Sukses

Musim Haji Usai, Saatnya Jemaah Kunjungi Tempat-Tempat Bersejarah di Madinah

Liputan6.com, Jakarta - Sangat disayangkan,bila jemaah haji tidak memanfaatkan waktu untuk berpergian ke tempat wisata yang memiliki nilai sejarah yang menarik di Madinah.

Namun, di kota Madinah ini, umat Islam bisa mendapati beberapa tempat yang ketika mendatanginya menjadi sebuah pahala bahkan menambah wawasan ilmu spiritual

Dikutip dari buku Menjadi Muthawif Anda di Tanah Suci karya Rafiq Jauhary, berikut beberapa tempat yang bisa dikunjungi oleh jemaah haji di Madinah :

2 dari 6 halaman

Kebun Kurma

Hampir bisa dipastikan,setiap jemaah haji tidak akan melewatkan tempat yang satu ini. Dilihat sepintas memang tidak ada yang menarik dari tempat kecil yang biasa disebut sebagai kebun kurma ini, namun begitu masuk di dalamnya jangan disangka, jemaah seolah tak ingin beranjak pulang karena begitu sibuknya berbelanja.

Berbagai jenis oleh-oleh mulai dari kurma muda,kurma berlapis coklat, kacang Arab dan roti-rotian yang dijual dalam toko yang ada di muka kebun ini.

"Anda yang tidak tertarik berbelanja pun tetap dapat menikmati tempat ini dengan hidangan teh gratis yang disediakan di hamparan kebun kurma," Tulis Rafiq

3 dari 6 halaman

Medan Magnet

Medan magnet dikenal jemaah haji Indonesia sekitar tahun 2005, yakni selepas kepulangan seorang artis Tanah Air yang mengunjungi tempat ini dan mempromosikannya melalui infotaiment yang meliputnya.

Penduduk sekitar mengenal daerah ini sebagai "Manthiqah Baidha" atau berarti daerah putih. Nama ini diambil dari pegunungan di sekitarnya yang memiliki warna lebih putih dibanding pengunungan lainnya yang berwarna kuning kemerahan.

Kini medan magnet menjadi ikon tersendiiri bagi para peziarah kota Nabi. Letaknya tepat di daerah bernama wadi Jin (Lembah Jin), atau 33 km arah utara Masjid Nabawi.

4 dari 6 halaman

As-Sab'ul Masajid (Tujuh Masjid)

Tujuh masjid ini dibangun untuk mengenang jasa seorang sahabat cerdik bernama Salman Al-Farisi. Seorang insyiur pada perang Khandaq ini memiliki ide menggali parit untuk mengadang serbuan 10.000 pasukan kafir yang hendak melumat umat Islam di Madinah yang ketika itu jumlahnya belum mencapai 10.000 jiwa.

Pada pertempuran itu, parit selebar 4,6 meter, memiliki kedalaman 3,2 meter dan membentang mengelilingi sisi barat hingga ke selatan kota Madinah sepanjang 5,5 km berhasil digali selama 90 hari. Dan disepanjang itulah dibangun tujuh pos yang digunakan untuk mengintai pasukan musuh.

Ketujuh pos itulah yang kini disebut sebagai As-sab'ul Masajid (tujuh masjid), di antara masjid yang berjumlah tujuh itu salah satu di antarannya dibangun lebih besar dan dinamakan Masjid Fath.

5 dari 6 halaman

Komplek Percetakan Al-Qur'anul Karim Raja Fadh

Banyak Travel yang menjadikan tempat ini sebagai salah satu destinasi wisata di madinah, tetapi ketika sampai di depan kompleknya tak sedikit jemaah yang mengurungkan niat untuk memasukinya.

Selain, hanya laki-laki saja yang diperbolehkan masuk ke dalam komplek ini, yang menjadikan pengujung urung memasukinya ialah antrean yang sangat panjang. Terlebih ketika musim haji, pengunjung di seluruh dunia akan dibiarkan membuat antrean sepanjang lebih dari 1 km di halaman percetakan yang panas dan tak beratap ini.

Sekalipun setiap pengunjung berhasil measukinya akan diberikan cindera mata berupa mushaf Al-Qur'an satu buah, tapi panjangnya antrean kadang membuat usaha dan hasilnya tidak sebanding.

Disana, pengunjung akan menyaksikan sebuah kompleks percetakan mushaf Al-Qur'an terbesar di dunia. 30 juta Al-Qura'an dicetak dipercetakan ini setiap tahun, dan dibagikan secara gratis kepada umat Islam.

6 dari 6 halaman

Masjid Qiblatin

Masjid ini pernah dijadikan para sahabat sebagai tempat untuk shalat dengan dua arah kiblat. Yaitu yang semula menghadap masjid Aqsha, setelah ada seorang sahabat yang mengabarkan bahwa telah turun ayat yang memerintahkan umat Islam agar shalat menghadap Kakbah.

Seketika para sahabat lainnya, yang ketika itu sedang mengerjakan shalat, membalikkan arahnya mengahadap kakbah yang semula mengahadap ke Utara, berubah menghadap ke Selatan.

Maka masjid di mana terjadi peristiwa perpindahan qiblat ini dinamakan Masjid Qiblatain. Masjid ini dahulu adalah sebuah masjid yang dimiliki Bani Salimah, sebuah kampung yang dimiliki kaum Khazraj.

 

(Desti Gusrina)