Sukses

PM Baru Haiti Garry Conille Dilarikan ke Rumah Sakit Akibat Serangan Asma

Setelah seminggu melakukan aktivitas yang padat, Conille menderita penyakit ringan pada Sabtu sore (8/6). Bagaimana kondisinya?

Liputan6.com, Port-au-Prince - Kabar mengejutkan datang dari Haiti, Perdana Menteri yang baru, Garry Conille, dilarikan ke rumah sakit pada Sabtu (8/6/2024). Kabar yang beredar menyebut ia mengalami sakit ringan.

Kini kondisinya (PM Haiti) stabil, kata sebuah pernyataan pemerintah.

"Setelah seminggu melakukan aktivitas yang padat, Conille menderita penyakit ringan pada Sabtu sore, 8 Juni 2024, dan pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan," demikian pernyataan kantor pers perdana menteri pada larut malam seperti dikutip dari VOA Indonesia. Minggu (9/6/2024). 

"Kondisinya saat ini stabil," tambah kantor pers perdana menteri Haiti.

Sumber pemerintah, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengatakan kepada AFP sebelumnya bahwa perdana menteri tersebut menderita "serangan asma" dan kemungkinan akan dibawa ke luar negeri untuk mendapatkan perawatan.

Garry Conille, 58, diangkat menjadi perdana menteri oleh Dewan Transisi Kepresidenan Haiti pada 29 Mei dan baru dilantik pada Senin.

Sebagai seorang dokter yang mendapat pelatihan, Conille pernah menjabat sebagai perdana menteri Haiti untuk jangka waktu singkat pada 2011-2012, dan hingga saat ini menjabat sebagai direktur regional untuk badan bantuan PBB, UNICEF.

Tugas yang diemban sangatlah berat: mengatasi krisis politik, keamanan, dan kemanusiaan yang melanda negara termiskin di Belahan Barat, sambil merencanakan kembali pelaksanaan pemilihan umum, yang terakhir diadakan pada 2016.

Sejak pengangkatannya, Garry Conille mengadakan serangkaian pertemuan dengan para pemangku kepentingan dan perwakilan, sambil bekerja dengan Dewan dalam pembentukan kabinet.

Pernyataan kantor pers mengatakan PM Garry Conille berterima kasih kepada Anggota Dewan Kepresidenan yang telah mengunjunginya di rumah sakit dan bahwa dia “menyambut baik ungkapan kasih sayang masyarakat.”

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Kekerasan Geng Jadi Masalah Kronis Haiti

Kekerasan geng menjadi masalah kronis di Haiti selama bertahun-tahun. Namun, pada akhir Februari, sebuah kelompok bersenjata melancarkan serangan terkoordinasi di titik-titik strategis di Port-au-Prince. Mereka mengklaim bahwa tujuan serangan tersebut adalah untuk menggulingkan perdana menteri Ariel Henry yang tidak terpilih dan kurang populer.

Henry, yang memimpin pemerintahan sejak pembunuhan Presiden Jovenel Moise pada 2021, akhirnya setuju untuk mundur dari jabatannya dan menyerahkan kekuasaan kepada dewan transisi yang terdiri dari sembilan orang.

Sebelum jatuh sakit pada Sabtu (8/6), Conille mengunjungi bandara internasional di ibu kota Haiti, Port-au-Prince. Dia memuji upaya pasukan keamanan yang telah memungkinkan dilanjutkannya operasi penerbangan setelah dihentikan selama lebih dari tiga bulan akibat serangan geng.

3 dari 4 halaman

Kekerasan Pengaruhi Ketahanan Pangan dan Akses Kemanusiaan

Kekerasan tersebut sangat mempengaruhi ketahanan pangan dan akses kemanusiaan. Sebagian besar ibu kota telah jatuh ke tangan geng-geng yang dituduh melakukan pelanggaran, termasuk pembunuhan, pemerkosaan, penjarahan, dan penculikan.

Tahun lalu, pasukan keamanan yang didukung oleh PBB dan dipimpin oleh Kenya dijanjikan untuk membantu kepolisian Haiti. Namun, penempatannya berulang kali ditunda.

Presiden Kenya mengatakan pada akhir Mei bahwa pasukan tersebut siap dikerahkan dalam beberapa minggu mendatang.

4 dari 4 halaman

Geng Kriminal Kembali Bikin Onar Setelah Perdana Menteri Baru Haiti Diumumkan

Adapun kelompok kriminal di Haiti kembali melancarkan serangan ke sejumlah kawasan permukiman di Port-au-Prince.

Mereka membakar rumah-rumah dan terlibat baku tembak dengan polisi selama beberapa jam, sementara ratusan warga melarikan diri dari aksi kekerasan itu pada Kamis (2/5/2024).

Ini adalah salah satu serangan terbesar sejak diumumkannya perdana menteri Haiti yang baru, dikutip dari laman VOA Indonesia, Sabtu (4/5).

Serangan yang bermula pada Rabu (1/5) malam terjadi di permukiman Solino dan Delmas di barat daya bandara internasional utama yang sudah ditutup selama hampir dua bulan akibat terus berkecamuknya aksi kekerasan.

Dengan menggengam erat tangan anak-anak mereka, sejumlah keluarga berjalan menuju tempat-tempat penampungan yang sudah penuh sesak, atau ke rumah teman atau keluarga yang berada di bagian kota yang lebih aman.

Orang-orang yang rumahnya selamat dari serangan tersebut membawa kipas angin, kompor, kasur, dan kantong plastik berisi pakaian saat mereka melarikan diri dengan berjalan kaki, atau mengendarai sepeda motor, atau dengan bus kecil berwarna-warni, yang dikenal dengan sebutan tap-tap.

Sementara yang lainnya berjalan dengan tangan kosong karena telah kehilangan segalanya dalam aksi kekerasan di Haiti.

Kawasan yang biasanya dipadati lalu lintas dan pejalan kaki itu kini bagaikan kota mati tak lama setelah matahari terbit, dan diselimuti kesunyian yang mengerikan. Sementara itu sebuah truk polisi yang berlapis baja lalu lalang melintasi mobil-mobil dan dinding-dinding batako yang hangus terbakar.

Serangan itu terjadi di daerah yang dikuasai oleh Jimmy Chérizier, seorang mantan polisi elite yang dikenal sebagai Barbecue, pemimpin federasi geng yang berpengaruh dan dikenal dengan nama "G9 Family and Allies."

Chérizier dan beberapa pemimpin kelompok lainnya dituding bersalah atas serangan terkoordinasi sejak 29 Februari lalu di ibu kota Port-au-Prince.

Sekelompok orang bersenjata membakar kantor-kantor polisi, melepaskan tembakan ke arah bandara internasional utama, dan menyerbu dua penjara terbesar di Haiti untuk membebaskan lebih dari empat ribu narapidana.

Serangan itu memaksa mundur Perdana Menteri Ariel Henry dan memicu pembentukan dewan transisi kepresidenan yang secara tak terduga mengumumkan seorang perdana menteri baru Selasa (30/4), yaitu mantan menteri olah raga Fritz Bélizaire.

Warga Haiti kembali menyampaikan tuntutan mereka agar pemimpin baru memprioritaskan keamanan warga di tengah berkuasanya sejumlah kelompok kriminal, dan juga memberi persenjataan yang lebih baik pada Kepolisian Nasional Haiti.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.