Sukses

Nasi hingga Cokelat, 7 Makanan Ini Terancam Langka Akibat Perubahan Iklim

Liputan6.com, Jakarta - Perubahan iklim memaksa umat manusia untuk beradaptasi dengan kondisi kehidupan baru. Dan ketika suhu naik dan cuaca ekstrem menjadi kenyataan baru, petani dan peneliti semakin khawatir tentang masa depan makanan populer.

Ada pendapat bahwa Anda tidak akan bisa membeli beberapa produk yang biasa Anda konsumsi sekarang karena akan menjadi terlalu langka atau mahal.

Dilansir dari laman Bright Side, Rabu (18/5/2022), berikut adalah sejumlah makanan yang mungkin akan langka di masa depan akibat perubahan iklim:

1. Teh

Siapa yang tidak suka bersantai dengan secangkir teh setelah hari yang panjang dan sibuk? Tampaknya kita harus mencari metode lain untuk bersantai dalam waktu dekat. Para ahli menegaskan bahwa sektor teh akan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim jika tidak ada tindakan pencegahan yang diambil. Misalnya, peningkatan kerentanan terhadap serangga atau kualitas daun yang lebih rendah hanyalah beberapa masalah yang akan dihadapi industri. 

2. Madu

Ada studi yang menyebutkan bahwa lebah madu berada dalam bahaya. Ada alasan mendasar yang berbeda, tetapi pemanasan global juga harus disalahkan.

Studi ini menemukan bahwa peningkatan kadar CO2 mengurangi protein dalam serbuk sari, sumber makanan utama di antara lebah. Dalam kasus terburuk, masalah ini dapat menyebabkan mereka sekarat karena mereka gagal mendapatkan nutrisi yang cukup.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

3. Nasi

Tanaman padi juga terancam penurunan 20-40%. Tapi ada masalah penting lain yang bisa dihadapi orang. Menurut artikel ini, nasi bisa menjadi kurang bergizi karena meningkatnya konsentrasi karbon dioksida di atmosfer. Artinya, orang yang mengandalkan beras sebagai makanan utama mereka harus mencari cara untuk menghindari masalah yang mengancam kesehatan.

4. Buah-Buahan

Apel, ceri, dan buah persik adalah simbol musim panas. Tapi kita mungkin harus menggantinya dengan beberapa sayuran yang mampu menahan ancaman pemanasan global.

Misalnya, laporan yang dipimpin oleh University of Melbourne, menunjukkan bahwa musim dingin bisa menjadi terlalu ringan untuk produksi apel. Di sisi lain, panas yang ekstrim dan kerusakan akibat terbakar sinar matahari bisa terlalu parah untuk pohon kebun selama bulan-bulan lainnya. Akibatnya, petani dapat mengharapkan kekurangan dalam kualitas dan jumlah buah.

3 dari 4 halaman

5. Kopi

Perusahaan kopi global terkemuka menyadari risiko parah yang disebabkan oleh pemanasan global. Sekitar 50% dari area global yang cocok untuk produksi kopi terancam terpotong pada tahun 2050. Orang-orang harus menghadapi masalah seperti kenaikan harga, dampak negatif pada rasa dan aroma, dan kekurangan pasokan.

6. Gandum

Tampaknya tanaman ini telah terkena dampak negatif dari perubahan iklim. Artinya roti, bakpao manis, dan aneka makanan panggang bisa menjadi santapan lezat bagi anak-anak kita atau bahkan kita sendiri. Menurut penelitian ini , yang dilakukan oleh Kansas State University, kita berisiko kehilangan setidaknya 1/4 dari produksi gandum global karena setiap derajat kenaikan suhu, memotong sekitar 6% darinya.

7. Cokelat

Meskipun pohon kakao tidak terpengaruh oleh suhu tinggi, mereka membutuhkan curah hujan yang melimpah dan kelembaban yang tinggi.

Namun, menurut  laporan ini, cuaca ekstrem diperkirakan tidak akan disertai hujan lebat. Kondisi ini dapat berdampak negatif pada produksi kakao dan menghasilkan satu juta ton lebih sedikit bubuk, truffle, atau batangan cokelat per tahun.

4 dari 4 halaman

Upaya Atasi Perubahan Iklim

Dampak bencana iklim makin dapat dirasakan di Indonesia. Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) bagian dari Laporan Peninjauan Keenam (AR6) oleh Working Group III IPCC berjudul “Mitigasi Perubahan Iklim” baru saja diluncurkan pada April 2022. Laporan ini menunjukkan bahwa bumi berada pada fast track menuju bencana iklim.

Laporan tersebut mencakup mitigasi yang harus dilakukan untuk mengurangi laju kenaikan suhu global yang akan membawa dunia ke pemanasan 2,7ºC. Hal ini dianggap akan sangat mengancam banyak hal dengan intensitas yang tinggi, terutama di wilayah rentan bencana seperti Indonesia. Dampak ini tentunya akan mengancam masa depan generasi mendatang Indonesia.

CEO Landscape Indonesia Agus Sari mengatakan, krisis iklim yang terjadi tidak dipungkiri saling berhubungan erat dengan pencemaran udara. Ia menuturkan, polusi udara disebabkan oleh gas-gas rumah kaca termasuk juga black carbon yang mampu menutupi permukaan bumi yang cerah.

Selengkapnya di sini....