Sukses

7 Fakta Pneumonia Misterius di China yang Banyak Menyerang Anak-Anak

Liputan6.com, Jakarta Penyakit pneumonia misterius di China sedang hangat dibicarakan publik. Pasalnya, penyakit yang merupakan peradangan paru-paru ini didominasi menyerang anak-anak yang meningkat secara signifikan dalam beberapa bulan terakhir, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, penyebab utama dari pneumonia misterius di China ini adalah Mycoplasma pneumoniae, sebuah bakteri yang menginfeksi paru-paru yang bisa menular melalui droplets.

Meski begitu, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Budi Gunadi Sadikin memastikan adanya infeksi Mycoplasma pneumoniae dinilai tidak mengkhawatirkan. Ada penularan infeksi pada anak-anak di China, tapi bakteri itu bukan patogen baru seperti SARS-CoV-2.

Berikut Liputan6.com ulas mengenai fakta-fakta pneumonia misterius di China yang telah dirangkum dari berbagai sumber, Rabu (29/11/2023).

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 3 halaman

1. Pertama Kali Ditemukan

Pada 21 November 2023, jaringan pemantau penyakit menular ProMED merangkum beberapa laporan dari media di Tiongkok terkait adanya penemuan pneumonia misterius yang disebut ada "pneumonia yang tidak terdiagnosis" (clusters of undiagnosed pneumonia) yang banyak menyerang anak-anak. Sehingga rumah sakit dan tempat lain kebanjiran anak-anak yang sakit.

Hal ini lantas menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi pandemi baru dan membuat Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO meminta informasi lebih lanjut dari Tiongkok melalui telekonferensi pada tanggal 22 November 2023.

2. Banyak Menyerang Anak-Anak

Dikutip dari laman Health Liputan6.com, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menerima laporan terjadinya peningkatan pneumonia yang tak terdiagnosis (undiagnosed pneumonia) alias pneumonia misterius di China. Peningkatan penyakit pernapasan yang tak terdiagnosis, salah satu yang dilaporkan adalah pneumonia misterius pada anak-anak di China bagian utara.

Pada tanggal 22 November 2023, WHO mengidentifikasi laporan media dan ProMED tentang "pneumonia yang tidak terdiagnosis" (clusters of undiagnosed pneumonia) di rumah sakit anak-anak di Beijing, Liaoning, dan tempat-tempat lain di China.

Dilaporkan pneumonia misterius yang terjadi di China ini lebih banyak menyerang anak-anak daripada orang dewasa. Hal ini terlihat dari aporan ProMED International Society for Infectious Disease yang dipublikasikan 21 November 2023 berjudul, Undiagnosed pneumonia - China, merebaknya wabah pneumonia di China berimbas pada rumah sakit anak-anak di Beijing, Liaoning dan tempat-tempat lain kewalahan menangani anak-anak yang sakit. Saking banyaknya, sekolah-sekolah serta kelas-kelas hampir diliburkan.

Banyak rumah sakit yang menerima pasien anak-anak yang terserang penyakit pneumonia misterius, yakni Beijing Children's Hospital dan Dalian Children's Hospital. Kedua rumah sakit tersebut sampai harus mengobati anak-anak yang terinfeksi di loby maupun lorong rumah sakit.

3. Penyebab Pneumonia Misterius

Menurut laporan dari WHO, penyebab utama dari pneumonia misterius yang menyerang anak-anak di China adalah Mycoplasma pneumoniae. Mycoplasma pneumoniae merupakan bakteri penyebab penyakit pernapasan. Penyakit karena bakteri ini muncul saat situasi musim panas bagi negara-negara yang memiliki empat musim.

Terkait hal ini, epidemiolog Dicky Budiman mengatakan pneumonia adalah infeksi yang menyerang salah satu atau kedua paru manusia. Hal ini menyebabkan kantung udara atau alveoli paru-paru terisi dengan cairan atau nanah. Kondisi ini dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau jamur.

Dicky kemudian menjelaskan soal penularan pneumonia. Menurutnya, penyakit ini menular melalui droplets. Pada pengidap pneumonia, patogennya ada di tenggorokan, hidung, dan ludah baik bakteri maupun virus. Dengan cara penularan yang seperti itu, tak heran mayoritas pasien penyakit ini adalah anak-anak karena penularannya bisa melalui berbagi makanan yang sama.

3 dari 3 halaman

4. Fatalitas Kasus Pneumonia Misterius

Menurut Dicky Budiman menegaskan bahwa risiko pneumonia pada pasien tidak parah. Bahkan sebagian besar bisa sembuh sendiri. Dengan catatan kondisi pasien bagus dan tidak mengalami gangguan imunitas atau daya tahan tubuh.

Lebih lanjut, Dicky mengungkap bahwa fatalitas atau angka kematian tidak tinggi. Meski begitu, peningkatan pasien yang terinfeksi bakteri penyebab pneumonia ini masih meningkat. Peningkatan tersebut disebabkan karena Mycoplasma pneumonia yang diduga resisten terhadap antibiotik. Selain itu, dugaan lainnya adalah karena kondisi kesehatan anak secara umum serta daya tahan tubuhnya menurun.

Sedangkan terkait pencegahannya, pneumonia dapat dihadang oleh masker dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun. Mengingat, penularannya melalui droplet.

5. Kasus Pneumonia di China Sudah Tidak Misterius

Mengutip dari laman Health Liputan6.com, menurut Dicky kasus pneumonia misterius di China kini sebetulnya sudah tidak misterius. Pasalnya, pemerintah di China sudah melaporkan secara resmi bahwa kasus ini bukan karena patogen baru.

Jadi WHO sendiri belum menerapkan ini sebagai sesuatu yang harus dinyatakan sebagai kedaruratan, namun hal ini perlu diwaspadai.

6. Pemerintah RI Tingkatkan Kewaspadaan

Sebagai bentuk kesiapsiagaan Pemerintah dalam mengantisipasi penularan pneumonia di Indonesia, Kemenkes RI melalui Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menerbitkan Surat Edaran Nomor: PM.03.01/C/4632/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia. Surat edaran yang terbit pada tanggal 27 November 2023 ini diteken Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Maxi Rein Rondonuwu.

Surat Edaran ini bertujuan sebagai langkah kewaspadaan dalam upaya mengantisipasi terjadinya kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia, tulis Maxi dalam surat edaran yang diterima Health Liputan6.com pada Selasa, 28 November 2023.

Surat kewaspadaan Kemenkes RI terkait Mycoplasma pneumonia ditujukkan kepada seluruh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Direktur/Kepala Rumah Sakit, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Kepala Puskesmas di Indonesia.

7. Surveillans Amati Pneumonia

Untuk mengantisipasi masuknya Mycoplasma pneumoniae di Indonesia, Kementerian Kesehatan atau Kemenkes RI telah memperkuat surveilans untuk mengamati tren penyakit pneumonia.

Selain itu, Maxi Rein Rondonuwu turut meminta Puskesmas dan rumah sakit melakukan penguatan penyelengaraan surveilans Pneumonia, peningkatan pencatatan dan pelaporan Pneumonia, memperkuat kewaspadaan standar dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi.

Tak lupa, Maxi meminta fasilitas kesehatan melakukan edukasi ke masyarakat terkait Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan pentingnya vaksinasi untuk pencegahan penyakit infeksi saluran pernapasan akut.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.