Sukses

Benci pada Diri Sendiri, Hati-hati Self-Loathing yang Dapat Merusak Mental

Liputan6.com, Jakarta Benci pada diri sendiri dapat menjadi beban berat yang merusak kesehatan mental seseorang, membuka pintu bagi kondisi serius seperti depresi dan penyalahgunaan zat. Rasa benci pada diri sendiri seringkali menjadi akar masalah yang kompleks, mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Untungnya, terapi dan berbagai latihan kognitif dapat menjadi kunci untuk mengubah perspektif terhadap diri sendiri dan membuka jalan menuju pemulihan mental yang lebih baik. 

Terapi merupakan alat penting dalam merombak pola pikir yang merugikan ini. Dalam suasana terapeutik, individu dapat mengeksplorasi akar penyebab rasa benci pada diri sendiri dan belajar menggantinya dengan pemikiran yang lebih positif. Latihan kognitif seperti mengenali dan menantang pola pikir negatif juga membantu mengubah paradigma mengenai diri sendiri, membuka peluang untuk tumbuh dan berkembang.

Menyadari dampak serius dari benci pada diri sendiri, masyarakat perlahan mulai memberikan perhatian yang lebih besar pada isu kesehatan mental. Pendidikan dan kesadaran tentang pentingnya mengatasi rasa benci pada diri sendiri menjadi kunci untuk mencegah konsekuensi yang lebih serius. 

Untuk itu, berikut ini telah Liputan6.com rangkum dari WebMD, informasi lengkap seputar benci ada diri sendiri atau yang dikenal juga dengan Self-Loathing pada Senin (12/2).

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 6 halaman

Apa Itu Self-loathing atau Benci Diri Sendiri?

Self-loathing adalah suatu perasaan yang menyerupai kebencian pada diri sendiri, yang secara konstan mendorong gagasan bahwa diri Anda tidak cukup baik. Akibatnya, Anda mungkin merasa tidak layak mendapatkan cinta atau bahwa hal-hal buruk terjadi pada Anda dengan alasan tertentu.

Rasa benci pada diri sendiri muncul melalui pola pikir negatif yang konsisten dan erat hubungannya dengan kritik diri yang berlebihan. Meskipun kritik diri adalah aspek sehat dalam kehidupan, namun dapat mulai mengatasi pola pikir lain ketika Anda sedang mengalami fase self-loathing.

Jika rasa benci pada diri sendiri berlangsung terlalu lama, dapat menyebabkan kondisi yang lebih parah, seperti depresi atau penyalahgunaan zat. Demikian pula, meskipun dalam tingkatan yang lebih ringan, dapat mengarah pada kekerasan terhadap orang lain atau perasaan inferioritas.

Penting untuk menyadari bahwa self-loathing bukanlah sesuatu yang harus diabaikan. Proses ini dapat merusak kesehatan mental dan emosional seseorang. Terapi menjadi alat yang efektif dalam mengatasi self-loathing, membantu individu untuk memahami akar permasalahan dan mengembangkan pola pikir yang lebih positif terhadap diri sendiri. Dengan memahami dampak serius dari self-loathing, langkah-langkah pencegahan dan pendekatan holistik dapat membantu individu membangun kesehatan mental yang kokoh dan menggantikan kebencian pada diri sendiri dengan penerimaan dan kasih sayang terhadap diri sendiri.

3 dari 6 halaman

Apa Saja Perilaku Self-loathing?

Perilaku self-loathing mencakup berbagai pola yang dapat diklasifikasikan sebagai bentuk kebencian pada diri sendiri, namun semuanya bermula dari kritik diri yang berlebihan. Mengidentifikasi pola-pola ini sangat penting untuk mencapai perbaikan, karena ini memungkinkan Anda menghentikan pola pikir tersebut tepat waktu ketika muncul kembali.

Pola pikir self-loathing yang umum melibatkan perasaan bahwa Anda adalah seorang kegagalan, bahwa Anda tidak bisa melakukan hal-hal dengan benar, atau bahwa Anda tidak cukup baik. Demikian pula, Anda mungkin menerapkan sikap yang sama terhadap kesejahteraan Anda, berpikir bahwa Anda tidak akan pernah sembuh.

