyuk.

Namun, kemuliaan sebuah tempat tidak berarti doa akan terkabul begitu saja tanpa memperhatikan adab. Berdoa tetap merupakan ibadah yang membutuhkan ketundukan, keikhlasan, dan kesungguhan hati. Imam An-Nawawi dalam pembahasan mengenai adab berdoa menjelaskan pentingnya menghadirkan hati, menunjukkan kerendahan diri di hadapan Allah, serta tidak menjadikan doa sekadar ucapan yang keluar dari lisan.

Adab tersebut menjadi semakin penting ketika jemaah berada di Masjid Nabawi. Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dalam Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin mengingatkan pentingnya menjaga tata krama ketika berziarah kepada Rasulullah SAW.

Tata Cara Berdoa di Masjid Nabawi agar Tidak Salah Adab

1. Memasuki Masjid dengan Kaki Kanan dan Berdoa

Saat memasuki Masjid Nabawi, dianjurkan untuk mendahulukan kaki kanan seraya membaca doa. Menurut Imam Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin, doa masuk masjid yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

Arab: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Latin: Bismillahir rahmaanir rahiim. A'uudzubillahil 'azhiimi wa wajhihil kariimi wa sulthaanihil qadiimi minasy syaithaanir rajiim. Allahummaftah lii abwaaba rahmatika.

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, kepada wajah-Nya yang Maha Mulia dan kepada kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu dari godaan setan yang terkutuk. Ya Allah, bukakanlah bagiku segala pintu rahmat-Mu."

Doa ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Daud, dan dianjurkan untuk dibaca saat memasuki masjid mana pun, termasuk Masjid Nabawi.

2. Melaksanakan Shalat Tahiyatul Masjid Dua Rakaat

Setelah masuk, dianjurkan untuk melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid dua rakaat. Jika memungkinkan, shalat ini dapat dilakukan di Raudhah, namun jika area tersebut sedang padat, dapat dilakukan di area lain di Masjid Nabawi. Setelah shalat, dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan doa.

3. Menjaga Kekhusyukan dan Ketawadhuan

Jemaah harus selalu menjaga tata krama, kekhusyukan, dan ketawadhuan, terutama ketika berada di area makam Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana yang dilakukan di hadapan beliau SAW di saat hidupnya, karena tidak ada bedanya antara masa setelah wafat beliau dengan masa hidup beliau dalam melihat umatnya.

4. Menghadap Kiblat Saat Berdoa

Saat berdoa, dianjurkan untuk menghadap kiblat jika memungkinkan, mengangkat kedua tangan, dan memulai dengan memuji Allah serta membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Adab ini dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan merupakan bagian dari sunnah dalam berdoa.

5. Memperbanyak Shalawat dan Salam

Menurut Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, hendaknya umat Islam yang ingin menziarahi Nabi SAW memperbanyak shalawat dan salam untuk beliau SAW dalam perjalanannya. Ini adalah bentuk penghormatan dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

6. Mengucapkan Salam kepada Rasulullah SAW dan Dua Sahabatnya

Saat berada di Raudhah dan menghadap ke arah makam Rasulullah SAW, dianjurkan mengucapkan salam dengan penuh penghormatan:

Arab: أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Latin: As-salāmu 'alayka yā Rasūlallāh wa rahmatullāhi wa barakātuh.

Artinya: "Keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya semoga tercurah kepadamu, wahai Rasulullah."

Hendaklah maju ke hadapan makam beliau SAW dari arah kiblat, yakni dengan membelakangi kiblat, kemudian mengucapkan salam dengan kehadiran hati dan suara yang rendah.

7. Tidak Mengeraskan Suara

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 2: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengeraskan suaramu melebihi suara Nabi...". Menurut Imam Al-Azhar, saat berada di Masjid Nabawi, hendaknya menjaga suara dan tidak mengeraskannya, karena mengeraskan suara di masjid adalah perbuatan yang dilarang.

8. Tidak Menyakiti Jamaah Lain

Dianjurkan untuk mengerjakan amalan sunnah di Raudhah dengan syarat mendapati kemudahan dan tidak menyakiti orang lain. Berdesak-desakan hingga menyakiti jemaah lain adalah perbuatan yang bertentangan dengan adab Islam.

9. Memperbanyak Istighfar dan Doa

Konsultan Bimbingan Ibadah Petugas Haji menganjurkan jemaah untuk memperbanyak shalat sunnah, memperbanyak dzikir dan doa saat berada di Raudhah, terlebih saat berziarah di Makam Rasulullah SAW karena di tempat ini makbulnya doa.

10. Berdoa dengan Hati yang Khusyuk

Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar mengingatkan bahwa hati yang khusyuk dan penghayatan akan keberadaan di tanah suci adalah kunci utama agar doa-doa lebih mudah diangkat ke langit.

