Sukses

PM Israel Perintahkan Tentara Bersiap Evakuasi 1,3 Juta Warga Sipil di Rafah

Liputan6.com, Gaza - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berencana melakukan serangan lebih jauh ke Gaza Selatan, dekat perbatasan Mesir, di Rafah.

Serangan yang direncanakan Netanyahu di Rafah, tempat sekitar 1,3 juta orang mengungsi, telah menuai kecaman dari kelompok hak asasi manusia dan Washington, sementara warga Palestina mengatakan mereka tidak punya tempat lagi untuk mundur.

Para saksi mata melaporkan adanya serangan baru di Rafah pada Sabtu (10/2/2024) pagi, setelah militer Israel mengintensifkan serangan udara, dan kekhawatiran meningkat di kalangan warga Palestina akan adanya invasi darat.

"Kami tidak tahu ke mana harus pergi," kata Mohammad al-Jarrah, seorang warga Palestina yang mengungsi dari utara ke Rafah seperti dikutip dari AFP.

Rafah, kota ini merupakan pusat populasi besar terakhir di Jalur Gaza yang belum dimasuki oleh pasukan Israel, namun juga merupakan pintu masuk utama pasokan bantuan yang sangat dibutuhkan.

PM Benjamin Netanyahu mengatakan kepada para pejabat militer hari Jumat (9/2) untuk "menyerahkan kepada kabinet rencana gabungan untuk mengevakuasi penduduk dan menghancurkan batalion" militan Hamas yang bersembunyi di Rafah, kata kantornya.

Departemen Luar Negeri AS mengatakan pihaknya tidak mendukung serangan darat di Rafah, dan memperingatkan bahwa, jika tidak direncanakan dengan baik, operasi semacam itu berisiko menimbulkan "bencana".

Amerika Serikat adalah pendukung internasional utama Israel, yang memberikan bantuan militer miliaran dolar. Namun sebagai tanda rasa frustrasinya yang semakin besar terhadap kepemimpinan Israel, Presiden Joe Biden mengeluarkan kritik terkuatnya terhadap perilaku perang tersebut, dan menggambarkan pembalasan atas serangan Hamas pada 7 Oktober sebagai tindakan yang terlalu berlebihan.

"Saya berpandangan, seperti yang Anda tahu, bahwa tindakan respons di Gaza, di Jalur Gaza, sudah berlebihan,” kata Presiden AS.

"Ada banyak orang tak berdosa yang kelaparan... dalam kesulitan dan sekarat, dan ini harus dihentikan."

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 5 halaman

Mati di Rumah Kita

Warga Palestina yang mengungsi dari kota-kota lain di Gaza telah membanjiri Rafah, di mana ratusan ribu orang tidur di tenda-tenda yang terletak di dekat perbatasan Mesir.

Gambar-gambar AFP menunjukkan pemandangan kehancuran di jalan-jalan Rafah, di mana orang-orang mengantre untuk mendapatkan air yang semakin langka.

Kelompok hak asasi manusia telah memperingatkan kemungkinan adanya serangan darat di sana.

"Serangan darat yang dinyatakan Israel di Rafah akan menjadi bencana besar dan tidak boleh dilanjutkan," kata Doctors Without Borders dalam sebuah pernyataan. "Tidak ada tempat yang aman di Gaza dan tidak ada jalan bagi orang untuk keluar."

Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan pada hari Jumat (9/2) bahwa tiga anak tewas dalam serangan di Rafah.

"Kami mendengar suara ledakan besar di samping rumah kami… kami menemukan dua anak tewas di jalan," kata Jaber al-Bardini, 60 tahun.

"Tidak ada tempat yang aman di Rafah. Jika mereka menyerbu Rafah, kami akan mati di rumah kami. Kami tidak punya pilihan. Kami tidak ingin pergi ke tempat lain," imbuh Jaber al-Bardini.

