Sukses

Berapa Jarak yang Ditempuh Buraq di Malam Isra Miraj?

Liputan6.com, Jakarta - Isra Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW yang diawali dari Masjidil Haram, Makkah ke Masjidil Aqsa, Palestina dan dari Masjidil Aqsa ke Sidratul Muntaha. Dalam pengertian sederhana, Sidratul Muntaha digambarkan berada atau di atas langit ketujuh.

Perjalanan itu melibatkan tiga sosok. Nabi Muhammad SAW, Malaikat Jibril, dan kendaraan atau tunggangannya, buraq. Dalam berbagai riwayat, buraq adalah makhluk yang menyerupai kuda bersayap. Ada satu tanduk di kepalanya.

Soal wujud buraq, Rasulullah saw menyinggungnya dalam sebuah hadits yang berbunyi:

عن أنس ابن مالك رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: أتيت بالبراق – وهو دابة أبيض طويل فوق الحمار ودون البغل يضع حافره عند منتهى طرفه ...الحديث

Dari Anas bin Malik bahwasannya Rasulullah saw berkata: Aku diberi buraq dia hewan tunggangan yang berwarna putih lebih besar dari keledai tapi lebih kecil dari bighal yang satu tanduknya terdapat di pucuk kepalanya …

Buraq terbang secepat kilat. Nama buraq juga ditahbiskan karena kecepatannya yang melebihi kilat.

"Nama Buraq sendiri diambilkan dari asal kata “barq” yang bermakna kilat karena hewan tunggangan ini berjalan secepat kilat. Ada yang berpendapat, dinamakan buraq karena memiliki warna putih mengkilat dan berkilau cahaya. Ada juga yang berpendapat, dinamakan buraq karena memiliki warna loreng di kulitnya, sebagaimana orang arab menyebut “barqak” (loreng) untuk kambing yang memiliki warna hitam dan putih di kulitnya. (An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim [Beirut: Dar Ihya Turats, 2003 M], juz II, halaman 210)," demikian dikutip dari laman NU.

Dalam konteks modern, kecepatan buraq setidaknya setara kecepatan cahaya atau lebih. Sedangkan cahaya berkecepatan 300 ribu kilometer per detik.

Jika demikian, ada pertanyaan menarik yang muncul. Kira-kira berapa jarak yang ditempuh buraq di malam Isra Mi'raj?

Simak Video Pilihan Ini:

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Gambaran Kecepatan Buraq

Untuk mengetahui itu, penjelasan Ustadz Anang Misbahul Munir ST tentang buraq di malam Isra Mi'raj bisa menjadi bahan litereasi. Ustadz Anang menyampaikan hal itu dalam pengajian Isra Mikraj di Masjid Al Jihad Perumahan Balai Pertiwi (BP) Kulon Gresik, Sabtu (6/4/2019).

Menurut Ustadz Anang, Isra Mi'raj adalah perjalanan Rasulullah yang ditempuh selama satu malam. Dimulai dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjid Al Aqsa di Jeussalem. Dilanjutkan ke Sidratul Muntaha, langit ketujuh dengan mengendarai buraq.

”Peristiwa ini terjadi 27 Rajab 12 H. Sekitar tahun kematian Abu Tholib,” katanya, dikutip dari laman PWMU Jatim, Jumat (9/2/2024).

Tunggangan ini diceritakan semacam hewan.  Bentuk dan sifat buraq seperti binatang tunggangan. Bertubuh panjang.

Ukurannya lebih tinggi dari keledai dan lebih pendek dari bighal. Berwarna putih. Langkah kakinya, sejauh ujung pandangannya. Buraq juga bisa diikat sebagaimana layaknya hewan tunggangan.

 

3 dari 5 halaman

Nyaris Setara dengan Jarak ke Planet Neptunus

”Perkataan yang keluar dari Nabi Muhammad itu yang harus kita percayai,” tuturnya.

Masih mengutip laman yang sama, dia menerangkan, jika Nabi berangkat kira-kira pukul 20.00 WIB, lalu pulang sekitar pukul 04.00 WIB maka total lama travelling ini 8 jam. Acara Nabi di tempat yang dikunjungi 4 jam.