Waktu Terbaik Berdoa di Masjid Nabawi

1. Setelah Shalat Subuh hingga Terbit Matahari

Waktu setelah Subuh adalah salah satu waktu paling tenang di Masjid Nabawi. Banyak orang memilih duduk, membaca Al-Qur'an, atau berdzikir sampai matahari terbit. Selain suasananya lebih sejuk, biasanya masjid juga belum terlalu padat.

Rasulullah SAW menganjurkan untuk duduk di masjid setelah shalat Subuh sambil berdzikir hingga matahari terbit, kemudian melaksanakan shalat sunnah Dhuha dua rakaat. Amalan ini memiliki keutamaan seperti pahala haji dan umrah yang sempurna (HR. Tirmidzi).

2. Antara Adzan dan Iqamah

Waktu antara adzan dan iqamah adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah SAW bersabda: "Doa yang dipanjatkan oleh seseorang di antara waktu adzan dan iqamah, tidak akan ditolak" (HR. Abu Daud). Di Masjid Nabawi, jeda waktu ini cukup panjang, memberikan kesempatan bagi jemaah untuk memperbanyak doa.

3. Sepertiga Malam Terakhir

Sepertiga malam terakhir adalah waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Pada waktu ini, Allah SWT turun ke langit dunia dan mengabulkan doa-doa hamba-Nya. Ini adalah momen terbaik untuk berdoa di Masjid Nabawi, terutama setelah shalat tahajud.

4. Saat Sujud dalam Shalat

Waktu sujud adalah saat seorang hamba paling dekat dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: "Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa" (HR. Muslim).

5. Hari Jumat

Hari Jumat adalah waktu yang penuh berkah. Doa yang dipanjatkan pada hari ini memiliki keistimewaan tersendiri, terutama pada satu jam terakhir sebelum Maghrib.

6. Di Raudhah

Raudhah adalah tempat mustajab untuk berdoa. Waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hari, karena suasana lebih tenang dan jemaah relatif lebih sedikit.

7. Setelah Shalat Fardhu

Berdoa setelah shalat fardhu adalah amalan yang sangat dianjurkan, terutama di Masjid Nabawi. Setelah menyelesaikan shalat wajib, jemaah dianjurkan untuk memperbanyak dzikir dan doa.

Doa-doa di Masjid Nabawi Lengkap Arab, Latin, dan Artinya

1. Doa Masuk Masjid Nabawi

Arab: بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. أَعُوذُ بِاللهِ الْعَظِيمِ وَوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Latin: Bismillahir rahmaanir rahiim. A'uudzubillahil 'azhiimi wa wajhihil kariimi wa sulthaanihil qadiimi minasy syaithaanir rajiim. Allahummaftah lii abwaaba rahmatika.

Artinya: "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Aku berlindung kepada Allah yang Maha Agung, kepada wajah-Nya yang Maha Mulia dan kepada kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu dari godaan setan yang terkutuk. Ya Allah, bukakanlah bagiku segala pintu rahmat-Mu."

2. Ucapan Salam kepada Rasulullah SAW

Arab: أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Latin: As-salāmu 'alayka yā Rasūlallāh wa rahmatullāhi wa barakātuh.

Artinya: "Keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya semoga tercurah kepadamu, wahai Rasulullah."

3. Doa Memohon Syafaat Rasulullah SAW

Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ شَفَاعَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَحْيِنِي عَلَى سُنَّتِهِ، وَأَمِتْنِي عَلَى مِلَّتِهِ

Latin: Allāhumma innī as'aluka syafā'ata nabiyyika Muhammadin shallallāhu 'alayhi wa sallama yawmal-qiyāmah, wa ahyinī 'alā sunnatihi, wa amitnī 'alā millatih.

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu syafaat Nabi-Mu, Muhammad SAW, pada hari kiamat. Hidupkanlah aku di atas sunnahnya, dan wafatkanlah aku dalam agamanya."

4. Doa Memohon Ampunan

Arab: رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Latin: Rabbanaghfir lanā wa li-ikhwāninalladzīna sabaqūnā bil-īmāni wa lā taj'al fī qulūbinā ghillal-lilladzīna āmanū rabbanā innaka ra'ūfur-rahīm.

Artinya: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

5. Doa Memohon Ilmu, Rezeki, dan Amal yang Diterima

Arab: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Latin: Allāhumma innī as'aluka 'ilman nāfi'an, wa rizqan thayyiban, wa 'amalan mutaqabbalan.

Artinya: "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima." (HR. Ibnu Majah)

6. Doa Memohon Kebaikan Dunia dan Akhirat

Arab: رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Latin: Rabbanā ātinā fid dunyā ḥasanatan wa fil ākhirati ḥasanatan wa qinā 'adzāban nār.