Pikiran self-loathing juga dapat muncul terkait dengan situasi-situasi tertentu, seperti makan berlebihan atau begadang. Mereka bahkan bisa muncul setelah interaksi sosial, seperti merasa bahwa Anda terlalu agresif atau pemalu. Perilaku self-loathing yang umum lainnya termasuk menaruh dendam pada diri sendiri atas kesalahan masa lalu dan menetapkan harapan yang tidak realistis.

Seringkali, pola-pola ini terkait dengan perbandingan yang tidak adil antara diri sendiri dan orang lain. Karena self-loathing, Anda mungkin merasa lebih rendah dari orang lain dengan mengabaikan kesalahan mereka dan hanya mengakui kelebihan mereka.

Mengatasi perilaku self-loathing melibatkan pengenalan dan perubahan pola pikir ini. Terapi kognitif dan intervensi psikologis dapat membantu individu menghadapi kritik diri yang merugikan, membangun pemahaman yang lebih positif terhadap diri sendiri, dan menggantikan pola-pola berbahaya dengan pikiran yang mendukung kesejahteraan mental. Dengan demikian, langkah-langkah ini membantu individu mengatasi self-loathing dan membangun fondasi kesehatan mental yang lebih kuat.

4 dari 6 halaman

Gejala Self-loathing

Menentukan gejala self-loathing dengan tepat bisa sulit, karena self-loathing bukanlah kondisi medis yang berdiri sendiri. Namun, ada beberapa tanda umum yang mungkin menunjukkan bahwa seseorang merasakan self-loathing dan kebencian pada diri sendiri:

  1. Perasaan Tidak Berharga: Seseorang yang mengalami self-loathing mungkin sering merasa tidak berharga, meragukan nilai dan kontribusi dirinya dalam kehidupan.
  2. Perasaan Bersalah Saat Terjadi Kesalahan: Munculnya perasaan bersalah secara berlebihan setiap kali terjadi kesalahan bisa menjadi indikator self-loathing. Individu ini mungkin sulit memberikan diri sendiri pengampunan dan menginternalisasi kesalahan sebagai bukti kegagalan pribadi.
  3. Perfectionism (Pengejaran Kesempurnaan): Keinginan untuk mencapai tingkat kesempurnaan yang tidak realistis bisa menjadi gejala self-loathing. Individu mungkin menempatkan standar yang sangat tinggi untuk diri mereka sendiri, dan ketika mereka tidak mencapainya, merasa sangat kecewa dan merendahkan diri sendiri.
  4. Self-Harm (Melukai Diri Sendiri): Tindakan merusak diri sendiri, seperti menyakiti tubuh secara fisik, dapat menjadi cara seseorang menyatakan rasa kebencian pada diri sendiri. Ini adalah respons ekstrem terhadap perasaan yang sulit diungkapkan.
  5. Gangguan Makan: Gangguan makan, seperti anoreksia atau bulimia, dapat terkait dengan self-loathing. Pengendalian makan dan citra tubuh yang negatif dapat menjadi cara seseorang mencoba mengontrol atau mengubah perasaan buruk terhadap diri sendiri.

Penting untuk diingat bahwa gejala-gejala ini mungkin terjadi bersamaan atau berubah dari waktu ke waktu. Identifikasi dan pengelolaan self-loathing memerlukan pendekatan holistik, termasuk dukungan sosial, terapi, dan pengembangan keterampilan emosional untuk membantu individu membangun rasa harga diri yang lebih positif.

5 dari 6 halaman

Penyebab Self-loathing

Self-loathing umumnya berakar dari masa lalu, karena kecenderungan untuk membenci diri sendiri sebagian besar berkembang selama masa kanak-kanak. Secara khusus, akar masalah ini terletak pada hubungan yang dibentuk dengan orang tua atau pengasuh.

Karena hubungan ini adalah ikatan pertama yang kita bangun dalam hidup kita, hal tersebut dapat memiliki dampak besar pada cara kita mempersepsikan dan bertindak dalam hubungan di masa depan. Ini tentu mencakup hubungan dengan diri sendiri, yang berarti bahwa pengasuh otoriter atau yang bersifat abusive dapat menjadi pemicu self-loathing.

Para ahli berpendapat bahwa orang tua yang mendorong otonomi dan membiarkan anak-anak membuat kesalahan akan menghasilkan rasa percaya diri yang lebih besar. Sebaliknya, orang tua yang terlalu mengontrol akan menciptakan kurangnya harga diri yang pada akhirnya dapat tumbuh menjadi self-loathing.