Kemudian dia mulai pakai hitungan rumus perjalanan itu dikaitkan dengan kecepatan cahaya. Jika kecepatan cahaya  300.000 km/detik maka jarak yang ditempuh Nabi 4 x 60 x 60 x 300.000 sama dengan 4.320.000.000 km.

”Jarak Neptunus-Bumi itu  4.450.000.000 km. Kalau buraq itu sama dengan kecepatan cahaya. Berarti  perjalanan itu tidak sampai Neptunus. Kurang 130.000.000 km,” ucap dia.

Ustadz Anang yang juga ketua Tadjid Center Muhammadiyah Jawa Timur menjelaskan, di tengah perjalanan malaikat Jibril menawarkan dua jenis minuman yakni susu dan khamer. Nabi Muhammad memilih susu.

”Malaikat Jibril mengatakan kepada Nabi Muhammad, sungguh engkau telah memilih kesucian.”

4 dari 5 halaman

Bertemu dengan Nabi-Nabi Terdahulu

Perjalanan ke langit pertama, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Adam. Ditunjukkan para ahli neraka dan ahli surga. 

Di langit kedua Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Isa dan  Nabi Yahya. Digambarkan Nabi Isa berkulit putih, rambutnya berminyak seolah baru mandi. Tidak tinggi dan tidak pendek dan mengatakan, Selamat datang wahai saudaraku yang saleh.

Di langit ketiga Nabi Muhammad bertemu Nabi Yusuf, laki-laki yang diberi setengah kegagahan dunia.  Di langit keempat Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Idris. Nabi yang ditinggikan derajatnya oleh Allah. Kemudian berkata, Selamat datang wahai Nabi dan saudaraku yang saleh.

Di langit kelima Nabi Muhammad bertemu Nabi Harun yang juga menyapa, selamat bertemu wahai Nabi dan saudaraku yang saleh.

Di langit keenam Nabi Muhammad bertemu Nabi Musa yang berkulit hitam badannya agak kurus dan tinggi juga berkata, selamat datang wahai Nabi dan saudaraku yag saleh.

Di langit ketujuh terdapat Baitul Makmur, tempat thowaf malaikat. Setiap hari tedapat 70.000 malaikat yang thowaf kemudian tidak kembali lagi.

Di Baitul Makmur ada orang tua yang bersandar yaitu Nabi Ibrahim. Kemudian berkata, selamat datang anakku yang saleh.

5 dari 5 halaman

Sidratul Muntaha dan Perintah Sholat

Naik ke Sidrotul Muntaha. Tak bisa digambarkan indahnya dihiasi daun-daun sebesar kuping gajah yang dihiasi perhiasan. Jibril berubah terlihat dalam wujud aslinya.

Ustadz Anang yang juga pengajar di Masjid Al Falah Surabaya melanjutkan, banyak yang tidak percaya dengan cerita Nabi Muhammad. Seperti Abu Jahal. Dia memanggil Abu Bakar Assidiq dan bertanya, Abu Bakar apakah kamu percaya dengan yang diceritakan Muhammad?

Abu Bakar langsung menjawab yakin, ”Saya percaya dengan apa yang dikatakan Muhammad karena apa yang dikeluarkan dari mulut Muhammad itu yang harus kita percaya. Karena Muhammad adalah Rasul Allah yang jujur dan tidak pernah berbohong.”

Ustadz Anang melanjutkan cerita, perjalanan Nabi Muhammad membawa oleh-oleh perintah shalat sebanyak lima puluh kali dalam sehari. Namun dalam perjalanan, Nabi SAW merasa berat apakah umatnya mampu melaksanakan shalat sebanyak itu. Setelah tawar menawar akhirnya menjadi lima kali sehari.

Sebagai penutup, dia menambahkan, peristiwa tersebut mengingatkan kita bahwa shalat itu pertanda kita akan bertemu dengan Allah. Orang beriman akan mendatangi Allah. Betapa pentingnya shalat dengan mengingat kembali bagaimana perjalanan Nabi Muhammad yang memikirkan umatnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.