Sukses

The Matrix: Film Pro-LGBT dari Sutradara Transgender

Liputan6.com, Jakarta - The Matrix kembali menyapa penonton lewat seri keempatnya, yaitu The Matrix Resurrections. Film ini merupakan bagian dari karya dua sineas LGBT di dunia perfilman: Lana dan Lilly Wachowski. 

Lana dan Lilly adalah transgender. Sebelumnya, mereka memiliki gender pria sebelum transisi. Keduanya juga terlibat di film V for Vendetta sebagai penulis naskah.

Ternyata, film The Matrix juga memiliki makna pro-LGBT. Ini dicerminkan melalui karakter bernama Switch yang awalnya didesain memiliki dua gender. 

"The Matrix adalah segalanya tentang keinginan untuk transformasi, tetapi itu datang dari sudut pandang yang tersembunyi," ujar Lilly pada tahun lalu, dikutip BBC.

"Kita memiliki karakter bernama Switch yang merupakan karakter yang menjadi laki-laki di dunia nyata dan kemudian wanita di Matrix," ungkap Lilly.

Namun, waktu itu Lilly merasa industri belum siap terhadap karakter transgender. Akhirnya, Switch tetap menjadi perempuan, meski penampilannya androgini.

Lilly membuka identitas sebagai transgender pada 2016. Sementara, Lana lebih dulu mengungkap ke publik sebagai transgender pada 2010.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Kesuksesan

Lana dan Lilly Wachowski bisa dibilang sebagai sineas paling sukses di kalangan LGBT. The Matrix saja berhasil meraih empat piala Oscar. 

Film-film terkenal lain yang melibatkan kedua bersaudari ini adalah V for Vendetta, Cloud Atlas, dan Jupiter Ascending.

Mereka juga membuat serial fiksi ilmiah Sense8 di Netflix. 

Berkat karyanya di Sense8, Lilly meraih penghargaan dari organisasi Gay & Lesbian Alliance Against Defamation (GLAAD) untuk Outstanding Drama Series