Artinya: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Al-Baqarah [2]: 201)

Keutamaan Doa di Masjid Nabawi

1. Doa Mustajab dan Cepat Dikabulkan

Doa yang dipanjatkan di Masjid Nabawi memiliki peluang besar untuk dikabulkan, terutama di Raudhah. Para ulama sepakat bahwa Raudhah adalah tempat yang maqbul (dikabulkan) untuk berdoa. Pembimbing Ibadah Haji menegaskan bahwa doa yang dipanjatkan di Raudhah selalu dikabulkan Allah SWT sepanjang ibadah haji seseorang bersih dan lurus.

2. Pahala Shalat Dilipatgandakan Seribu Kali

Shalat di Masjid Nabawi memiliki keutamaan seribu kali lipat dibandingkan shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Rasulullah SAW bersabda: "Shalat di masjidku ini lebih utama daripada seribu shalat di masjid lain kecuali Masjidil Haram" (HR. Bukhari dan Muslim). Keutamaan ini juga berlaku untuk doa dan dzikir yang dipanjatkan di dalamnya.

3. Raudhah adalah Taman Surga

Raudhah, area di antara rumah dan mimbar Rasulullah SAW, disebut sebagai taman dari taman-taman surga. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Raudhah disebut sebagai taman surga karena limpahan rahmat, ketenangan spiritual, serta besarnya pahala ibadah di tempat tersebut.

4. Tempat Memohon Syafaat Rasulullah SAW

Masjid Nabawi adalah tempat yang sangat tepat untuk memohon syafaat dari Nabi Muhammad SAW di hari kiamat. Berdoa di dekat makam Rasulullah SAW dengan penuh cinta dan penghormatan akan mendapat keberkahan yang besar.

5. Mendapatkan Ketenangan Hati dan Kedamaian Jiwa

Masjid Nabawi memiliki atmosfer spiritual yang sangat kuat. Banyak jemaah yang merasakan ketenangan hati dan kedamaian jiwa saat berdoa di dalamnya. Suasana masjid yang tenang, terutama pada waktu-waktu sepi seperti setelah Subuh atau malam hari, memberikan kesempatan untuk beribadah dengan lebih khusyuk dan fokus.

 

Pertanyaan Seputar Doa di Masjid Nabawi 

1. Apa saja adab berdoa di Masjid Nabawi?

Adab berdoa di Masjid Nabawi meliputi: memasuki masjid dengan kaki kanan dan membaca doa, melaksanakan shalat Tahiyatul Masjid dua rakaat, menjaga kekhusyukan dan ketawadhuan, menghadap kiblat saat berdoa, memulai dengan memuji Allah dan membaca shalawat, tidak mengeraskan suara, tidak menyakiti jemaah lain, serta memperbanyak istighfar dan doa.

2. Kapan waktu terbaik untuk berdoa di Masjid Nabawi?

Waktu terbaik untuk berdoa di Masjid Nabawi adalah setelah shalat Subuh hingga terbit matahari, antara adzan dan iqamah, sepertiga malam terakhir, saat sujud dalam shalat, hari Jumat terutama satu jam terakhir sebelum Maghrib, dan di Raudhah.

3. Apakah doa di Raudhah lebih mustajab daripada di tempat lain?

Ya, Raudhah adalah tempat yang sangat mustajab untuk berdoa. Meskipun tidak terdapat dalil khusus yang secara eksplisit menyebutkan bahwa Raudhah adalah tempat mustajab, para ulama berijtihad bahwa ia merupakan salah satu tempat yang sangat baik untuk beribadah dan beramal saleh. Pembimbing Ibadah Haji menegaskan bahwa doa yang dipanjatkan di Raudhah selalu dikabulkan Allah SWT sepanjang ibadah haji seseorang bersih dan lurus.

4. Apakah doa di Masjid Nabawi harus menggunakan bahasa Arab?

Tidak harus. Doa dapat dipanjatkan dengan bahasa apa pun yang dipahami. Namun, doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW (doa ma'tsur) tetap lebih utama karena mengandung keberkahan dan sesuai dengan tuntunan sunnah.

5. Bagaimana cara masuk ke Raudhah?

Untuk masuk ke Raudhah, jemaah harus memiliki akses melalui aplikasi Nusuk. Jemaah bisa memilih hari dan jam yang diinginkan. Setelah memiliki akses, jemaah diarahkan untuk berbaris di depan pintu 37 untuk laki-laki dan pintu 25 untuk perempuan. Petugas akan membagi waktu antara perempuan dan laki-laki sehingga tidak bersamaan saat ke Raudhah.