Secara khusus, penelitian menunjukkan bahwa sebagai anak-anak, kita mengidentifikasi diri kita dengan pengasuh yang marah daripada dengan diri kita sendiri. Hal ini menyebabkan anak-anak mengambil kemarahan, ketakutan, dan emosi negatif lainnya yang dialami oleh orang tua dalam momen stres. Akibatnya, kita terpapar pada situasi-situasi yang membuat kita merasa buruk dan tidak memadai.

Terakhir, penting untuk mempertimbangkan bahwa anak-anak juga dapat belajar pola self-loathing dari pengasuh mereka, bahkan jika mereka tidak terlibat secara langsung dalam situasi tersebut. Hal ini membuat seorang anak sangat rentan terhadap self-loathing jika mereka melihat orang tua mereka mengalami fase self-hating.

Mengatasi self-loathing seringkali melibatkan pemahaman mendalam terhadap asal mula perasaan tersebut dan upaya untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri melalui terapi dan dukungan sosial yang adekuat.

6 dari 6 halaman

Terapi dan Pengobatan Self-loathing

Meskipun Anda dapat mencoba mengatasi self-loathing sendiri, selalu lebih baik untuk mencari bantuan profesional. Terapi memungkinkan Anda untuk mengeksplorasi berbagai teknik pemecahan masalah guna mengatasi pola self-loathing. Namun, terdapat berbagai jenis terapi, dan memilih yang sesuai dapat menjadi tantangan tersendiri.

Beberapa orang menganjurkan intervensi mindfulness, yang akan mengajarkan Anda untuk menyadari perasaan Anda dari sudut pandang luar. Melalui berbagai teknik, terapis akan mengajarkan Anda bagaimana menantang pandangan negatif terhadap diri sendiri melalui meditasi.

Ada juga yang merekomendasikan terapi tradisional, karena dapat mengajarkan nilai-nilai seperti kasih sayang pada diri sendiri dan kebaikan hati. Selain itu, terapi ini juga akan mengajarkan Anda untuk menghargai kritik diri ketika tidak berlebihan.

 

Mengatasi Self-Loathing secara Mandiri

Ada beberapa konsep umum yang dapat membantu siapa pun yang sedang mengalami fase self-loathing. Meskipun Anda tidak pergi ke terapi, panduan kunci ini dapat membantu Anda tetap berada pada jalur yang benar dan menghentikan pola-pola kebencian pada diri sendiri yang berulang.

  1. Cobalah untuk mengamati pikiran Anda dari luar. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, latihan mindfulness dapat membantu Anda menyadari pikiran Anda dengan cara yang tidak menilai. Ini akan memungkinkan Anda mengenali dan rasionalisasi pola self-loathing sehingga Anda dapat menghentikannya tepat waktu.
  2. Ubah cara Anda berbicara pada diri sendiri. Seringkali, kita berbicara pada diri sendiri dengan cara yang negatif, mendorong ide bahwa kita tidak cukup baik atau menghina diri sendiri. Sebaliknya, cobalah membayangkan bahwa Anda berbicara dengan seorang teman lama yang mengalami hal-hal serupa dengan Anda.
  3. Turunkan harapan Anda. Aspek besar dari self-loathing adalah membuat Anda menetapkan harapan dan tujuan yang tidak realistis - biasanya karena perbandingan yang tidak adil dengan orang lain. Dengan menetapkan tujuan yang realistis dan mudah dicapai, Anda akan meningkatkan harga diri dan mengurangi pemikiran yang berkaitan dengan kebencian pada diri sendiri.
  4. Cobalah untuk menerima bahwa Anda sudah cukup baik. Masyarakat sering mendorong kita untuk percaya bahwa kita harus sempurna - tetapi tidak apa-apa untuk kritis, marah, dan melakukan kesalahan pada waktu tertentu. Alih-alih membenci emosi-emosi ini, cobalah untuk merangkulnya dan menerima bahwa terkadang sudah cukup baik menjadi diri sendiri.
  5. Katakan sesuatu yang positif pada diri sendiri. Cara yang bagus untuk cepat meningkatkan harga diri adalah mengucapkan sesuatu yang baik pada diri sendiri setiap hari. Misalnya, beri diri Anda selamat atas menyelesaikan pekerjaan rumah, atau beri diri Anda penghargaan karena menyelesaikan pekerjaan rumah yang membosankan.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.