AS Kucurkan Rp 4 Miliar Lestarikan Situs Kapal Perang USS Houston di Selat Sunda

Amerika Serikat kucurkan lebih dari Rp 4 miliar untuk lestarikan situs kapal perang USS Houston di Selat Sunda.

Diterbitkan 21 Oktober 2026, 21:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Amerika Serikat (AS) menginvestasikan lebih dari Rp 4 miliar untuk mendukung pelestarian situs bangkai kapal perang USS Houston yang tenggelam di perairan Selat Sunda. Program ini bertujuan melindungi warisan sejarah bawah laut sekaligus mencegah praktik penangkapan ikan ilegal dan pengambilan benda dari bangkai kapal tanpa izin.

Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar AS Joy Sakurai mengatakan, pendanaan tersebut akan disalurkan selama dua tahun melalui Ambassador's Fund for Cultural Preservation atau Dana Duta Besar untuk Pelestarian Budaya.

Dalam pelaksanaannya, AS akan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta organisasi Sustainable Exotica Village untuk membentuk dan melatih tiga kelompok pengawasan berbasis masyarakat.

"Selama dua tahun ke depan, Amerika Serikat akan menginvestasikan lebih dari Rp4 miliar melalui Dana Duta Besar. Kami akan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta organisasi Sustainable Exotica Village untuk membentuk dan melatih tiga kelompok pengawasan berbasis masyarakat," kata Joy dalam peluncuran program pelestarian situs USS Houston di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Ketiga kelompok tersebut akan bertugas memantau lokasi bangkai kapal serta membantu mencegah penangkapan ikan ilegal dan pengambilan benda dari situs tersebut tanpa izin.

Joy mengatakan, program ini merupakan bagian dari upaya bersama Indonesia dan AS untuk menjaga situs bersejarah yang memiliki arti penting bagi kedua negara.

Menjadi Monumen Sejarah di Bawah Laut

USS Houston tenggelam pada 1 Maret 1942 saat terlibat pertempuran di Selat Sunda bersama kapal Australia, HMAS Perth, melawan pasukan musuh dalam jumlah besar.

Menurut Joy, kedua kapal tersebut akhirnya tenggelam dan menewaskan lebih dari 1.200 pelaut, termasuk sekitar 650 pelaut dan marinir Amerika Serikat.

Sebagian penyintas berhasil diselamatkan dan kembali ke AS, sementara sebagian lainnya tidak pernah kembali.

Kini, perairan Selat Sunda menjadi semacam monumen hidup bagi para pelaut yang kehilangan nyawa dalam pertempuran tersebut.

"Bagi Angkatan Laut Amerika Serikat dan keluarga para pelaut ini, situs tersebut bukan sekadar lokasi bersejarah. Situs ini juga merupakan makam perang yang menjadi pengingat mendalam akan pengorbanan yang menyertai perjuangan mempertahankan kebebasan," ujar Joy.

Dia menambahkan, kisah USS Houston berakhir di perairan Indonesia pada masa yang turut membentuk masa depan dunia dan perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia.

Karena itu, AS mengapresiasi komitmen Indonesia dalam mengakui pentingnya situs tersebut dan menjaga kelestariannya.

Joy mengungkapkan, dalam beberapa tahun terakhir, terdapat kerusakan dan praktik penangkapan ikan ilegal di kawasan sekitar USS Houston. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pelaksanaan program pelestarian.

 

Perkuat Kerja Sama Maritim Indonesia-AS

Joy menilai program pelestarian USS Houston mencerminkan sejumlah bidang kerja sama yang menjadi kekuatan hubungan Indonesia dan AS, mulai dari sejarah bersama, keamanan maritim, pelestarian budaya, hingga hubungan antarmasyarakat.

Dia mengatakan, kedua negara telah menjalin kerja sama selama puluhan tahun.

Tahun ini, Indonesia dan AS memperingati 77 tahun hubungan bilateral serta tujuh tahun kemitraan strategis komprehensif.

Menurut Joy, status kemitraan strategis komprehensif menunjukkan tingginya tingkat hubungan diplomatik yang dimiliki kedua negara.

Dia menegaskan, kerja sama pelestarian USS Houston juga menjadi bagian dari upaya bersama menjaga keamanan wilayah maritim di kawasan Indo-Pasifik.

"Delapan puluh empat tahun lalu, awak USS Houston mengorbankan segalanya untuk menjaga keamanan perairan ini. Kami sangat berterima kasih atas komitmen Indonesia dalam menghormati sejarah yang turut membantu menjaga kawasan maritim Indo-Pasifik tetap aman dan bebas," kata Joy.