Sukses

Perang Saudara Sudan: 134 Orang Tewas di Rumah Sakit Selatan

Menurut para ahli PBB, sejak perang saudara Sudan dimulai pada April 2023, puluhan ribu orang telah terbunuh, termasuk 15.000 orang di satu kota di Darfur Barat.

Liputan6.com, Khartoum - Lebih dari 130 orang tewas di sebuah Rumah Sakit Selatan di Kota El Fasher yang terkepung di wilayah Darfur, Sudan. Demikian disampaikan badan amal medis Medecins Sans Frontieres (MSF).

Pertarungan antar kelompok dalam perang saudara Sudan untuk merebut kendali kota tersebut akhir-akhir ini dilaporkan semakin meningkat.

"Situasinya mengerikan," kata seorang warga kepada BBC seperti dilansir Senin (27/5/2024), di mana rumah sakit dan pasar mengalami tembakan artileri hebat.

Militer telah berperang melawan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) selama lebih dari setahun dalam perang saudara yang sudah menewaskan ribuan orang dan memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.

Hingga hari ini, militer Sudan masih tetap menguasai El Fasher. Kota ini telah menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal akibat pertempuran di daerah lain.

Pada 10 Mei, RSF mengintensifkan serangan mereka terhadap kota tersebut, yang disebut oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sebagai babak baru yang mengkhawatirkan dalam konflik Sudan.

MSF mengatakan salah satu Rumah Sakit Selatan yang didukungnya sedang berjuang untuk mengatasi meningkatnya korban jiwa.

"Rumah Sakit South telah merawat 979 korban hanya dalam waktu dua minggu," kata badan amal tersebut pada hari Minggu (26/5).

"Sebanyak 134 orang tewas, sebuah tanda intensitas kekerasan dalam pertempuran."

PBB menggarisbawahi bahwa persediaan di Rumah Sakit Selatan semakin menipis dan hanya akan bertahan selama seminggu.

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Perang Saudara Sudan Terlupakan?

Pada hari Jumat (24/5), MSF mengatakan bahwa di seluruh kota, lebih dari 700 orang telah meninggal selama 10 hari terakhir.

Direktur medis rumah sakit milik pemerintah Arab Saudi di El Fasher menuturkan kepada BBC bahwa situasinya "mengerikan".

"Sejak pagi hari, RSF memulai penembakan artileri, menargetkan kawasan pemukiman, pasar, dan rumah sakit," kata Modther Ibrahim Suliman.

Rumah Sakit Arab Saudi dan Selatan adalah yang terakhir berfungsi di wilayah tersebut.

Rumah Sakit Arab Saudi sebelumnya ditutup akibat kekerasan tersebut, namun sebagian dibuka kembali untuk menangani kasus-kasus darurat.

Warga El Fasher mengatakan akses terhadap makanan dan air semakin sulit. RSF telah menyerang kota dari tiga sisi dan memblokir semua jalur pasokan.

Meskipun mengalami kesulitan, banyak warga di kota tersebut tidak meninggalkan rumah mereka karena pertempuran, bahkan untuk mendapatkan perawatan medis darurat.

Jurnalis Mohamed Zakaria mengatakan dia tidak punya rencana untuk melarikan diri.

"Tidak ada tempat untuk pergi ... Jalannya sangat sulit dan berbahaya saat ini," tutur Zakaria.

Awal pekan ini, seorang pakar PBB memperingatkan warga sipil di El Fasher menjadi sasaran karena etnis mereka.

Penasihat khusus PBB Alice Wairimu Nderitu menambahkan bahwa wilayah Darfur secara keseluruhan menghadapi risiko genosida yang semakin besar karena perhatian dunia tetap terfokus pada perang Ukraina dan Jalur Gaza.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.