3 dari 5 halaman

Sekjen PBB :Serangan Israel ke Rafah Meningkatkan Mimpi Buruk Kemanusiaan

Tentara Israel mengatakan pasukannya telah “mengeliminasi 15 teroris” dalam satu hari terakhir di Khan Yunis, kota terbesar di Gaza selatan.

Pasukan Israel juga menggerebek Rumah Sakit Al-Amal di Kota Khan Yunis pada hari Jumat (9/2) setelah pengepungan selama berminggu-minggu, di mana Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan adanya "tembakan artileri yang intens dan tembakan senjata berat".

Organisasi medis tersebut mengatakan pasukan Israel telah menangkap delapan anggota timnya di rumah sakit tersebut, termasuk "empat dokter, serta empat orang yang terluka dan lima pendamping pasien".

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan setiap serangan Israel ke Rafah "akan secara eksponensial meningkatkan apa yang sudah menjadi mimpi buruk kemanusiaan".

Namun kantor Netanyahu mengatakan “tidak mungkin” mencapai tujuan perang untuk melenyapkan Hamas sambil meninggalkan empat batalyon militan di Rafah.

Serangan Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tanggal 7 Oktober mengakibatkan kematian sekitar 1.160 orang di Israel, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel.

Sebagai tanggapan, Israel berjanji untuk memberantas Hamas dan melancarkan serangan udara dan serangan darat yang telah menewaskan sedikitnya 27.947 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, menurut kementerian kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas.​

Militan menyandera 250 sandera, 132 di antaranya masih berada di Gaza, namun 29 orang diperkirakan tewas, kata Israel.

4 dari 5 halaman

Pembicaraan Gencatan Senjata

Wakil juru bicara Departemen Luar Negeri AS Vedant Patel mengatakan operasi darat Israel di Rafah “bukanlah sesuatu yang kami dukung”.

"Melakukan operasi seperti itu sekarang tanpa perencanaan dan sedikit pemikiran... akan menjadi bencana," Patel memperingatkan. "Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga telah menyampaikan kekhawatiran Washington kepada PM Netanyahu secara langsung selama pembicaraan pekan ini di Yerusalem, tambahnya.

Mengenai perundingan gencatan senjata, Blinken menegaskan dia masih melihat "ruang untuk mencapai kesepakatan" untuk menghentikan pertempuran dan memulangkan sandera Israel, bahkan setelah Netanyahu menolak apa yang dia sebut sebagai "tuntutan aneh" Hamas.

Para perunding Hamas meninggalkan Kairo pada hari Jumat (9/2) setelah apa yang digambarkan oleh sumber Hamas sebagai "diskusi positif dan baik" dengan mediator Mesir dan Qatar mengenai gencatan senjata baru di Gaza dan pertukaran sandera dengan tahanan.

"Delegasi meninggalkan Kairo malam ini (Jumat) dan menunggu tanggapan Israel," kata seorang pejabat Hamas yang tidak ingin disebutkan namanya kepada AFP karena dia tidak berwenang untuk berbicara mengenai masalah tersebut.

 

5 dari 5 halaman

Dampak yang Luas

 

 

Dampak perang ini sangat terasa, dengan kekerasan yang melibatkan sekutu Hamas yang didukung Iran di Timur Tengah meningkat sejak bulan Oktober dan juga melibatkan pasukan Amerika Serikat.

Kelompok militan Lebanon yang didukung Iran, Hizbullah, mengatakan pada hari Jumat bahwa pihaknya menembakkan puluhan roket ke posisi tentara di Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel, beberapa jam setelah meluncurkan salvo ke Israel utara.

Serangan hari Jumat terjadi ketika Menteri Luar Negeri Iran Hossein Amir-Abdollahian tiba di Beirut untuk melakukan pembicaraan dengan para pejabat senior.

Karena perang yang sedang berlangsung dan risiko konsekuensi yang lebih luas, lembaga pemeringkat AS Moody's menurunkan peringkat kredit Israel pada hari Jumat, dan juga menurunkan prospek utang Israel menjadi "negatif" karena "risiko eskalasi" dengan Hizbullah.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Video Terkini